Latest News

Monday, March 30, 2020

Homili Paus Fransiskus pd saat Adorasi n Berkat Urbi et Orbi tadi malam 27Mar2020.


(Diterjemahkan bebas oleh Tita)

Tadi homili Paus bahas ttg bacaan Injil Markus (Mrk 4: 35-42: Angin ribut /taufan diiredakan) ttg murid2 yang bangunin Yesus ketika badai.

Kurang lebih poin2 penting (dan yg Tita ingat) adalah sbb:
1. "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa   kamu tidak percaya?" Iman kita bukan hilang, tapi "tertidur".. Jadi Yesus bangun utk membangunkan lagi iman kita.

2. Paus bicara ttg kondisi saat ini dan hal2 apa saja yg bikin kita "takut" (atau tepatnya khawatir). Misalnya soal pekerjaan (termasuk keuangan) dan ketakutan krn tdk ada kepastian. Skrg ini kita merasakan ada hal2 yg hilang di hidup kita. Tapi justru di dalam kesendirian (isolasi) ini kita diajak menemukan dan merasakan kembali berkat Allah di hidup kita

3. Paus minta kita utk sabar dan terus berpengharapan baik (pnya patience and hope). Kita dipanggil utk jadi teladan sbg murid2 Kristus, berupa stay positive (dgn berpengharapan baik tadi), pnya solidaritas, kepedulian, brotherhood. Kita peduli dan respect orang2 di sekitar kita. Scr khusus td Paus menyebutkan dokter n paramedis, polisi, dan org2 yg msh bekerja utk masyarakat. Mereka sdh meneladani Yesus sbg "savior/penyelamat" manusia.

4. Tahu bhw Tuhan ada itu tidak sulit, tapi yang sulit adlh berani datang ke Tuhan dan percaya (sepenuhnya) pd Tuhan. Paus minta kita utk berani datang dan "memeluk" salib Yesus, minta pertolongan utk membangunkan lagi iman kita, spy tetap berpengharapan baik dlm menghadapi kondisi ini

5. Bumi saat ini sedang sakit, bkn hanya secara fisik tapi juga dari perilaku manusia, spt sikap egois, tdk peduli, serakah, rasa putus asa, dll. Kita harus membebaskan diri dari ini utk memulihkan kehidupan yg sdg sakit ini.

Thursday, March 26, 2020

Kesaksian Orang Yang Terinfeksi Virus Covid-19


Ini ditulis oleh Julian Urban, dokter berumur 38 tahun di Lombardy, Italia.

"Tidak pernah, bahkan dalam mimpi terburukku, aku bisa membayangkan apa yang telah kulihat dan alami dalam tiga minggu terakhir di rumah sakit kami. Mimpi buruk itu seperti sungai yang terus melebar dan melebar. Pada awalnya mereka tiba satu per satu, kemudian mereka mulai datang dengan lusinan, kemudian ratusan dan sekarang kita bukan lagi dokter. *Kami telah menjadi pekerja di sabuk angkut (conveyer belt), memilah dan memutuskan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan dikirim ke rumah untuk mati,* meskipun  semua orang ini telah membayar pajak mereka kepada pemerintah Italia sepanjang hidup mereka.

*Sampai dua minggu yang lalu saya dan rekan kerja saya adalah ateis.* Itu normal bagi kami karena kami adalah dokter dan telah belajar bahwa sains meniadakan Tuhan.  Saya biasa menertawakan orang tua saya yang pergi ke gereja.

*Sembilan hari yang lalu seorang pendeta berusia 75 tahun mendatangi kami.  Dia adalah pria yang ramah, dan memiliki masalah pernapasan serius.  Tetapi dia memegang Alkitab di tangannya dan dia mengesankan kami dengan membacanya kepada orang-orang yang sekarat sambil memegang tangan mereka.*

Kami semua lelah, putus asa, lelah secara fisik dan emosional ketika kami memiliki waktu untuk mendengarkannya. *Sekarang kami harus mengakui: kami  sebagai manusia telah mencapai batas kami.*  Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan dan setiap hari semakin banyak orang meninggal.  Kami kelelahan.  Dua dari kolega kami telah meninggal dan yang lainnya telah terinfeksi.  *Kami mengakui bahwa kami telah tiba pada titik akhir dari apa yang dapat kami lakukan;  kami sungguh membutuhkan TUHAN.*  Kami mulai meminta pertolongan-Nya saat kami punya beberapa menit waktu. Kami berbicara satu sama lain dan *kami tidak percaya bahwa kami, yang sangat ateis, sekarang mencari kedamaian kami dan meminta TUHAN setiap hari untuk menolong kami melawan virus ini untuk membantu orang sakit.*  Kemarin pendeta berusia 75 tahun itu meninggal.  Dia berhasil, meskipun kami memiliki lebih dari 120 orang meninggal dalam 3 minggu terakhir dan kami sangat lelah dan hancur, dan meskipun dia berada dalam situasi yang buruk, untuk membawa kepada kami DAMAI di mana kami telah berhenti untuk berharap.
*Pendeta telah kembali kepada TUHAN dan kami akan mengikutinya segera jika keadaan tidak berubah di sini.*

Sudah 6 hari saya belum pulang rumah. Saya tidak dapat mengingat makanan terakhir saya dan *saya menjadi lebih sadar betapa tidak bergunanya saya di bumi.* Tetapi sekarang saya ingin membantu orang lain sampai napas terakhir saya. *Saya senang telah kembali kepada Tuhan sementara saya dikelilingi oleh penderitaan dan kematian orang-orang yang terinfeksi.*

Kesaksian diposting oleh: Gianni Giardinelli


Original post :
https://www.marcotosatti.com/2020/03/21/the-cry-of-a-doctor-in-lombardy-about-the-virus-death-and-god/

Tuesday, March 24, 2020

Ibadah di rumah itu pernah ada seperti di masa sekarang ini, ditulis di Alkitab kita


Jaman Israel waktu ada tulah maut. Namun yang melindungi adalah Tuhan, disebutkan dalam Keluaran 12:22 - Tuhan melarang ummat Israel keluar rumah. Jadi, ingatlah bahwa Tuhan yang melindungi. Tuhan yang menyuruh mereka tetap tinggal di dalam kemah sampai pemusnah itu lewat di antara.
Jadi Tuhan bisa "membikin" Pemerintah mengeluarkan aturan bahwa ibadah mereka tetap di rumah. Hal itu terjadi karena hikmat dari Tuhan.
Mazmur 91:10 memang mala petaka dan tulah tidak menimpa kita

Ingat .. Corona tidak diciptakan untuk anak Tuhan, tetapi kita harus bijaksana seperti orang Israel malam itu tidak keluar pintu sampai pemusnah diijinkan Tuhan berhenti.

Dalam Ulangan 28:22 dikatakan: suatu ketika batuk kering dan demam tinggi akan memusnahkan manusia tetapi kita tetap tidak tertimpa

Ingat orang Israel itu menurut, jadi selama semalam mereka di dalam rumah, dan tanda darah itu membuat Tuhan membebaskan mereka dari pemusnah

1 Petrus 1:2 Darah Yesus dipercikkan bagi kita anakNya ... jadi tetap bijaksana kalau anda merenungkan Firman Tuhan di rumah (bukan untuk bebas Corona) tetapi untuk melihat Tuhan melewatkan pemusnah dan memuliakan Tuhan. Seperti Paskah Pertama , tahun ini, bulan ini di Paskah 2020 - Tuhan akan melewatkan pemusnah itu seperti Mazmur 91:5-7 - Walau seribu rebah dan 10.000 rebah, kita tidak akan tertimpa. Tapi hendaklah kita bijak seperti orang Israel pada saat itu untuk belajar diam di kemah sampai Corona dilewatkan oleh Tuhan kita

Dituntut bijaksana dan berhikmat dalam kasus ini. Cerdiklah dan selalu tulus.
[https://gerejark.blogspot.com/2020/03/ibadah-di-rumah-itu-pernah-ada-seperti.html]

Tuhan Yesus memberkati
Salam Sehat

+++++++++++++

Mohon teman teman  tidak menganggap ini lelucon πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™tolong sempatkan baca  "MERENUNGKAN PASKAH DARI KELUARAN 12"

Waktu saya merenungkan ayat tentang Paskah yang diawali dengan kematian di seluruh negeri, dan orang Israel diperintahkan Tuhan utk tidak keluar rumah, agar mereka tdk kena tulah itu. 

Tiba2 saya tersentak serasa seperti diingatkan Roh Kudus dengan satu pertanyaan pemikiran: "kita sebentar lagi merayakan Paskah. Tetapi perayaan Paskah yang tidak boleh keluar rumah," karna adanya kematian di mana2. 

Mari kita simak bbrp hal berikut ini:

1. Pada saat membaca ayat yang ke enam, mata saya tertegun pada kalimat "kamu harus mengurungnya sampai hari yang ke empat belas".

Terbersit pertanyaan, bukankah 14 hari itu merupakan jumlah hari ketetapan masa mengurung diri atau yang disebut Social Distancing?. Apakah ini angka kebetulan sama, atau ada maksud pesan tersembunyi dari Allah bagi kita berkaitan dengan Paskah tahun ini?

2. Ayat 15 - 18 berbicara tentang membersihkan seisi rumah dari ragi, dan selama 14 hari itu digunakan untuk melakukan pertemuan kudus dan memakan roti tidak beragi. "Ini berbicara tentang mencari hadirat Tuhan/beribadah dan pengudusan hidup". 
TUHAN ingin di masa 14 hari ini umatNya benar2 hidup kudus.

3. Pada ayat 21-23 Tuhan berbicara tentang ketentuan menyembelih anak domba Paskah dan menyapukan darahnya pada ambang atas dan kedua tiang pintu, dan itu sebagai tanda bagi Tuhan untuk melewati pintu itu dan tidak akan membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumah untuk menulahi. 
Mari kita tanya dalam setiap hati kita, "apakah setiap kita sudah menerima darah anak domba Allah, sebagai tanda keselamatan dari bahaya maut?" (Kel. 12:23, 27). 
Jika belum, ini waktunya bagi saudara untuk "menerima Darah Anak Domba Allah, yaitu Yesus Kristus sebagai darah korban keselamatan kekal bagi hidup kekal saudara."

Ijinkan saya mengajak setiap kita di dalam mempersiapkan hari raya Paskah tahun ini "merenungkan Keluaran 12 ini dengan apa yang terjadi di dunia saat ini".

Saya yakin, kejadian wabah Virus Covid-19 ini bukan kebetulan, karna pasti ada pesan tersembunyi berupa peringatan bagi setiap kita umat tebusanNya. 


"TUHAN, apakah yang akan Tuhan kerjakan bagi umatMu pada peristiwa momen Paskah tahun ini?"πŸ™πŸ˜‡


Saturday, March 21, 2020

Arti Istilah Sehubungan Dengan Kasus Corona


*Istilah dlm Corona Virus Diase (Covid-19)*

1. *ODP* (Orang dlm Pemantauan)

2. *PDP* (pasien dlm pengawasan)

3. *Suspeck* (diduga terkena virus karna sdh menunjukka  gejala dan pernah berkontak atau bertemu dg orang yg positif corona)

4. *Positif* (setelah melalui cek lab dan prosedur lain )

5. *Lockdown* mengunci masuk keluar dari suatu wilayah/daerah/negara

6. *Social Distancing* Menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

7. *Isolasi* Untuk yg sakit. Mengendalikan penyebaran penyakit dg membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit  dari orang yg sakit)

8. *Karantina* Untuk yg sehat.  Mengendalikan penyebaran penyakit dg membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit  ke orang yg sehat)

9. *Work From Home (WFH)* Bekerja dari rumah

10. *Imported Case* Seseorang terjangkit saat berada diluar wilayah dimana pasien melapor

11. *Local Transmission* Pasien tertular diwilayah dimana kasus ditemukan.

12. *Epidemi* Penyebaran penyakit secara cepat dg jumlah terjangkit banyak dan tidak normal. Penyebaran disuatu wilayah.

13. *Pandemi* Penyebaran terjadi secara global.
Terimakasih.

--------------

CORONA VIRUS KE 7 YANG BERBAHAYA, VIRUS KE 8 PALING BERBAHAYA

Beberapa Penyakit Menular Era Modern. Ini penjelasan ringkas beberapa penyakit, yang disebabkan ekspansi virus di era modern.

1. AIDS
AIDS pertama kali ditemukan di Amerika Serikat. Namun asal virus HIV-nya dari Afrika. Konon penyakit ini mulai eksis setelah salah seorang warga di Afrika melakukan hubungan badan dengan seekor monyet. Selanjutnya menulari bule AS. Penyakit ini kemudian berkembang pesat di seluruh dunia pasca mewabahnya perilaku sex bebas.

2. SAPI GILA
Penyakit sapi gila pertama kali ditemukan di Inggris tahun 1986. Mulanya menyerang hewan ternak. Namun kemudian si virus berekspansi menyerang manusia dengan varian baru. Pada manusia, objek yang diserang adalah sistem saraf atau otak. Orang yang terinfeksi penyakit sapi gila umumnya akan kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia akan kesulitan untuk berbicara, berjalan bahkan berdiri.

3. FLU BURUNG
Flu burung adalah penyakit lama. Muncul pertama kali di Italia lebih dari satu abad yang lalu. Mulanya dianggap penyakit biasa karena menyasar hewan ternak yang kurang telaten menjaga kesehatan. Namun kemudian virus H5N1 semakin ngelunjak dan mulai menyerang manusia. Puncak kejayaan penyakit flu burung terjadi tahun 2000-2007.

4. FLU BABI
Sama seperti flu burung, flu babi adalah penyakit yang menyerang pernapasan manusia. Hanya beda kode virus saja. Flu burung H5N1, flu babi H1N1. Flu babi sendiri ditemukan pertama kali tahun 1976 di Amerika Serikat. Namun sudah dikenali sebagai penyakit musiman sejak tahun 1919. Flu babi lalu mulai promo ke berbagai negara dan tercatat menyerang warga Luzon, Filipina tahun 2007.

5. EBOLA
Ebola pertama kali ditemukan tahun 1976 di Kongo, Afrika. Virus berasal dari monyet dan kelelawar pemakan buah. Penderita Ebola akan mengalami kesulitan pembekuan darah. Darah akan mengucur dengan sendirinya dari hidung, mulut atau bekas suntikan. Muntah darah, batuk berdarah, hingga berak berdarah adalah tanda akut dari mengganasnya virus dari tubuh seseorang yang terjangkiti.

6. SARS
Pertama kali muncul di China tahun 2002. Penyakit SARS tergolong mematikan dan menyerang pernapasan manusia. Pemerintah China sempat menutupi epidemi penyakit ini saat pertama kali ditemukan. Namun setelah SARS menyebar diberbagai negara dalam hitungan bulan dengan korban tewas mencapai 775 orang ratusan ribu ternak, barulah pemerintah China membuka diri dan mengajak dunia internasional bersama memeranginya.

7. CORONA
Belajar dari penyakit SARS, pemerintah China enggan menyembunyikan wabah virus yang bermula dari kota Wuhan dan sekitarnya. Mereka mengisolasi kota dan melarang warganya untuk berpergian. Penyakit yang berasal dari virus Corona menyerang sistem pernapasan manusia dengan melumpuhkan fungsi paru-paru. Virus ditengarai berasal dari kelelawar dan ular yang dijual bebas di pasaran. Virus ini sangat mematikan, karena hanya butuh waktu hitungan hari untuk mengakhiri riwayat hidup seseorang.

8. SULB
Penyakit ini diyakini berasal dari Indonesia. Virus sedang diteliti dan diperdebatkan seperti kebiasaan bangsa kita. Gejalanya gampang emosi, selalu merasa khawatir, suka berkelit dan phobia terhadap sosok tertentu. Virus kemungkinan berasal dan berawal dari dompet yang tipis banyak gaya dan sok kaya, Banyak yang mengusulkan agar virus penyakit sosial ini diberi nama SULB.
Tidak mematikan, tapi menjengkelkan
#SULB = (Suka Utang Lupa Bayar)

☕☕☕πŸ˜πŸ€‘

Pesan Indah Bapa Paus Fransiskus


PESAN INDAH DARI PAUS FRANSISKUS

Sungai tidak minum air mereka sendiri; Pohon tidak memakan buahnya sendiri;  Matahari tidak bersinar untuk dirinya sendirinya dan bunga tidak menyebarkan keharumannya untuk dirinya sendiri.

Hidup untuk orang lain adalah aturan alam. Kita semua dilahirkan untuk saling membantu. Tidak peduli betapa sulitnya itu.

Hidup itu baik ketika Anda bahagia;  tetapi jauh lebih baik ketika orang lain bahagia karena kamu.

Mari kita semua ingat bahwa setiap perubahan warna daun itu indah dan setiap situasi kehidupan yang berubah bermakna, keduanya membutuhkan penglihatan yang sangat jelas.

Jadi jangan mengomel atau mengeluh, marilah kita mengingat bahwa nyeri adalah tanda bahwa kita hidup, masalah adalah tanda bahwa kita kuat dan doa adalah tanda kita tidak sendirian!! Jika kita dapat mengakui kebenaran ini dan mengkondisikan hati dan pikiran kita, hidup kita akan lebih bermakna, berbeda, dan berharga!!

https://www.instagram.com/p/B9yhpK-AfHQ/?igshid=10ggn3qnapv9v

++++++++

Mohon disebarkan . . . .

PAUS FRANSISKUS MENYERUKAN AGAR BERDOA ROSARIO PADA PESTA ST. YOSEF (KAMIS) TANGGAL 19 MARET PUKUL 9 MALAM UNTUK MELINDUNGI KELUARGA KITA

Setiap keluarga dan komunitas religius, setiap anggota umat beriman, didesak untuk bergabung dalam doa ROSARIO peristiwa Terang.

Pada akhir audiensi umum 18 Maret, Paus mengatakan dia bergabung dengan inisiatif yang dipromosikan oleh para uskup Italia untuk berdoa Rosario pada pukul 9 malam (waktu Italia) pada 19 Maret, hari raya St. Yoseph.

Mungkin, inisiatif gerakan doa ROSARIO ini akan dilakukan di seluruh dunia, dengan masing -masing zona waktu untuk bergabung dan menciptakan rantai doa.

"Setiap keluarga, setiap anggota umat beriman, setiap komunitas religius: Kita semua bersatu secara spiritual besok (Kamis) pukul 9 malam dalam doa Rosario, Peristiwa Terang.

Maria - Bunda Allah, dan Penyembuh Orang Sakit, kepadamu kami mengarahkan Rosario, di bawah tatapan penuh kasih dari St. Yoseph, Pelindung Keluarga Kudus, dan keluarga kami - bawalah kami kepada Wajah Kristus dan Hati-Nya yang bercahaya dan kami mohon khususnya agar ST. YOSEF melindungi keluarga kita, khususnya mereka yang sakit dan mereka yang merawatnya: dokter, perawat, dan sukarelawan, yang mempertaruhkan hidup mereka dalam pelayanan ini.

Dalam kehidupan, dalam pekerjaan, dalam keluarga, dalam suka dan duka, ia selalu mencari dan mencintai Tuhan, membuat dirinya layak menerima pujian yang diberikan Alkitab kepadanya: seorang yang adil dan bijaksana.

Panggillah dia selalu, terutama di masa-masa sulit, dan percayakan hidupmu kepada Santo besar ini.

Setiap orang harus mengingat kebutuhan untuk memaafkan, kebutuhan akan pengampunan, dan kebutuhan akan kesabaran. ini adalah rahasia belas kasihan: dengan mengampuni, orang dimaafkan."

Paus meminta orang-orang Kristiani untuk mempercayakan diri mereka kepada St Joseph, yang hari raya 19 Maret.

Paus juga mengingatkan umat beriman tentang "24 Jam untuk Tuhan," suatu kesempatan yang masing-masing kita pada Masa Prapaskah ini untuk memohon belas kasihan Tuhan. Tahun ini akan berlangsung pada 20-21 Maret. Dia meminta mereka yang tidak dapat bergabung dengan cara biasa, karena karantina, untuk melakukan tradisi ini melalui doa pribadi.

"Saya mendorong umat beriman untuk mendekati, dengan cara yang tulus, kepada belas kasihan Allah, MELALUI PENGAKUAN DOSA, dan untuk berdoa khususnya bagi mereka yang diuji karena pandemi."

_________
Ps: Bila memungkinkan, teruskan untuk mendaraskan ROSARIO setiap hari, demi perlindungan dan keselamatan jiwa raga kita dari malapetaka.

Diterjemahkan oleh S Katholik
https://www.romereports.com/en/2020/03/18/pope-at-general-audience-invites-christians-to-observe-24-hours-for-the-lord/

±±+++++++++

_*"WABAH INI... MENJADI TANTANGAN KEMANUSIAAN DAN IMAN KITA"*_

PESAN DAN DOA *BAPAK USKUP +IGNATIUS KARDINAL SUHARYO* BERKENAAN DENGAN WABAH CORONA

*SILAKAN KLIK DI SINI:*πŸ‘‡
https://youtu.be/JC0C9_0bIrI

_Jangan lupa klik_ *SUBSCRIBE* (GRATIS),  LIKE & COMMENT.

Mohon *SHARE INFO INI* _ke setiap kontak Anda ya. Terimakasih. Tuhan memberkati Anda sekeluarga. Amin_πŸ™

Friday, March 20, 2020

Virus Corona menurut Alkitab

Fakta: Tidak Ada Nama Rm. Steven Indra Wibowo SJ di Gereja Katedral Jakarta


Fakta: Tidak Ada Nama Rm. Steven Indra Wibowo SJ di Gereja Katedral Jakarta

Ust...Koq Sukanya Berbohong ya..!! Seperti Ini Loh Proses Menjadi Pastor Katolik !!



Ust...Koq Sukanya Berbohong ya..!! Seperti Ini Loh Proses Menjadi Pastor Katolik !!

Pastor Asli Angkat Bicara Tentang Kebohongan Lulusan S3 Vatican Ust. Bangun Samudra


Pastor Asli Angkat Bicara Tentang Kebohongan Lulusan S3 Vatican Ust. Bangun Samudra


Luar Biasa: Hj. Irene Handono Punya Mesin Waktu


Luar Biasa: Hj. Irene Handono Punya Mesin Waktu

Tokoh Muda NTT Ajak Umat Katolik Mendoakan Uskup Ruteng


Tahbisan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat berjalan sesuai rencana meski Indonesia tengah diancaman pandemik corona virus disease 19 (covid-19), Kamis, 19/3.

Perayaan iman Katolik yang banyak menuai pro dan kontra karena momen pelaksanaannya yang dianggap tak tepat itu ditanggapi secara teduh oleh Juventus Prima Yoris Kago, tokoh muda NTT.


"Memang dunia sedang dilanda oleh Covid-19. Itu faktanya, tetapi sebagai umat beriman kita jangan sampai sibuk menyalahkan panitia tahbisan, para Uskup dan Kardinal, para imam dan biarawan-biarawati atas peristiwa tahbisan hari ini," ujar Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia periode 2018-2020 itu.


Juventus mengajak segenap umat Katolik Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur, untuk mendoakan Uskup Ruteng yang baru ditahbiskan itu.

"Mari, sembari kita mewaspadai Covid-19, kita tetap mendoakan bapa Uskup Hormat agar dalam tugas pelayanan dan keimamatannya beliau diberi kebijaksanaan dan kekuatan oleh Roh Kudus untuk menggembalakan umat Allah di Keuskupan Ruteng," imbuh pria asal Maumere, Flores.

Ia juga mengapresiasi kehadiran Ignatius Kardinal Suharyo sebagai selebran utama misa tahbisan itu yang banyak dikecam oleh beberapa media daring dan netizen.

"Saya secara pribadi mengapresiasi sikap berani Romo Kardinal untuk hadir menahbiskan Mgr. Hormat. Ini bentuk tanggung jawab beliau sebagai gembala yang patut diapresiasi. Saya kira tidak fair juga kalo beliau dihujat di media hanya karena memilih untuk hadir di sana tanpa melihat sisi yang lainnya," ujar dia.

Sebelumnya sempat beredar kabar pembatalan misa pentahbisan Uskup Ruteng yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan oleh panitia menyusul surat permohonan pembatalan dari Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Pihak pemerintah provinsi NTT, melalui Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu menjelaskan alasan kegiatan tersebut tetap dijalankan.

"Acara ini sudah dipersiapkan sejak lama, dan untuk mengumpulkan para uskup ini agak sulit. Surat permintaan pembatalan mendadak," kata Jelamu

Marius menambahkan bahwa panitia juga telah membatasi jumlah umat yang hadir dalam misa tersebut dan melaksanakan prosedur pencegahan Covid-19.

"Semula 7.000 namun dibatasi menjadi 1.000an," ungkap Jelamu.

Misa pentahbisan Uskup Siprianus Hormat dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Kardinal Suharyo.

Misa pentahbisan yang digelar di Gereja Katedral Maria Asumpta Ruteng itu dihadiri oleh ribuan umat Katolik, para imam, biarawan-biarawati.(*)


Source:  https://kupang.tribunnews.com/2020/03/20/tokoh-muda-ntt-ajak-umat-katolik-mendoakan-uskup-ruteng.

Editor: Rosalina Woso

---------------------------------------


Berita Terkait 




Umat Islam Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan dukungan bagi penahbisan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat yang ditahbiskan di Gereja Katedral Ruteng, Kamis (19/3/2020).

"Umat Islam di Kabupaten Manggarai yang diwakilkan oleh Madrasah Aliyah Negeri 3 Ruteng berpartisipasi dalam penahbisan Yang Mulia Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat yang dilaksanakan di Gereja Katedral Ruteng, Kamis.

Madrasah Aliyah Negeri 3 sederajat dengan Sekolah Menengah Atas bersama remaja Masjid di Kota Ruteng berpartisipasi dalam penahbisan dengan ikut menjaga keamanan di sekitar Gereja Katedral Ruteng," kata Guru Madrasah Aliyah Negeri II Kabupaten Manggarai, Zulfikar, di halaman Gereja Katedral Ruteng, Kamis (19/3/2020).

Zulfikar menuturkan, partisipasi yang diikuti saat ini untuk membangun kerukunan dan toleransi antar-umat beragama di Kabupaten Manggarai.

 "Kami berharap dengan penahbisan Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, umat beragama di Kabupaten Manggarai terus membina kerukuan dan toleransi di waktu yang akan datang," ujar dia.

Zulfikar berharap, umat beragama di Kabupaten Manggarai terus membangun kerukunan, toleransi antar sesama umat dalam bingkai kebhinnekaan. "Hari ini kami ikut menjaga keamanan serta membawa tarian nusantara dan kasidah kerukunan," ujar dia.
Sementara, terkait penyebaran virus corona, Zulfikar menuturkan semua harus waspada dan berhati-hati agar tidak sampai terjangkit.

 "Kita terus waspada dengan aturan-aturan yang diimbaukan agar terhindar dari virus corona," ujar. Bupati Manggarai, Deno Kamelus mengungkapkan, kurang lebih 1.500 umat Katolik yang hadir dalam misa penahbisan Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat di Gereja Katedral Ruteng.

"Perayaan berjalan dengan aman dan lancar. Setiap umat dicek dengan alat thermogun dan antiseptik di pintu masuk Gereja Katedral Ruteng. Sebanyak 32 uskup dari seluruh Indonesia hadir dalam upacara penahbisan tersebut.

Selain itu, ratusan imam dan suster juga hadir dalam misa penahbisan tersebut," ujar dia.


Source : https://regional.kompas.com/read/2020/03/19/14342251/umat-islam-manggarai-memberikan-dukungan-penahbisan-uskup-ruteng.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur

Editor : Robertus Belarminus

Monday, March 9, 2020

Paus Fransiskus: Jangan Diam! Umat Katolik Harus Bergerak


Pergilah kalian diutus! Kalimat tersebut setiap minggu didengar di penghujung ekartisti saat mengikuti misa harian. Kalimat itu apa maknanya bagi Anda ? Bagi seorang Pastor Felix Supranto, SSCC, Kepala Paroki Gereja Katolik Santa Odillia, Cikupa, perutusan itu dimaknai bahwa dirinya diutus untuk keluar merasul di masyarakat. Terlibat dalam hubungan masyarakat yang plural dan menjadi sebuah pertobatan. Seorang Katolik yang andal, nampak ketika menghadapi masalah di tengah masyarakat, bukan di depan gua Maria atau sakristi. Pastor Ismartono, SJ menyitir ucapan Paus Fransiskus, “jangan merasa menjadi kudus karena kamu lebih banyak berdoa.” Dunia ini adalah ladang Tuhan yang menunggu penggarap. Orang-orang yang kita jumpai di tengah masyarakat adalah ladang garapan. Tidak ada satu tempat pun di mana kita tidak dapat melayani Tuhan, baik dengan mengabarkan Injil atau menyatakan kasih dan pengertian.

Pertanyaannya apakah kita rela turun tangan bekerja di tengah masyarakat yang tuaian banyak namun pekerja sedikit? Kehadiran gereja harus signifikan, relevan, dan bermakna bagi masyarakat. Sesuai Konsili Vatikan II, dunia dipandang positif untuk mencapai kesucian. Kita semua dipangil menunaikan perutusan di dunia, memelihara dan memupuk yang baik dalam masyarakat, memantapkan perdamaian di antara manusia demi kemuliaan Allah. Pergilah, kalian diutus untuk mewartakan kebaikan Tuhan. Keluar dari zona nyaman dan aman. Sejak awal Yesus menginginkan para RasulNya bergerak turun dan masuk dalam duka dan derita jemaat (masyarakat). “Jangan diam!,” demikian seruan Paus Fransiskus. Jadi gereja harus bergerak ke tengah dunia.

Gereja bukan hanya sebuah hierarki. Para umat awam di dalam gereja dipanggil menjadi kudus dan melakukan karya keselamatan, melalui pekerjaan harian mereka sebagai petani, nelayan, karyawan, pebisnis, guru, pelajar atau mahasiswa, pejabat pemerintah, aktivis, politisi, dan sebagainya. Ciri khas awam adalah corak sekular dan corak duniawi tempat mereka hidup. Rasul awam adalah rasul masyarakat. “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Itu artinya semua awam dalam keadaan apapun dipanggil dan wajib menjalankan kerasulan, memiliki kewajiban untuk menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat. Turut berperan aktif merasuki dunia dengan semangat Kristiani.

Source : http://www.st-stefanus.or.id/berita/detail/paus-fransiskus-jangan-diam-umat-katolik-harus-bergerak

SPIRITUALITAS PERKAWINAN


Pengertian 
Spiritualitas berasal dari kata”spiritus” yang berarti Roh, atau bisa kita katakan “yang rohani”. Sebenarnya Spiritualitas perkawinan adalah hal-hal rohani yang mendasari perkawinan Kristiani. Berkat sakramen perkawinan, suami isteri menunaikan kewajiban-kewajiban mereka  sebagai suami isteri di dalam keluarga, mereka diresapi oleh Roh Kristus yang memenuhi hidup keluarga mereka dengan Iman, Harapan dan Kasih. Berbicara spiritualitas berarti kita berbicara tentang religiositas dari perkawinan itu sendiri yang tidak hanya sebagai institusi duniawi, tetapi sebagai institusi rohani karena dikehendaki oleh Allah sendiri.

Spiritualitas Perkawinan

Berbicara tentang spiritualitas, tentu nilai-nilai rohani itu akan semakin terlihat secara nyata dalam kitab suci. Bercermin pada Kitab kejadian 2: 18: “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”, menandaskan bahwa lembaga perkawinan itu didirikan oleh Allah sendiri. Keberadaan wanita sebagai pribadi melengkapi suaminya sudah ditunjukkan dalam kisah tentang penciptaan wanita (Kej 2, 1825 ), dimana wanita diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk laki-laki, mahluk  penolong yang sepadan “Δ“zer” ( Gen 2, 18).
Ketika Allah mengisi kesendirian Adam tidak menciptakan seorang hamba, “ebed”, “serva”, atau orang rumahanāmΓ’, “domestica”, dan  bukan pula seorang budak, Ε‘iphΓ’, “schiava”, tetapi seorang “Δ“zer kΔ•negdΓ΄”.

1.      Allah Sang Kreator Perkawinan

 “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan PENOLONG baginya yang sepadan dengan dia”
Kitab kejadian menunjukkan pentingnya seorang teman yang sepadan dan bisa menjadi penolong, dan itulah peranan seorang isteri/suami. Kehadiran seorang isteri/suami sangat penting dalam mengemban rencana dan proyek Allah yang dipercayakan kepada manusia. Menjadi jelas bahwa keberadaan pria dan wanita dengan segala bentuk relasinya di dalam sebuah keluarga adalah relasi yang komplementer. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Allah menangkap kebutuhan dasar manusia ini, maka Allah berinisiatif untuk menyatukan pria dan wanita dalam institusi keluarga.
  1. “Ezer”: bantuan yang ditawarkan saat kritis dan untuk itu menjadi hal yang menentukan & diperlukan. Pasanganku adalah penolong dalam hidup-ku. Bersama pasangan, hidupku dimudahkan ketika ada kebersamaan dalam untung &malang 
  2. “Neged” : secara harafiah berarti “berhadapan”. Biasanya diartikan: sama atau sepadan. Maknanya adalah suatu kenyataan bahwa manusia memerlukan seorang “kamu” dalam kehidupannya. Pasangan hendaknya bertumbuh dalam relasi inter-personal dalam kehidupan mereka melalui sharing yang jujur, keterbukaan hati dan kesadaran bahwa satu sama lain saling membutuhkan.

2.      Perkawinan sebagai Sakramen

Yang dimaksud dengan sakramen adalah tanda dan sarana kehadiran Allah. Hidup perkawinan diangkat oleh Allah untuk menggambarkan cinta Allah kepada manusia. Karena perkawinan itu menjadi gambaran dari Cinta Kristus kepada manusia, maka spirit atau roh nya adalah cinta kasih Kristus yang total. Persoalannya adalah: jika terjadi bahwa keluarga yang dibangun secara katolik bercerai dan hancur: manakah tanda sakramentalitas itu? Kehidupan keluarga dan perkawinan sering digunakan dalam Kitab Suci untuk menggambarkan relasi antara Allah dan umatnya. 
  1. Secara khusus dalam Hosea 1-3 menggambarkan hubungan seksual nabi dengan wanita pendosa. Persekutuan adalah sebuah kontrak, dimana semua pihak diajak untuk setia.  Makna kontrak ini nampak dalam ungkapan Umatku dan Allahku ( Hosea 2,25). Cinta dalam perkawinan ditemukan dalam refleksi cinta Allah kepada umat.
  2. Dalam surat pada jemaat di Efesus 5, 21-33, Paulus membicarakan hak dan kewajiban. Kewajiban suami adalah mencintai isterinya seperti dirinya sendiri. Maka tidak membenci sifat daging seperti seks. Tunduk diartikan bukan menjadi hamba tetapi ketaatan pada cinta, karena model cinta suami isteri adalah Kristus sendiri. Amanat moral yang berasal dari codice domestica adalah semangat “menjadi satu daging”yang menjadi tanda kesatuan Kristus dengan Gereja.

3.      Perkawinan itu Kebersamaan seluruh hidup: MONOGAMI dan TAK TERCERAIKAN

”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan BERSATU dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging”. Demikianlah mereka bukan lagi dua
melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” ( Mat 19:5-6)

Tuhan Yesus jelas-jelas menolak perceraian (Mrk 10 dan  Mat 5+19; Luk 16).

Menurut Yesus,  sejak awal (Kej 1-2) Allah menghendaki  adanya kesatuan yang kuat antara suami dan  isteri. MenurutNya, nabi Musa mengijinkan perceraian  hanya karena  “ketegaran hati”  umat Israel (Mrk 10 dan Mat 19).   Gereja katolik setia mewartakan ajaran moral  Tuhan Yesus dan Paulus tentang perkawinan dan keluarga dengan rumusan  yang lebih eksplisit, bahwa cirri perkawinan adalah Monogam dan tidak terceraikan.  
Hal ini menandaskan bahwa spiritualitas yang dibangun adalah kebersamaan seluruh hidup, dimana suami dan isteri dituntut untuk SETIA dan  mempunyai KOMITMEN dalam perkawinan. 

4.      Cinta kasih (Agape) : Dasar Perkawinan

Perkawinan dibangun atas dasar cinta kasih seorang pria dan wanita yang diberikan secara bebas, sungguh dan penuh kesadaran. Tanpa cinta kasih mustahil bahwa perkawinan itu akan terbentuk dan membawa kebahagiaan. Cinta itu memadukan segi manusiawi dan ilahi mengantar suami isteri pada serah diri bebas dan timbal balik, yang dibuktikan dengan perasaan dan tindakan mesra serta meresapi seluruh hidup mereka. ( Gaudium et Spes 49). Konsili memahami bahwa dalam mengatur hidup perkawinan secara laras serasi, suami-isteri sering dihambat oleh berbagai situasi hidup  jaman sekarang. Kesetiaan cinta kasih dan penuhnya persekutuan hidup sering tidak mudah dipertahankan. Bila kemesraan hidup terputus, tidak jarang nilai kesejahteraan terancam  dan kesejahteraan anak dihancurkan. Ciri dari kasih suami istri dalam sebuah perkawian menurut Paulus XVI: manusiawi secara penuh, total, kesetiaan dan subur ( Bdk. GS 51)

5.      Keluarga sebagai Ecclesia Domestica

Keluarga merupakan GEREJA DOMESTIK, inti dari keluarga adalah anak-anak Allah, dan mengambil bagian dalam misi dan perutusan Gereja untuk membangun TATA HIDUP BARU “. Sebagai Gereja kecil, keluarga mempunyai tugas imamat keluarga untuk menguduskan anggota keluarga melalui doa bersama, tugas kenabian dengan mewartakan kebaikan dan kebenaran, serta tugas rajawi dengan memimpin seluruh anggta keluarga pada jalan kebenaran dan keselamatan.

Mengurus Pernikahan Di Gereja Katolik


Kebanyakan wanita pasti memiliki pernikahan impian, baik itu dari segi model gaun yang akan dikenakan, adat apa yang dipilih, ataupun tema tertentu yang memang memberikan memori tersendiri bagi mereka. Ada juga calon pengantin yang memiliki mimpi untuk menikah di gereja tertentu. Akan tetapi pernikahan di gereja Katolik tidak bisa dilakukan kapan saja karena ada masa di mana gereja tidak boleh memberikan Sakramen Pernikahan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui cara mengurus pernikahan di Gereja Katolik. Yuk, simak selengkapnya!

Hari ini, The Bride Dept akan membahas tentang tata cara pengurusan pernikahan di Gereja Katolik yang pastinya akan memudahkan kamu sebelum memasuki proses tersebut.

Daftarkan diri kamu dan pasanganmu untuk ikut Kursus Persiapan Pernikahan

Pernikahan secara Katolik harus dimulai dengan mengikuti kursus pernikahan, biasanya diikuti minimal 6 bulan sebelum pemberkatan pernikahan. Hal yang kamu harus lakukan adalah datang ke salah satu Gereja Katolik dengan membawa :

Surat Pengantar dari Lingkungan Masing-masing
Jadi apabila kamu berasal dari paroki Gereja Katolik A dan pasangan kamu berasal dari Paroki Gereja Katolik yang berbeda , maka kamu harus meminta surat pengantar dari Paroki Gereja masing-masing.

Fotokopi Surat Baptis
Fotokopi Akte Kelahiran
Fotokopi Kartu KK Gereja Katolik masing-masing lingkungan
Petugas gereja akan mencarikan jadwal kursus yang masih available. Setelah mendapatkan jadwal dan lokasi kursus, kamu harus membayarkan biaya pendaftaran yang biasanya berdasarkan kebijakan masing-masing gereja.

Mengikuti kursus persiapan pernikahan bersama pasanganmu

Pada umumnya kursus akan dilakukan selama tiga hari pada akhir pekan. Materi dari kursus tersebut seputar tentang pengenalan diri, ekonomi, sex, kehidupan berkeluarga, dan perencanaan masa depan. Setelah kamu mengikuti kursus ini, kamu akan mendapatkan sertifikat yang nantinya harus kamu bawa ke Gereja pada saat mendaftarkan pernikahan kamu.

Mendaftarkan diri untuk penyelidikan Kanonik

Langkah selanjutnya setelah kamu mengikuti kursus adalah pendaftaran diri untuk Penyelidikan Kanonik. Jangan takut dengan kata penyelidikan, karena ini hanya berupa wawancara dengan pastor/ romo mengenai kesiapan kedua calon pengantin untuk memasuki tahap pernikahan yang sesungguhnya. . Biasanya sang pastor/romo akan bertanya mengenai kesiapan batin dan mental masing-masing pasangan dalam memasuki kehidupan rumah tangga.

Oh ya, jangan lupa membawa dokumen-dokumen berikut ya:

Surat pengantar dari lingkungan masing-masing (asli)
Surat baptis yang sudah diperbarui minimal 6 bulan sebelumnya (asli)
Fotokopi sertifikat Kursus Persiapan Pernikahan. Jangan lupa bawa yang asli ya untuk diperlihatkan kepada petugas gereja
Fotokopi Kartu KK Gereja Katolik dari masing-masing lingkungan
Fotokopi akte kelahiran calon pengantin
Fotokopi KTP calon pengantin
Pas photo berdampingan 4×6 sebanyak 4 lembar (pria harus di sebelah kanan ya)
Untuk kamu yang memiliki pasangan non-Katolik, kamu harus menyediakan 2 saksi pada saat penyelidikan Kanonik. Saksi tersebut harus benar-benar mengenal calon pengantin non-Katolik agar bisa menjelaskan bahwa orang tersebut belum pernah menikah dan tidak sedang terkena halangan menikah atau halangan-halangan pernikahan lainnya.

Untuk pasangan yang sama-sama beragama Katolik, maka Kursus Persiapan Pernikahan dan Penyelidikan Kanonik akan mengikuti paroki calon pengantin wanita. Akan tetapi jika kedua mempelai ingin diberkati di Gereja yang bukan asal dari masing-masing, maka dibutuhkan surat pengantar dari Kepala Pastor Paroki setempat agar bisa “numpang” nikah di gereja yang dipilih.

Pada saat pendaftaran Penyelidikan Kanonik, kamu bisa langsung mendaftarkan untuk catatan sipil. Nantinya petugas gereja akan membantu kamu dalam hal ini. Surat-surat yang harus kamu bawa adalah :

Fotokopi surat baptis terbaru dan fotokopi surat nikah gereja
Fotokopi Akte Kelahiran
Fotokopi KTP
Fotokopi Kartu Keluarga yang dilegalisir oleh kelurahan
Fotokopi Surat Keterangan Menikah dari kelurahan
Foto Calon Mempelai berdampingan 4×6 sebanyak 5 lembar
Fotokopi KTP Saksi Perkawinan
Pendaftaran tanggal pernikahan

Pendaftaran tanggal pernikahan ini bisa dilakukan pada saat kamu mendaftarkan Kursus Persiapan Pernikahan. Hal lain yang perlu diingat adalah kebanyakan Gereja Katolik tidak menerima pemberkatan pernikahan pada masa Advent dan Prapaskah. One of our readers, Lusia, harus merelakan mimpinya untuk menikah di Gereja Katedral Jakarta karena perihal masa-masa blackout Gereja. So brides, jangan lupa untuk melakukan research mengenai jadwal yang available.

Membayar biaya kepada pengurus Gereja

Biaya yang dikeluarkan variatif tergantung dari kebijakan masing-masing gereja. Biaya wajib yang harus dikeluarkan adalah biaya listrik dan air conditioner. Lalu juga ada biaya persembahan pada saat misa berlangsung berupa buah, bunga, dan bunga persembahan untuk di Goa Maria.

Biasanya untuk penambahan dekorasi di dalam Gereja/ Chapel harus mengikuti peraturan Gereja yang ada. Selain itu umumnya Gereja juga memiliki dekorator yang telah ditunjuk jika ingin memberikan dekorasi tambahan. Namun ini bersifat optional karena akan ada biaya – biaya tambahan lainnya , tergantung dari permintaan calon pengantin.

Nah, setelah mengurus semuanya, jangan lupa juga untuk mencetak buku misa yang nantinya akan digunakan pada saat pemberkatan kamu. Buku misa tersebut harus disetujui oleh romo/ pastor yang akan memberkati kamu dan pasanganmu. Hal ini disebabkan adanya peraturan baru dalam pemilihan lagu-lagu gereja yang akan mengiringi pemberkatan pernikahanmu. Bagi pasangan-pasangan yang ingin menikah di Bali, pemberkatannya wajib dilaksanakan di gereja Katolik yang berlokasi di Bali.

Good luck brides-to-be on your preparation!

Source : http://www.st-stefanus.or.id/berita/detail/mengurus-pernikahan-di-gereja-katolik

PERNIKAHAN CAMPUR BEDA AGAMA (dalam pandangan Katolik)


Pernikahan, atau perkawinan, adalah persatuan keseluruhan hidup sepasang laki-laki dan perempuan. Dengan titik-tolak ini, dapatlah dikatakan bahwa pernikahan pada dasarnya adalah sebuah kata kerja, bukan kata benda. Pernikahan adalah sebuah proses, bahkan proses yang sangat panjang, dengan segala jatuh bangunnya, karena masing-masing pribadi mempunyai keunikan. Dalam banyak pernikahan, keunikan-keunikan itu tidak bisa sepenuhnya bisa dipadukan atau dikompromikan. Supaya bisa menolong pasangan untuk bisa mengelola perbedaan itu pulalah Gereja Katolik merumuskan hukumnya tentang perkawinan (sebagai salah satu bagian kecil dari Kitab Hukum Kanonik 1983), yang secara tidak langsung didasarkan pada Alkitab yang sudah ’ditafsirkan’ secara lebih modern dalam Konsili Vatikan II pada tahun 1962-1965. Karena itu, dalam tulisan singkat ini acuan alkitabiah-nya sudah diandaikan. 
Salah satu perbedaan yang sering terjadi dan menyulitkan pasangan dalam membina kebersamaan seluruh hidup adalah perbedaan keyakinan, yang sering tidak terhindarkan karena pluralitas sosiologis masyarakat. Dalam paparan singkat ini  akan diuraikan pandangan dasar (yuridis) tentang pernikahan dalam pandangan Katolik, dan dengan dasar itu pernikahan campur beda agama akan disikapi, khususnya dalam konteks Indonesia dan kaitannya dengan undang-undang nomor 1/1974 tentang perkawinan.

Pandangan Dasar tentang Pernikahan
Kanon (pasal) dalam KHK (Kitab Hukum Kanonik) 1983 tentang pernikahan atau perkawinan, dimulai dengan kanon 1055 § 1 yang berbunyi:
Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen
KHK 1983, berbeda dengan KHK 1917, memakai kata ’perjanjian’ bukan kontrak. Dengan kata itu mau digarisbawahi aspek dinamis dari sebuah pernikahan.  Secara implisit dikatakan bahwa pernikahan adalah kata kerja, karena pernikahan adalah sebuah proyek berdua antara laki-laki dan perempuan yang sepakat untuk saling mencintai dan saling memberikan diri. Pernikahan bukan sekedar hidup bersama berdua. Karena itu lalu bisa diibaratkan sebagai naik sepeda tandem berdua. Dalam kerangka inilah ada beberapa catatan penting.
Dalam klausul ’seorang laki-laki dan seorang perempuan’ bisa termaktub tiga catatan penting.
  • Pertama, yang bisa menikah hanyalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Secara tidak langsung pun dikatakan bahwa dalam keyakinan Katolik hanya ada dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini akan sangat berkaitan dengan keterbukaan pada kelahiran anak sebagai salah satu tujuan perkawinan. Karena itu, tidak dimungkinkan pernikahan orang yang berjenis kelamin sama.
  • Kedua, yang menikah adalah dua orang dewasa, masingmasing sebagai pribadi yang utuh dan sehat secara jasmani dan rohani. Yang satu berjanji menerima pribadi yang lain, juga secara utuh. Dengan kata lain, janji perkawinan itu diucapkan yang satu terhadap yang lain, dari pribadi yang satu ke pribadi yang lin, person to person, yang diandaikan diucapkan dengan bebas
  • Terkait erat dengan hal ini, catatan penting yang ketiga adalah bahwa kedua pribadi itu dipandang setara. Laki-laki tidak lebih tinggi daripada perempuan, dan karena itu tidak mempunyai hak dan kewajiban yang lebih banyak. Bahkan, sangat jelas bahwa dalam KHK 1983 tidak dikatakan bahwa laki-laki harus menjadi kepala rumah tangga. Dalam kanon 1135 dikatakan bahwa ” Kedua suami-istri memiliki kewajiban dan hak sama mengenai hal-hal yang menyangkut persekutuan hidup perkawinan.”
Catatan ke empat pada klausul ’membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup’ menggarisbawahi dimensi kesalingan antara laki-laki dan perempuan yang menjanjikan cinta itu. Kesalingan itu sangat terkait dengan pernikahan sebagai ’proyek berdua’ yang telah disebut diatas, dan masing-masing menyerahkan seluruh hidupnya. Keutuhan hidup yang dimaksud adalah keutuhan dalam dimensi ruang maupun waktu. Dalam dimensi ruang, masing-masing memberikan seluruh dimensi hidupnya, baik itu tubuhnya, jiwanya, maupun rohnya. Dengan kata lain, pernikahan tidak hanya menjadi sebuah hubungan fisik (seksual), melainkan juga ada keselarasan psikis dan juga spiritual. Lalu, dalam dimensi waktu, keutuhannya diwujudkan dalam pemberian diri seumur hidup. Itulah sebabnya, dalam pandangan Gereja Katolik, pernikahan itu bersifat monogam eksklusif dan tak terceraikan seumur hidup, yang ditekankan dalam kanon 1056 , ”Ciriciri hakiki (proprietates) perkawinan ialah unitas (kesatuan) dan indissolubilitas (sifat tak-dapat-diputuskan), yang dalam perkawinan kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen.”

Catatan selanjutnya terkait dengan klausul selanjutnya, yaitu ”yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak.” Klausul ini didahului dengan frase ’yang menurut ciri kodratinya’, yang berarti – sebagai catatan kelima- bahwa tujuan perkawinan itu sudah ada sejak semula, sejak manusia diciptakan Tuhan. Tujuan pernikahan itu tentang kesejahteraan pasangan dan kelahiran serta pendidikan anak tidak ditetapkan oleh Gereja.
Catatan keenam, kedua tujuan tadi adalah tujuan ganda. Artinya, keduanya terkait erat, tidak bisa dipisahkan, dan juga tidak ada hirarkhinya, atau tidak ada yang lebih utama dari yang lain. Dengan menempatkan tujuan ’kesejahteraan pasangan’ lebih dahulu daripada tujuan ’kelahiran dan pendidikan anak’ Gereja tidak mengatakan bahwa yang pertama lebih tinggi daripada yang kedua, meski –perlu dicatat- mengubah pandangan lama yang menempatkan kelahiran anak sebagai tujuan pertama pernikahan.
Catatan ketujuh, kesejahteraan pasangan yang dimaksud, selaras dengan pandangan keutuhan hidup yang disebut di atas, berarti kesejahteraan dalam seluruh dimensi, baik itu kesejahteraan material dan fisik, kesejahteraan psikis maupun kesejahteraan rohani/spiritual. Demikian halnya dengan makna pendidikan anak yang juga menjadi tujuan perkawinan. Pendidikan disini bukan hanya pendidikan dalam arti formal, melainkan juga pendidikan rohani. Dengan kata lain pun, alam bahasa Katolik, pernikahan sebagai sakramen adalah sebuah sarana keselamatan jiwa pula.

Dari pandangan-pandangan itu, tampak jelas bahwa pernikahan idealnya adalah sungguh saling pemberian diri supaya pasangannya sungguh berkembang sebagai pribadi. Pandangan Gereja Katolik yang mengatakan bahwa pernikahan adalah sakramen, seperti ditegaskan dalam frase berikutnya (’oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen’) didasari pandangan ini. Yang semakin ditegaskan dalam kanon 1055 § 2 yang mengatakan, ”Karena itu antara orang-orang yang dibaptis, tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya sakramen.” Hal ini berarti bahwa perkawinan antara seorang yang dibaptis secara Katolik atau diterima di dalamnya dengan seorang dari Gereja Kristen juga menjadi sakramen.
Bahwa yang disebut sakramen hanya antara dua orang dibaptis tentu terkait dengan pendasaran teologis bahwa Kristus adalah sakramen keselamatan dunia dan murid-murid Kristus dipanggil untuk mewartakan kasih Allah yang ’menjelma’ dalam diri Kristus. Karena itu pula, rumusannya adalah ’kedua pasangan saling menerimakan sakramen perkawinan.’ Yang memberi sakramen adalah pasangan itu sendiri, bukan pastor yang memberkatinya. Dalam tata peneguhan pernikahan Katolik, pastor hanyalah ’saksi resmi’ (sebagai pejabat) Gereja yang menanyakan kesepakatan, disamping ada dua saksi lain adalah sah.
Meski begitu, pemahaman makna sakramental (tidak dalam pengertian sempit yuridis-teologis) bisa dipahami dalam arti yang lebih luas. Mengacu bahwa makna dasar sakramen adalah tanda dan sarana cinta Tuhan, pernikahan berarti bahwa suami menjadi tanda cinta Tuhan bagi isteri dan isteri menjadi tanda cinta Tuhan bagi suami. Karena cinta itu menghidupkan, harapannya adalah bahwa kehadiran suami menghidupkan isteri dan begitu sebaliknya. Makna (quasi) sakramental ini tentunya bisa diberlakukan juga pada pasangan beda agama.
Dengan kata lain, dalam pandangan Katolik pernikahan mengandung makna teologis yang sangat dalam. Pernikahan bukanlah sekedar kontrak sementara, yang jika disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan kontrak bisa diputus. Pernikahan juga bukan main-main atau usaha coba-coba. Karena itulah Gereja Katolik menuntut persiapan yang matang dan juga persyaratan yang cukup banyak sebagai salah satu bentuk menguji kesungguhan itu, meski kadang dipandang terlalu berbelit dan merepotkan. Ada makna yang mendalam dalam persyaratan yang tidak sedikit itu. Pun, persyaratan ini masih harus dilengkapi dengan sebuah penyelidikan kanonik, yaitu pertemuan seorang pastor sebagai pejabat Gereja dengan masing-masing calon untuk ditanyai berbagai hal yang menyangkut persyaratan-persyaratan itu.

Pernikahan Campur

Dari pandangan di atas, cukup jelas bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang bersifat sakramen, yang –seperti tadi dikatakan- berarti di antara dua orang yang dibaptis, terlebih yang dibaptis atau diterima dalam Gereja Katolik. Yang ideal ini tidak serta-merta satu-satunya kemungkinan. Meski tidak ideal, Gereja memberi kemungkinan adanya pernikahan campur, dengan segala persyaratannya. Meski dispensasi untuk pernikahan campur beda agama ini sudah cukup lama dipraktekkan, kemungkinan itu makin bisa dipertanggungjawabkan secara teologis terutama sejak Konsili Vatikan II dan juga mengingat situasi sosiologis masyarakat. Dalam pandangan teologis, Gereja Katolik tidak lagi mau memonopoli kebenaran iman dan keselamatan seperti terungkap dalam jargon lama yang berbunyi ”Extra ecclesiam nulla salus” yang berarti di luar Gereja (Katolik) tidak ada keselamatan. Sejak Konsili Vatikan II ada pandangan yang berubah dari Gereja Katolik terhadap gereja-gereja Kristen lain. Mereka dipandang sebagai saudara, eukomenisme. Sementara itu, Gereja Katolik juga mengakui bahwa ada juga keselamatan dalam agama lain. Kemudian, secara sosiologis, Gereja Katolik juga makin realistis bahwa dalam masyarakat ada pluralitas agama. Artinya, kemungkinan seorang Katolik jatuh cinta dan mau menikah dengan orang yang tidak Katolik tidak bisa dihindari seratus persen. Hal ini makin sulit dicegah ketika sarana komunikasi modern makin mempermudah perjumpaan manusia yang berbeda jenis kelamin.
Dalam khasanah Gereja Katolik, yang dimaksud pernikahan campur adalah pernikahan beda gereja dan beda agama.
Pernikahan campur beda gereja, dengan mendasarkan pada kanon 1124, adalah pernikahan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima didalamnya setelah baptis, dengan seorang anggota Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Yang dimaksud dengan ’Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik’ adalah gereja-gereja Kristen atau juga gereja ortodoks yang tidak mengakui kepemimpinan Paus di Roma. Untuk konteks Indonesia, itu adalah gereja-gereja Kristen, baik yang tergabung dalam PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) maupun yang tidak tergabung, serta beberapa komunitas Katolik Ortodoks. Dalam hal ini, Gereja Katolik mengakui sah-nya baptis mereka, asal bersifat trinitarian (dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus) dan dibaptis dengan air. Untuk pernikahan dengan mereka, diperlukan ijin dari otoritas Gereja yang berwenang. Dalam hal ini adalah Uskup atau yang ditunjuk olehnya.
Pernikahan campur yang kedua adalah pernikahan campur beda agama. Merujuk ke kanon 1086 § 1, yang dimaksud adalah pernikahan antara dua orang, yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya dan yang lain tidak dibaptis. Yang dimaksud orang yang tidak dibaptis berarti orang yang beragama selain Kristen/Katolik, termasuk mereka yang mengikuti aliran kepercayaan dan juga yang menyatakan diri tidak beragama. Pada dasarnya, pernikahan ini dilarang, meski, sesuai kanon 1086 §2,dimungkinkan adanya dispensasi, setelah memenuhi beberapa persyaratan.

Sebenarnya, bobot ’larangan’ antara pernikahan campur beda gereja dan campur beda agama berbeda. Hal itu tampak dari perbedaan istilah yang dipakai. Untuk pernikahan campur beda gereja ’hanya’ dibutuhkan ijin dari otoritas gerejawi, sedang untuk pernikahan beda agama dibutuhkan dispensasi. Dalam pengertian yuridis, dispensasi berarti pembebasan dari hukum, dan secara implisit mengandaikan bahwa larangannya lebih berat. Meski begitu, seperti disebut dalam kanon 1086 § 2 tadi, secara umum persyaratannya tidak jauh berbeda. Dua kanon secara eksplisit menyebutkan syarat-syarat didapatkannya baik ijin maupun dispensasi itu.

Kanon 1125 - Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja katolik;
  2. mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik; 
  3. kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya

Kanon 1126 - Adalah tugas Konferensi para Uskup untuk menentukan baik cara pernyataan dan janji yang selalu dituntut itu harus dibuat, maupun menetapkan cara hal-hal itu menjadi jelas, juga dalam tata-lahir, dan cara pihak tidak katolik diberitahu.

Sehubungan dengan syarat yang diminta, yang perlu digaris-bawahi adalah jaminan bahwa pihak Katolik tidak akan meninggalkan Gereja atau berpindah agama. Hal ini tentu saja wajar karena Gereja ingin menjamin agar umatnya menjaga, dan bahkan memupuk imannya sebaik-baiknya. Perlu diingat bahwa pernikahan sebagai persatuan dua pribadi yang unik memerlukan kemampuan untuk saling berkompromi, sementara banyak ajaran agama tidak bisa dikompromikan karena truth claim masing-masing. 
Syarat kedua ini dijanjikan oleh pihak yang Katolik dengan menandatangani formulir yang telah disiapkan dan akan dilampirkan dalam permohonan ijin/dispensasi. Dalam hal ini, pihak yang tidak Katolik memang diminta ikut menandatangani, tetapi dalam status mengetahui. Artinya, dia mengetahui janji pihak Katolik kepada Gereja. Pihak yang tidak Katolik tidak perlu ikut berjanji.

Selain itu, ada beberapa syarat yang terkait dengan kondisi khusus dari pihak yang Katolik, baik kondisi yang lebih bersifat personal maupun yang bersifat sosial. Dalam lembar permohonan dispensasi yang diajukan pihak Katolik bersama pastor paroki kepada otoritas gerejawi yang berwenang, ditulis beberapa contoh. Beberapa alasan yang bisa menyertai pengajuan itu antara lain: sulit menemukan jodoh lain, bahaya menikah di luar Gereja, mengesahkan nikah yang telah diteguhkan di luar Gereja, pergaulan terlalu erat atau telah tinggal serumah, pihak wanita telah mengandung, wanita sudah superadulta (atau bahasa umumnya ’perawan tua’), menghindari percekcokan dalam keluarga, calon mempelai miskin, menghindari sandungan, dan telah berjasa besar bagi masyarakat/Gereja.

Jika persyaratan ini sudah dipenuhi dan kemudian ijin atau dispensasi diberikan, pasangan yang berbeda gereja/agama itu bisa menikah di depan pastor Katolik dan dua saksi. Itu syarat yang paling pokok, dan itulah yang disebut dengan tata peneguhan kanonik seperti yang telah disebut dalam kanon 1108 di atas. Hal yang lain, lebih bersifat sekunder, meski untuk tempat, Gereja Katolik mengaturnya dengan mengatakan dalam kanon 1115 bahwa
Perkawinan hendaknya dirayakan di paroki tempat salah satu pihak dari mempelai memiliki domisili atau kuasidomisili atau kediaman sebulan, atau, jika mengenai pengembara, di paroki tempat mereka sedang berada; dengan izin Ordinaris atau pastor parokinya sendiri perkawinan itu dapat dirayakan di lain tempat.
Hal yang sama juga berlaku untuk pernikahan campur, seperti dikatakan dalam kanon 1118 bahwa 
§ 1. Perkawinan antara orang-orang Katolik atau antara pihak Katolik dan pihak yang dibaptis bukan Katolik hendaknya dirayakan di gereja paroki; dapat dilangsungkan di gereja atau ruang doa lain dengan izin Ordinaris wilayah atau pastor paroki.
§ 2. Ordinaris wilayah dapat mengizinkan perkawinan  dirayakan di tempat lain yang layak.
§ 3. Perkawinan antara pihak Katolik dan pihak yang tidak dibaptis dapat dirayakan di gereja atau di tempat lain yang layak. 
Kanon ini memberi kemungkinan untuk meminta ijin diberkatinya suatu pernikahan di tempat lain yang bukan Gereja Katolik, misalnya di suatu gereja Kristen lain, dengan diberkati bersama pendeta dan kesepakatan nikah ditanyakan oleh seorang pastor Katolik. Tentang kemungkinan ini, ijin bisa dimintakan pada pastor paroki saja.
Dalam situasi yang lebih berat, otoritas gerejawi (ordinaris wilayah) bisa juga memberikan dispensasi dari tata peneguhan Kanonik, asal prosedur dan pencatatannya tetap dilakukan juga di Gereja Katolik. Hal ini dikatakan dalam kanon 1121 § 3

Mengenai perkawinan yang dilangsungkan dengan dispensasi dari tata peneguhan Kanonik, Ordinaris wilayah yang memberikan dispensasi hendaknya mengusahakan agar dispensasi dan perayaan dicatat dalam buku perkawinan baik kuria maupun paroki pihak Katolik, yang pastor parokinya melaksanakan penyelidikan mengenai status bebasnya; mempelai yang Katolik diwajibkan secepat mungkin memberitahukan perkawinan yang telah dirayakan kepada Ordinaris itu atau pastor paroki, juga dengan menyebutkan tempat perkawinan dirayakan serta tata peneguhan publik yang telah diikuti.

Hal ini dipertegas dalam kanon 1127 § 2 yang menyebutkan bahwa
Jika terdapat kesulitan-kesulitan besar untuk menaati tata peneguhan Kanonik, Ordinaris wilayah dari pihak Katolik berhak untuk memberikan dispensasi dari tata peneguhan Kanonik itu dalam tiap-tiap kasus, tetapi setelah minta pendapat Ordinaris wilayah tempat perkawinan dirayakan, dan demi sahnya harus ada suatu bentuk publik perayaan; Konferensi para Uskup berhak menetapkan norma-norma, agar dispensasi tersebut diberikan dengan alasan yang disepakati bersama.
Kemungkinan dispensasi ini disebutkan disini juga supaya pasangan itu tidak perlu dua kali mengucapkan janji, sekali dalam upacara Katolik dan sekali dalam upacara agama lain. Sehubungan dengan hal ini Gereja Katolik memang menegaskan dalam kanon 1127 § 3 bahwa
Dilarang, baik sebelum maupun sesudah perayaan kanonik menurut norma § 1, mengadakan perayaan keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbarui kesepakatan nikah; demikian pula jangan mengadakan perayaan keagamaan, dimana peneguh katolik dan pelayan tidak katolik menanyakan kesepakatan mempelai secara bersama-sama, dengan melakukan ritusnya sendiri-sendiri.

Patut dicatat disini bahwa yang dilarang adalah perayaan keagamaan yang menyatakan atau memperbaharui kesepakatan. Jika ada perayaan keagamaan lain untuk berdoa bersama atau mendoakan, tanpa ada janji ulang, tentunya tidaklah dilarang. Pun, dalam perayaan ekumenis (dipimpin bersama pendeta dari Gereja Kristen lain), tidak melanggar larangan ini jika sahabat dekat pihak non-Katolik yang kebetulan bukan orang Katolik; pelayan Katolik tidak mungkin datang untuk memberikan pelayanan; Gereja terdekat dan mungkin dihubungi hanyalah Gereja non-Katolik; bila pihak Katolik ‘KTP’ menikah dengan seorang non-Katolik yang sangat taat pada agamanya. Lihat Robertus Rubiyatmoko, Pr, Perkawinan Kristiani menurut Kitab Hukum Kanonik, diktat kuliah Fakultas Teologi Wedabhakti Yogyakarta, hal. 124.

Efek Yuridis Pernikahan

Setelah semua dilakukan, terjadilah ikatan pernikahan atau perkawinan seperti disebut dalam kanon 1134 bahwa “Dari perkawinan sah timbul ikatan antara pasangan, yang dari kodratnya tetap dan eksklusif; selain itu dalam perkawinan kristiani pasangan, dengan sakramen khusus ini, diperkuat dan bagaikan dibaktikan (consecrare) untuk tugas-tugas dan martabat statusnya.” Ikatan dan juga kewajiban-hak yang sama terjadi untuk pernikahan campur beda agama. Dalam hal ini, perlindungan hukum atas pernikahan yang telah dilakukan dijamin Gereja, seperti ditegaskan dalam kanon 1060 “Perkawinan mendapat perlindungan hukum (favor iuris); karena itu dalam keragu-raguan haruslah dipertahankan sahnya perkawinan, sampai dibuktikan kebalikannya.”
Efek yuridis juga diberlakukan untuk anak yang dikandung dan dilahirkan, seperti ditegaskan dalam kanon 1137 bahwa “Adalah legitim anak yang dikandung atau dilahirkan dari perkawinan yang sah atau putatif.” Kanon ini menegaskan bahwa anak yang dilahirkan adalah anak pasangan itu, termasuk ayah anak yang dikandung jika tidak ada bukti sebaliknya, terutama jika dilahirkan enam bulan setelah pernikahan.

Itu pun berarti bahwa dalam pandangan Gereja Katolik, pernikahan yang dilakukan dengan tata peneguhan Katolik sudah sah dan memberi jaminan hukum bagi anak-anak yang akan dilahirkan. Karena itu, Gereja Katolik tidak mengharuskan atau mewajibkan pasangan yang telah menikah secara Katolik mencatatkan pernikahan ini dalam hukum sipil (atau catatan sipil dalam hukum Indonesia menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan). Hanya saja, mengingat bahwa dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan pencatatan perkawinan secara sipil ini sangat penting, Gereja Katolik sangat menganjurkan agar pencatatan sipil dilakukan, karena, menurut kanon 1059  “Perkawinan orang-orang katolik, meskipun hanya satu pihak yang Katolik, diatur tidak hanya oleh hukum ilahi, melainkan juga oleh hukum Kanonik, dengan tetap berlaku kewenangan kuasa sipil mengenai akibat-akibat yang sifatnya semata-mata sipil dari perkawinan itu.” Mengingat itu, untuk konteks Indonesia, para uskup Regio Jawa menetapkan agar “Mereka yang telah melangsungkan perkawinan secara gerejawi hendaknya didorong untuk selekas mungkin mengurus pencatatan sipilnya.”

Problem Pastoral

Dalam kenyataan sosial di tengah masyarakat, apalagi dalam dunia yang bergerak begitu cepat, banyak hal terjadi yang tidak persis sesuai dengan hukum Gereja. Pada bagian ini, berdasarkan prinsip-prinsip di atas, dikomentari beberapa kasus yang kadang muncul, terutama terkait dengan pernikahan campur beda gereja dan campur beda agama.

Kasus pertama: tidak jarang terjadi pernikahan campur beda gereja atau beda agama dilakukan tidak secara Katolik atau dilakukan di luar negeri. Dalam hal ini, Gereja Katolik tidak mengakui sahnya pernikahan itu, meski juga sudah sah secara sipil. Jika pasangan ini tidak membereskannya secara Kanonik, pihak yang Katolik tidak diperkenankan menerima atau menyambut komuni suci dalam perayaan ekaristi (kanon915).
Kasus kedua: tidak jarang pasangan melakukan upacara pernikahan ganda. Artinya, selain meneguhkan pernikahan itu secara Katolik, mereka juga meneguhkannya melalui agama pihak yang non-Katolik. Hal ini tentu tidak sesuai dengan kanon 1127 § 3 yang telah disebut di atas. Meski sebenarnya Gereja Katolik sudah memberikan beberapa celah kemungkinan untuk menghindarkannya, seperti telah disebut di atas, baik dengan kemungkinan memohon ijin menikah tidak di gereja Katolik atau bahkan juga dispensasi dari tata peneguhan Kanonik, masih tidak sedikit yang melakukannya. Dalam hal ini Gereja memang hanya bisa melarang, tetapi upacara ganda seperti itu tidak menggagalkan pernikahan Katolik yang sudah atau akan dilakukan. Jadi, pernikahan itu tetap sah, dan pasangan itu tidak mendapat sanksi.

Kasus ketiga: ada pasangan berbeda campur beda agama yang ’membagi’ pendidikan agama anak-anaknya, separuh ikut pihak yang Katolik dan separuh pihak yang tidak Katolik. Tentu saja ini tidak sesuai dengan janji yang diberikan pihak yang Katolik sesuai dengan kanon 1125 nomor 1. Dalam hal ini, Gereja akan melihatnya kasus demi kasus, dan tidak begitu saja menjatuhkan sanksi, karena pada dasarnya yang dijanjikan pihak yang Katolik adalah usahanya, bukan hasilnya. Pun, karena ini lebih pada syarat sebelum pernikahan, kenyataan itu tidak menggagalkan pernikahan yang sudah ada.

Kasus keempat: ada pasangan campur beda gereja atau beda agama, karena berbagai kesulitan yang tak tertahankan, akhirnya mereka bercerai secara sipil. Dalam hal ini, Gereja hanya memandangnya sebagai ’pisah ranjang’ seperti diatur dalam kanon 1151-1155. Artinya, pihak Katolik tidak bisa menikah lagi secara Katolik, meski secara sipil dimungkinkan, kecuali kalau dia sudah mendapatkan pembatalan pernikahannya itu dari lembaga tribunal gerejawi. Terkait dengan pembagian harta dan anak, Gereja Katolik menyerahkannya pada hukum sipil/negara. Melalui kanon 1154 Gereja Katolik hanya mengingatkan “Bila terjadi perpisahan suami-istri, haruslah selalu diperhatikan dengan baik sustentasi dan pendidikan yang semestinya bagi anak-anak.”

Kasus kelima: ada seorang laki-laki Katolik yang menikah dengan perempuan non-Katolik dan kemudian meninggal. Ada pertanyaan sehubungan dengan harta warisan. Dalam hal ini, Gereja Katolik tidak mempunyai hukum waris sendiri. Gereja Katolik menyerahkan sepenuhnya pada hukum sipil yang berlaku bagi pasangan itu (hukum sipil yang diakui gereja). 
Penutup
Dari paparan di atas, dalam kaitannya dengan hukum sipil, atau untuk konteks Indonesia berarti undang-undang nomor 1/1974 tentang perkawinan, sehubungan dengan pernikahan pada umumnya dan khususnya pernikahan campur, bisa disimpulkan beberapa hal:
  1. Gereja Katolik, sesuai prinsip pemisahan antara agama dengan negara, memisahkan urusan pernikahan secara Katolik dengan pernikahan sipil. Karena itu, Gereja tidak mewajibkan pasangan yang menikah secara Katolik untuk mencatatkannya dalam catatan sipil, meski sangat menganjurkannya.
  2. Meski tidak ideal, mengingat situasi sosiologis masyarakat dan juga dengan pertimbangan teologis, Gereja Katolik memberi kemungkinan adanya pernikahan campur, baik beda gereja maupun beda agama, dengan beberapa persyaratan khusus. Dalam hal ini, pihak nonKatolik tetap berhak memeluk imannya sendiri, tidak harus menjadi Katolik.
  3. Untuk kasus-kasus yang tidak bisa ’dikerangkai’ dengan hukum, terutama karena perkembangan sosiologis yang begitu cepat, Gereja Katolik juga menempuh jalan pastoral kasus per kasus (case by case) terutama dengan pertimbangan bahwa di satu sisi ada kesulitan sosiologis yang tidak memungkinkan suatu aturan hukum (kanon) dilaksanakan dengan penuh dan di sisi lain Gereja Katolik sangat menghormati kedewasaan masingmasing pribadi, terutama dalam memakai hatinuraninya.
  4. Akhirnya, salah satu prinsip penting dalam menyikapi kasus demi kasus itu adalah pembedaan Kanonik antara hukum illahi yang memang bersifat mutlak dengan hukum gerejawi yang memberi kemungkinan dispensasi. Yang penting diingat adalah bahwa tidak semua pasal/kanon dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 bersifat illahi sehingga harus dimutlakkan; sehingga bisa memberi kemungkinan jalan pastoral yang lebih kontekstual. Pun, hukum sebagai sarana bantu manusia perlu terus diingat. Bukan manusia untuk hukum, tapi hukum untuk manusia, yang dalam bahasa Kitab Hukum Gereja 1983 dinyatakan dengan menyatakan bahwa dalam hidup Gereja, keselamatan jiwa-jiwa menjadi hukum yang tertinggi (kanon 1752). Salus animarum, suprema lex. Begitu istilah Latin-nya.

_______________________________________________________  

Al. Andang L. Binawan, SJ

DAFTAR PUSTAKA

 ---; Katekismus Gereja Katolik (a.b. P. Herman Embuiru,  SVD), Ende: Propinsi Gerejani Ende, 1995.
---; Dokumen Konsili Vatikan II (a.b. R. Hardawiryana,  S.J.), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI  – Obor, 1993.
---; Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), edisi  resmi Bahasa Indonesia, Jakarta: Konferensi  Waligereja Indonesia, 2006.
---;Go O.Carm, Dr. Piet; Kawin Campur: Beda Agama dan  Beda Gereja, Tinjauan Historis, Teologis, Pastoral, Hukum Gereja dan Hukum Sipil, Malang: Penerbit  Dioma, 1990.
---;Nurcholish, Ahmad dan Ahmad Baso (eds.); Pernikahan  Beda Agama: Kesaksian, Argumen Keagamaan,  dan Analisis Kebijakan, Jakarta: Komnas HAM dan ICRP, 2010.
---;Rubiyatmoko, Pr, Robertus; Perkawinan Kristiani menurut 
---;Kitab Hukum Kanonik, diktat kuliah Fakultas  Teologi Wedabhakti Yogyakarta, (tanpa tahun).
 

Catatan kaki:
Perkawinan:Pandangan tentang perkawinan, terutama dalam dunia modern, bisa dibaca dalam dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes artikel 4752. Bisa dibaca dalam Dokumen Konsili Vatikan II (a.b. R. Hardawiryana, S.J.), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993, hal. 568-579  atau buka http://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/document s/vat-ii_cons_19651207 _gaudium-et-spes_en.html . Pandangan dasar ini diuraikan lebih rinci dalam Katekismus Gereja Katolik (a.b. P. Herman Embuiru, SVD), Ende: Propinsi Gerejani Ende, 1995, hal. 431-445. Versi asli bahasa Inggris bisa dibuka di http://www.vatican.va/archive/ENG0015/__P50.HTM dan seterusnya.
Dewasa: Untuk menjamin bahwa orang itu sungguh dewasa, ada ketentuan umur untuk menikah. Karena itu kanon  1072 menyebutkan bahwa ”Para gembala jiwa-jiwa hendaknya berusaha menjauhkan kaum muda dari perayaan perkawinan sebelum usia yang lazim untuk melangsungkan perkawinan menurut kebiasaan daerah yang diterima.” Tentang batasan usia, Gereja mengatur dalam kan. 1083 § 1 bahwa, ”Laki-laki sebelum berumur genap enambelas tahun, dan perempuan sebelum berumur genap empatbelas tahun, tidak dapat melangsungkan perkawinan yang sah.” Selain itu, kedewasaan yang menjadi syarat bukan hanya kedewasaan fisik, melainkan juga kedewasaan intelektual dan psikis. Kanon 1093 mengatakan “Tidak mampu melangsungkan perkawinan:
a. yang kekurangan penggunaan akal-budi yang memadai;
b.yang menderita cacat berat dalam kemampuan menegaskan penilaian mengenai hak-hak serta kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan yang harus diserahkan dan diterima secara timbalbalik;
c.yang karena alasan-alasan psikis tidak mampu mengemban kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan.
Jasmani dan Rohani: Kesehatan jasmani yang dimaksud adalah kesehatan jasmani yang terkait langsung dengan esensi pernikahan, yaitu kemampuan hubungan seksual. Karena itu, impotensi akan menjadi halangan perkawinan seperti disebut dalam kanon1084 - § 1. ”Impotensi untuk melakukan persetubuhan yang mendahului (antecedens) perkawinan dan bersifat tetap (perpetua), entah dari pihak laki-laki entah dari pihak perempuan, entah bersifat mutlak entah relatif, menyebabkan perkawinan tidak sah menurut kodratnya sendiri.”
Utuh: Keutuhan janji itu bukan hanya terkait dengan kelebihan dan kekurangan pasangannya, melainkan juga keutuhan janji dalam konteks isi yang dijanjikan, khususnya kedua tujuan perkawinan yang tercantum dalam kanon 1055 § 1 di atas.
Bebas:Kebebasan menjadi syarat penting dalam janji perkawinan Katolik, sehingga keterpaksaan bisa menggagalkan janji itu, seperti disebut dalam kanon 1103 “Tidak sahlah perkawinan yang dilangsungkan karena paksaan atau ketakutan berat yang dikenakan dari luar, meskipun tidak dengan sengaja, sehingga untuk melepaskan diri dari ketakutan itu seseorang terpaksa memilih perkawinan.”
Monogami ekslusif dibedakan dari monogami suksesif. Monogami eksklusif adalah monogami seumur hidup, sedang monogami suksesif hanya berarti satu pasangan untuk kurun waktu tertentu, yang mungkin saja akan berganti.
keselamatan jiwa: Ditegaskan dalam kanon 1136, “Orangtua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, baik fisik, sosial dan kultural, maupun moral dan religius.”
sah: Lihat kanon  1108 § 1. Perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan di hadapan Ordinaris wilayah atau pastor paroki atau imam atau diakon, yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta di hadapan dua orang saksi; tetapi hal itu harus menurut peraturan-peraturan yang dinyatakan dalam kanon-kanon di bawah ini, serta dengan tetap berlaku kekecualian-kekecualian yang disebut dalam kanon-kanon 144, 1112, §1, 1116 dan 1127, § 1-2.
kanon  1108 § 2. Peneguh perkawinan hanyalah orang yang hadir menanyakan pernyataan kesepakatan mempelai serta menerimanya atas nama Gereja.

eukomenisme:Lihat dokumen Konsili Vatikan II tentang ekumenisme yang berjudulUnitatis Redintegratio.” Bisa dibaca dalam Dokumen Konsili Vatikan II (a.b. R. Hardawiryana, S.J.), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993, hal. 183-208 atau buka http://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/documents/vat-ii_decree_19641121_unitatisredintegratio_en.html.
agama lain: Lihat dokumen Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen  yang berjudul “Nostra Aetate.” Bisa dibaca dalam Dokumen Konsili Vatikan II (a.b. R. Hardawiryana, S.J.), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor, 1993, hal. 309-316 atau buka http://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/documents/vatii_decl_19651028_nostra-aetate_en.html.
1124:Kanon 1124, “Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima didalamnya setelah baptis, sedangkan pihak yang lain menjadi anggota Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, tanpa izin jelas dari otoritas yang berwenang, dilarang.”
1086: Kanon 1086 - § 1. Perkawinan antara dua orang, yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah.
Kanon 1086 -§ 2. Dari halangan itu janganlah diberikan dispensasi, kecuali telah dipenuhi syarat-syarat yang disebut dalam kan. 1125 dan 1126.
Dispensasi  Lihat catatan kaki dalam Formulir 1 (Mohon Dispensasi dari Halangan Nikah), yang harus diisi oleh pastor paroki dalam mengajukan permohonan dispensasi dari halangan pernikahan bagi salah satu umatnya yang mau menikah.
ordinariswilayah: Yang dimaksud ordinaris wilayah adalah para “Uskup diosesan dan orang-orang lain, yang, walaupun untuk sementara saja, diangkat menjadi pemimpin suatu Gereja partikular atau suatu jemaat yang disamakan dengannya menurut norma kan. 368; dan juga mereka yang di dalam Gereja partikular atau jemaat tersebut mempunyai kuasa eksekutif berdasarkan jabatan, yaitu Vikaris Jenderal dan Episkopal.” (Lihat kanon 134§ 1 dan § 2).
kesulitan: Yang biasanya dikategorikan dengan kesulitan-kesulitan besar misalnya: adanya kesulitan besar untuk memenuhi tata peneguhan kanonik, misalnya karena pihak non-katolik menolak perayaan perkawinan secara Katolik, atau karena desakan dari pihak keluarga non-katolik, yang menjadi pelayan adalah anggota keluarga atau
ayah Kanon 1138 § 1. Ayah ialah orang yang ditunjuk oleh perkawinan yang sah, kecuali bila kebalikannya dibuktikan dengan argumen-argumen yang jelas.
Kanon 1138 § 2. Diandaikan legitim anak yang lahir sekurang-kurangnya sesudah 180 hari dari hari perkawinan dirayakan, atau dalam 300 hari sejak hidup perkawinan diputuskan.
Catatan sipil Statuta Keuskupan Regio Jawa pasal 116 no. 5a. Lihat Para Waligereja Regio Jawa 1995, Statuta Keuskupan Regio Jawa, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996, hal. 57.
ttg beda agama  Salah satu buku yang memuat kesaksian beberapa pasangan beda agama adalah Pernikahan Beda Agama: Kesaksian, Argumen Keagamaan, dan Analisis Kebijakan (ed. Ahmad Nurcholish dan Ahmad Baso), Jakarta: Komnas HAM dan ICRP, 2010.
secara Kanonik: Pemberesan pernikahan seperti ini relatif sederhana, karena pihak yang Katolik bertemu dengan pastor paroki dan mengikuti prosedur dan persyaratan yang ada. Hal ini dimungkinkan dengan cara pemberesen biasa (convalidatio simplex) yang diatur oleh kanon 1156 atau dengan penyembuhan pada akar (sanatio in radice) seperti diatur dalam kanon 1161.
kanon 915; Kanon 915 mengatakan “Jangan diizinkan menerima komuni suci mereka yang terkena ekskomunikasi dan interdik, sesudah hukuman itu dijatuhkan atau dinyatakan, serta orang lain yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.” Dalam hal ini, mereka yang ‘nekad’ menikah tidak secara Katolik dipandang melakukan dosa berat. Sanksi ini relatif lebih lunak dibanding Kitab Hukum Kanonik 1917 yang mengekskomunikasi, atau mengeluarkannya dari Gereja, pihak Katolik yang melakukan pernikahan seperti ini.
sustentasi Yang dimaksud dengan sustentasi adalah jaminan hidup.
ttg hukum sipil yang diakui gereja Dengan mengacu pada kanon 22 “Undang-undang sipil yang dirujuk oleh hukum Gereja  harus ditepati dengan efek-efek yang sama dalam hukum kanonik, sejauh tidak bertentangan dengan hukum ilahi, dan tidak ditentukan lain dalam hukum kanonik.” 

Tags

Berita (144) Gereja Katolik (129) Iman Katolik (76) Apologetik (71) Paus (44) Tradisi (41) Kitab Suci (30) Politik (29) Yesus (28) Magisterium (24) Doa (22) Katolik Timur (20) Kesaksian (19) Katekese Liturgi (18) Renungan (18) Maria (15) Tanya Jawab (13) Roh Kudus (10) Kamis Putih (9) Film (8) Karismatik (8) Prodiakon (8) Lektor (7) Natal (7) Petrus (7) Sakramen Ekaristi (7) Sakramen Perkawinan (7) Adven (6) Katekese Katolik (6) Lintas Agama (6) Pantang dan Puasa (6) Perayaan Ekaristi (6) Seputar Liturgi (6) Anglikan (5) Gua Maria (5) Hari Perayaan Santa Maria (5) Hari Raya / Solemnity (5) Ibadat Harian (5) Madah dan Lagu Liturgi (5) Masa Prapaskah (5) Piranti Liturgi (5) Berita Terkini (4) Doa Novena (4) Doa Rosario (4) Ibadat Peringatan Arwah (4) Inkulturasi Liturgi (4) Jumat Agung (4) Komuni Kudus (4) Minggu Palma (4) Musik liturgi (4) Rabu Abu (4) Sakramen Mahakudus (4) Surat Gembala Paus (4) Tri Hari Suci (4) Dirigen Paduan Suara (3) Doa Litani (3) Ibadat Rosario (3) Jalan Salib (3) K Evangelisasi Pribadi (3) Kisah Nyata (3) Lamentasi (3) Liturgi Anak (3) Malam Paskah (3) Mgr Antonius Subianto OSC (3) Misa Jumat Pertama (3) Misa Krisma (3) Misdinar (3) Ordo (3) Paduan Suara Gereja (3) Paus Fransiskus (3) Persatuan Gereja (3) Tahun Liturgi (3) Tata Gerak dalam Liturgi (3) Virus Covid-19 (3) Yohanes Paulus II (3) Analisis Tafsiran (2) Beato dan Santo (2) Berita Luar Negeri (2) Busana Liturgi (2) Doa Angelus (2) Doa Bapa Kami (2) Doa Dasar (2) Doa Persatuan (2) Doa Suami-Istri (2) Doa Utk Jemaat (2) Doa Utk Warga (2) Doa dan Ibadat (2) Dupa dalam Liturgi (2) Eksorsisme (2) Evangeliarium (2) Hati Kudus Yesus (2) Homili Ibadat Arwah (2) Ibadat Completorium (2) Ibadat Mitoni (2) Ibadat Syukur Midodareni (2) Mgr.Antonius Subianto OSC (2) Mujizat (2) Orang Kudus (2) Pekan Suci (2) Perarakan dalam Liturgi (2) Reformasi Gereja (2) Risalah Temu Prodiakon (2) Sharing Kitab Suci (2) Surat Gembala KWI (2) Surat Gembala Uskup (2) Tuguran Kamis Putih (2) Ada Harapan (1) Allah Pengharapan (1) Api Karunia Tuhan (1) Artikel Rohani (1) Baptis Darah (1) Baptis Rindu (1) Batak Toba (1) Berdoa Rosario (1) Bersaksi Palsu (1) Bhs Indonesia (1) Bhs Karo (1) Bulan Rosario (1) Bunda Maria (1) Carlo Acutis (1) Debat CP (1) Dei Verbum (1) Desa Velankanni (1) Diakon (1) Doa Bersalin (1) Doa Dlm Keberhasilan (1) Doa Dlm Kegembiraan (1) Doa Dlm Kesepian (1) Doa Katekumen (1) Doa Kebijaksanaan (1) Doa Kehendak Kuat (1) Doa Kekasih (1) Doa Kekudusan (1) Doa Kel Sdh Meninggal (1) Doa Keluarga Sakit (1) Doa Kerendahan Hati (1) Doa Kesabaran (1) Doa Keselamatan (1) Doa Ketaatan (1) Doa Ketabahan (1) Doa Orang Menderita (1) Doa Orang Sakit (1) Doa Pemb Pertemuan (1) Doa Penerangan RK (1) Doa Pengenalan (1) Doa Penutup Pertemuan (1) Doa Perjalanan (1) Doa Pertunangan (1) Doa Ratu Surga (1) Doa SeSdh Kelahiran (1) Doa Seblm Kelahiran (1) Doa Seblm Makan (1) Doa Semakin Dikenal (1) Doa Siap Mati (1) Doa Tanggung Jawab (1) Doa Ulang Tahun (1) Doa Untuk Anak (1) Doa Untuk Keluarga (1) Doa Utk Gereja (1) Doa Utk Masyarakat (1) Doa Utk Mempelai (1) Doa Utk Negara (1) Doa Utk Ortu (1) Doa Utk Pemuka (1) Doa Utk Penderita (1) Doa Utk Petugas (1) Doa Utk Rakyat (1) Doa Utk Tanah Air (1) Doa Utk Yg Membenci (1) Dogma (1) Doktrin (1) Dokumen Gereja (1) Dokumen Pernikahan (1) Dominicans (1) Dosa (1) Ekaristi Kudus (1) Enggan Beribadat (1) Epiphania (1) Film Terbesar (1) Firman Tuhan (1) Foto Kenangan (1) Generasi Muda (1) Gubernur Wasington (1) Haposan P Batubara (1) Hari Pesta / Feastum (1) Harus Bergerak (1) Hidup Kudus (1) Hidup Membiara (1) Homili Ibadat Syukur (1) Hukum Kanonik (1) Ibadat Jalan Salib (1) Ibadat Pelepasan Jenazah (1) Ibadat Pemakaman (1) Imam Jesuit (1) Investasi Surgawi (1) Jangan diam (1) Joko Widodo (1) Kalender Prapaska (1) Kebenaran KS (1) Keberadaan Allah (1) Kebohongan Pemimpin (1) Kejujuran (1) Kekuasaan Pelayanan (1) Kekudusan Degital (1) Kesehatan Tubuh (1) Komentar (1) Konsili Vat II (1) Konstantinovel (1) Kopi Asyik (1) Kristus Allah (1) Kualitas Hidup (1) Kumpulan cerita (1) Lawan Covid-9 (1) Lawan Terorisme (1) Lingkuangan Keluarga (1) Lingkup Jemaat (1) Lingkup Masyarakat (1) Liturgi Gereja (1) Luar Biasa (1) Lucu (1) Madu Asli (1) Mari Berbagi (1) Mateus 6 (1) Mayoritas Katolik (1) Menara Babel (1) Menghadapi Kematian (1) Menunggu Penyelamat (1) Mesin Waktu (1) Mgr A Subianto OSC (1) Misa Imlex (1) Misa Latin (1) Misa Online (1) Misionaris SCY (1) Mohon Bantuan (1) NKRI (1) Naskah WH (1) Oikoumene (1) Organis Gereja (1) PGI (1) Passion Of Christ (1) Pastoran (1) Penampakan Maria (1) Pendidikann Imam (1) Pengakuan Iman (1) Penghormatan Patung (1) Pentahbisan (1) Perbaikan (1) Perjamuan Kudus (1) Perkawinan Campur (1) Perkawinan Sesama Jenis (1) Persiapan Perkawinan (1) Pertemuan II App (1) Pertobatan (1) Pesan Natal (1) Pesan Romo (1) Pohon Cemara (1) R I P (1) Rasa Bersyukur (1) Rasul Degital (1) Rasul Medsos (1) Renungan Musim Natal (1) S3 Vatikan (1) SSCC Indonesia (1) Saksi Bohong (1) Salam Yosef (1) Saran Dibutuhkan (1) Sejarah (1) Selamat Paskah (1) Selingan (1) Sepuluh Perintah Allah (1) Sosialisasi APP (1) Spiritualitas (1) Sukarela (1) Surat bersama KWI-PGI (1) Surga (1) Survey (1) Survey KAJ (1) Tahun St Yosef (1) Teologi (1) Thema APP (1) Tim Liturgi (1) Tokoh Iman (1) Tokoh Internasional (1) Tokoh Masyarakat (1) Toleransi Agama (1) Tuhan Allah (1) Tujuan Hidup (1) Turut Berlangsungkawa (1) Usir Koruptor (1) Ust Pembohong (1) Video (1) Wejangan Paus (1) Yudas Iskariot (1) Ziarah (1)