Latest News

Sunday, July 26, 2020

Dua kakak beradik ditahbiskan Imam hari ini




Dua kakak beradik ditahbiskan Imam hari ini. 
Mereka adalah 
Pst Wayan dan Pst Made

Wednesday, July 22, 2020

Vatikan: Pastoran Bukan Tempat Sakral, Diakon Bukan "Manusia Super"

ARUS pembaruan dalam tubuh organisasi Gereja kembali bergulir. Hari Senin tanggal 20 Juli 2020 kemarin, Kongregasi Klerus resmi merilis pedoman baru untuk restrukturisasi tata kelola paroki dan keuskupan.

Dokumen baru ini diberi nama “Perubahan Pastoral Komunitas Parokial untuk Misi Evangelisasi Gereja”. Dokumen ini berisi 28 halaman dan terbagi menjadi 11 pasal.

Tujuannya untuk meningkatkan tanggungjawab bersama dan kerjasama antar segenap Umat Beriman.

Demikian rilis resmi yang disampaikan Mgr. Andrea Ripa dari Kongregasi Klerus sebagaimana dirilis oleh media Katolik terbitan Italia –di antaranya—AsiaNews.it, Vatican News, dan CNA.

Terbitnya dokumen baru ini dimaksudkan, demikian keterangan Mgr. Ripa, agar segenap Umat Beriman mendapatkan panduan agar melakukan berbagai program kegiatan dan restrukturisasi keuskupan.

Poin penting dari dokumen ini sebenarnya terletak pada pengakuan Gereja bahwa semua orang –masing-masing—itu punya peran di dalam Gereja dan semua orang bisa menemukan peran tepatnya di mana di dalam Gereja.

Dengan demikian, masing-masing bisa menyikapi perannya secara optimal dan menaruh hormat kepada peran lainnya.

Demikian keterangan pengantar Mgr. Ripa sebagaimana dikutip oleh kantor berita Katolik di atas.
(...teruskan baca lihat di bwh ini....)
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/vatikan-pastoran-bukan-tempat-sakral.html]

Maksud dan tujuan
Harap diingat bahwa dokumen ini tidak menyediakan aturan hukum baru. Juga tidak mengubah aturan-aturan hukum yang sudah terlebih dahulu ada.

Melainkan lebih memberi semacam pedoman umum kepada segenap Umat Beriman agar –secara sangat ekstrim—jangan sampai terjadi dua hal seperti ini:
  • Kaum Awam menjadi sedemikian “religius”-nya sehingga seakan-akan telah menjadi klerus atau imam;
  • Kaum religius imam jangan sampai menjadi korban arus sekularisme;
  • Jangan sampai Diakon itu seakan-akan menjadi sosok “setengah imam” atau “awam super”.
Dokumen baru ini telah ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada Pesta Peringatan Santo Petrus dan Paulus tanggal 29 Juni 2020 lalu.

Dengan terbitnya dokumen baru ini, Gereja mendorong Umat Beriman –masing-masing dalam perannya yang berbeda-beda—bisa saling bekerjasama.

Tidak hanya di dalam satu wilayah paroki saja. Tapi juga lintas paroki. Juga pentingnya mengakomodasi program-program perhatian lebih kepada kaum marginal, mendorong paroki agar jangan menjadi komunitas Katolik yang “eksklusif”, melainkan selalu terbuka dan membuka diri bergaul dengan masyarakat luas.

“Kegiatan pastoral paroki haruslah bisa keluar dari wilayah internal paroki, mendorong terjadinya reksa pastoral untuk semua pihak,” demikian antara lain bunyi teks dokumen baru ini.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Keuskupan perlu menugasi orang tertentu yang secara khusus memonitor arah kerasulan seperti ini.

Presiden Kongregasi Klerus Kardinal Benjamino Stella menegaskan, dokumen baru ini terbit untuk merepon terjadinya banyak perubahan cepat dan radikal di dalam tatanan masyarakat.

Seperti misalnya jumlah imam yang semakin sedikit –utamanya di kawasan Eropa—dan perlu merancang program kegiatan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan konvensional-tradisional paroki seperti yang selama ini terjadi.

Bukan menuruti selera
Dokumen sebagai pedoman umum ini diperlukan agar arah reksa pastoral Gereja ke depan itu
berjalan seiring dengan ajaran Gereja. Bukan hanya menuruti “selera” masing-masing pastor yang tengah atau masih “berkuasa” di paroki.

Dokumen baru ini mendasarkan dirinya pada dokumen lawas yang sudah ada yakni:
  • “The Priest, Pastor and Leader of the Parish Community” (2020).
  • “Ecclesia de Mysterio” tentang kerjasama antar kaum klerus dan kaum awam.
Keluar altar menuju ke pasar
Selama ini, kata Kardinal Stella, paroki dan pastoran sudah selalu dianggap sebagai tempat sakral yang bagaimana pun harus tetap dihormati dan dijaga kekudusannya.

Sekarang ini, Gereja menuntut para imam harus berani “keluar” meninggalkan altar menuju ke “pasar”.

“Saatnya untuk menyingkirkan kunci (pastoran), membiarkan pintu terbuka, membiarkan hawa luar masuk dan para penghuninya keluar dari pastoran –mengunjungi mereka yang membutuhkan pendampingan iman, menjangkau kaum muda, melihat dunia secara menyeluruh yang membutuhkan Tuhan namun tidak tahu kemana harus pergi untuk bisa mendapatkan-Nya,” kata Kardinal.

PS: Diolah dari AsiaNews.It, Vatican News, dan Catholic News Agency.

Source : https://www.sesawi.net/vatikan-pastoran-bukan-tempat-sakral-diakon-bukan-manusia-super/
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/vatikan-pastoran-bukan-tempat-sakral.html]

Iman Katolik: Paroki Bukan Tempat, tapi Kumpulan Umat Beriman, OMK Jadi Anggota Dewan Paroki

Ilustrasi: Malam pensi bersama OMK Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang. (Cinda OMK Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang)


SAYA Katolik. Sudah babtis. Saya sering bertanya-tanya dalam hati:
Gereja Katolik itu masih bisa berubah gak sih? Kesannya kok Gereja yang cuma begitu-begitu aja.
Jawanya sederhana: Ya, Gereja tentu bisa berubah. Yang tidak berubah itu Tuhan.
Ada lagunya loh. Tuhan Yesus  tidak Berubah, tapi Gereja bisa dan ya memang harus berubah.

Konsili Vatikan II menggoncang dan memperbarui Gereja
Ecclesia semper reformanda. Gereja harus selalu diperbarui. Maka, kita pun sebenarnya bisa mulai membuat perubahan itu. Dan sesungguhnya, perubahan itu sudah terjadi dan terbukti.  Sepanjang sejarah Gereja, perubahan terbesar terjadi lewat Konsili Vatikan II.
Konsili Vatikan II telah mengubah wajah dan sikap Gereja kepada dunia. Para biarawan-biarawat dan segenap rohaniwan-rohaniwati kini sudah boleh pakai baju preman. Sebelumnya, mereka mesti berjubah. Di mana-mana dan kemana pun harus berjubah.
Kaum awam kini juga diberi tempat untuk terlibat aktif dalam Gereja. Sebelumnya awam hanya jadi penonton, pengikut. Selama memimpin ekaristi, dulu imam membelakangi umat,  kini berhadapan dengan umat.
Ekaristi boleh dirayakan dalam bahasa umat, tidak lagi harus pakai bahasa Latin. Perayaan liturgi boleh dimeriahkan dengan lagu-lagu lain, di luar lagu Gregorian.

Pandangan Gereja tentang keselamatan juga berubah. Sebelumnya, extra ecclesia non salus est. Di luar Gereja tidak ada keselamatan. Setelah Konsili Vatikan II, istilah menjadi extra ecclesia salus est. Di luar Gereja ada keselamatan, dll.
Memang setiap perubahan akan selalu membawa goncangan besar. Gara-gara Konsili Vatikan II, banyak imam, bruder, suster yang lepas jubah alias keluar dari biara.

Ordo Serikat Jesut (Jesuit) saja sampai kehilangan lebih dari 5.000 anggotanya. Itu bukti bahwa perubahan itu berisiko besar.
Di lain pihak, mungkin justru karena itu, Gereja lantas bersikap lebih hati-hati. Kalau gak, bolehlah dibilang pelan-pelan.
Yang terakhir ini barangkali yang menimbulkan pertanyaan di atas. Sebab memang ada benarnya juga.

Belum banyak berubah juga
Konsili Vatikan II sudah berlangsung lebih dari setengah abad lalu. Tetapi memang belum banyak terjadi perubahan yang berarti di dalam Gereja.
Misalnya, betapa sulitnya mendorong kaum awam untuk menjadi rasul awam. Yang kini tetap terjadi, masih banyak awam suka “membonceng” model kerasulan imam.

Saya sendiri pernah merintis sebuah perubahan dalam Gereja di level paroki. Apakah berhasil, biarlah sejarah menilai. Tetapi apa menimbulkan goncangan?
Goncangan mungkin tidak. Tetapi resistensi, itu jelas ya.
Puluhan tahun saya punya pengalaman pastoral lapangan dengan kaum muda. Pengalaman itulah yang menjiwai karya pastoral saya di Gereja di level paroki.
Itulah yang membuat pelayanan pastoral yang beda dengan tradisi pelayanan pastoral paroki yang ada kala itu. Itu berarti saya mesti membuat perubahan-perubahan.

Supaya saya tidak tanpa dasar, maka saya minta sahabat saya almarhum Pater Dr. Tom Jacobs SJ menjadi teolognya. Dengan demikian, setiap perubahan yang saya buat dapat dipertanggungjawabkan secara teologis.
Ini supaya tidak lepas dari pastoral Gereja Keuskupan. Setiap pekan, saya melaporkan segala kegiatan pastoral saya kepada pihak Keuskupan Agung Semarang.

Paroki itu bukan tempat, tapi Umat Beriman
Apa yang pernah saya lakukan?
Saya mengubah istilah paroki menjadi Gereja. Sebab kala itu, paroki dipahami secara sempit, bahkan salah.
Paroki adalah tempat.
Yang benar, paroki adalah jemaat, umat, bukan tempat. Ini memberi keleluasaan karya pastoral saya berdasarkan umat yang datang ke Gereja di paroki saya. Bukan berdasarkan tempat, teritori paroki.
Siapa pun mereka, meskipun di dan dari luar teritorial Gereja saja, jika perlu pelayanan di Gereja di paroki saya, maka wajib juga saya layani.

Saya merumuskan visi dan misi Gereja di paroki. Adanya visi dan misi Gereja. Seluruh umat menjadi tahu ke mana arah langkahnya bersama.
Saya membuat penelitian umat yang ikut Ekaristi Mingguan. Setiap minggu satu pertanyaan. Penelitian yang super valid, sebab datanya meliputi ribuan responden.
Dari data tersebut saya merancang dan melakukan reksa pastoral saya.

Saya sendiri mengubah mindset saya. Dari mindset seorang hard worker menjadi smart manager.
Saya menghayati diri sebagai seseorang yang mesti me-manage kekuatan dan kelemahan umat, berdasarkan situasi dan kondisi saat itu.
Bukan karena mampu, tetapi justru karena saya tidak mampu, maka saya mengajak, melibatkan banyak umat yang punya kemampuan untuk membangun jemaat, segenap anggoa Umat Beriman.
Salah satu  hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% umat orang muda, maka prioritas pastoral saya orang muda.

Memberdayakan kaum muda
Saya hanya fokus pada memberdayakan orang muda. Orang muda saya percayai untuk menjadi Dewan Paroki. Syarat menjadi anggota Dewan Paroki saya “turunkan”.
Ini agar orang muda dapat masuk. Dan benar, ketika dewannya orang-orang muda, mereka sungguh menjadi motor penggerak tata kehidupan umat.
Secara fisik, saya mengubah gedung gereja menjadi sangat terbuka. Umat yang duduk di dalam bangunan gedung menyatu dengan yang duduk di luar bangunan gedung.
Tembok dan jendela yang membatasi saya bongkar dan diganti dengan pintu lipat.

Saya buka kesempatan umat. Saya undang mereka untuk membuat komunitas berdasarkan bakat, minat, atau kategori apa pun. Dengan demikian setiap umat punya tempat,wadah.
Lewat komunitas ini, ada jauh lebih banyak umat yang punya kesempatan untuk terlibat berkegiatan di Gereja sesuai dengan pilihannya masing-masing. Maka, lahirlah banyak komunitas umat yang siap bergerak dan menggerakkan Gereja sesuai visi dan misinya.
Masih tetap ada komunitas tradisional-konvensional: komunitas lingkungan, komunitas Prodiakon, misdinar, lektor, PIA, koor dll,

Ilustrasi: Siapkan Diri Menjadi Utusan Tuhan, OMK Paroki Pahauman Adakan Ekaristi Kaum Muda. (Pricilia Grasela)
Kecuali itu, untuk memberdayakan dan mempercayai orang muda masih ada lebih dari 70 komunitas umat yang hidup dan aktif di Gereja di level paroki kala itu.
Sebut saja misalnya, komunitas-komunitas: tablo, orkes, tari, TV monitor, EKM, penulis skripsi, organis, renovasi, kopi pagi, Tabungan Cintakasih, dlsb.
Untuk merespon semangat mereka, saya juga tidak segan keluar uang untuk: beli piano baru, untuk beli kamera, mixer, dlsb.
Sumber dana untuk komunitas ini didapat dari jaga parkir. Uang jaga parkir jadi haknya komunitas yang jaga, untuk kegiatan mereka. Seingatku juga sebagian uang jaga teks panduan ekaristi.

Sound System Itu Penting Juga
Demi efektifitas komunikasi lisan antara pastor dan umat, saya putuskan harus ganti sound system Gereja.
Sound system adalah kunci. Sebab dengan sound system yang bagus, menjangkau seluruh umat dengan jelas dan nyaman: kotbah, pengajaran, arahan pastoral sampai ke umat juga jelas.
Sebaliknya, kalau sound system tidak jelas, maka umat cenderung omong sendiri.
Semua komunikasi lisan sudah saya dasari dengan komunikasi tulis. Segala sesuatu yang perlu untuk kehidupan saya tulis dalam teks panduan ekaristi. Maka saya ubah buku panduan ekaristi mingguan. Dari format buku skrip menjadi format buku saku.
Bisa masuk saku atau masuk Madah Bakti. Di dalamnya saya isi dengan arahan dan laporan pastoral serta tanya jawab pernikahan.
Yang terakhir ini laris bukan main. Jika ada lagu baru, lagu juga saya muat di buku panduan ekaristi itu.
Bila saya merencanakan suatu kegiatan, saya sampaikan ke umat: idenya, rencananya, dan RAB-nya. Sesudahnya, saya laporkan ke umat. Misalnya, sunatan masal, pernikahan eklesial, operet Natal.
Yang terjadi, dana dari umat justru datang melimpah. Mungkin karena umat tahu persis penggunaan uangnya, sehingga tanpa ragu membantu.
Pastor-pastor paroki lain sampai mengira, karena Gereja di paroki saya utu kaya, maka saya bisa mengadakan banyak kegiatan umat.
Yang benar adalah karena kegiatan itu datang dari umat untuk umat. Maka, umat pun jadi rela memberi dananya.

Banyak kegiatan yang saya ciptakan dan rancang untuk melibatkan dan menggerakkan orang muda. Misalnya Panitia Paskah orang muda, tablo, operet, tarian dalam perayaan Paska, orkes dalam Perayaan Ekaristi, pengarang lagu, pembawa salib di Jumat Agung orang muda.
Setiap pembawa salib mengenakan celana jin, kaos oblong warna putih.
Hasilnya antara lain –sekedar contoh saja—lalu banyak orang muda dengan senang hati mau datang ke Gereja di paroki saya. Ya untuk aktif, untuk cari pacar dan bahkan jodoh, untuk cari dana.

Banyak pula lagu-lagu yang tercipta oleh orang muda di Gereja level paroki. Dan mereka umumnya bukan ahli musik, melainkan mereka bisa main organ atau piano atau alat musik lain dan ingin bisa aktif di Gereja level paroki.
Dan dari sinilah, benih-benih kebaikan itu lalu bisa bersemi.
Seiring berjalannya waktu, kini ada banyak imam dan awam Katolik yang berani dan mau membuat lagu rohani.

Waktu kami dulu baru memulainya, banyak orang bereaksi “keras” dan menanggapinya dengan sinis.
Syukurlah, kini zamannya sudah berbeda.

Mensyukuri perubahan
Begitulah ada banyak yang beda. Kalau tidak boleh dibilang berubah, di Gereja lelvel paroki saya kala itu berhasil diretas apa itu perubahan.
Lalu, apakah perubahan itu bisa diterima?
Menurut teori, setiap perubahan akan diterima oleh 30%, ditolak 30% dan yang 60% ngambang. Ingin melihat situasi terlebih dahulu
Walau umat banyak yang senang, ada juga banyak yang menolak. Tetapi penolakan terbesar justru datang dari pastor paroki lain.

Disidang oleh kerumunan pastor
Begitu besarnya, sampai pernah saya “disidang“ di hadapan para pastor disebuah pertemuan para pastor tingkat keuskupan. Saya diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah saya lakukan.
Dalam sidang itu yang diminta menjadi hakimnya adalah Mgr. Kartasiswoyo Pr, ahli Hukum Gereja kala itu.Puji Tuhan dan saya lega luar biasa. Karena almarhum Mgr Kart ternyata malah membenarkan yang saya lakukan.
Bahkan Mgr. Karta ini justru menganjurkan setiap pastor paroki mestinya melakukan seperti yang saya lakukan.Dengan begitu, saya telah mematahkan mitos bahwa karya untuk orang muda itu sulit.
Yang nyata bisa terjadi beneran adalah seperti pengalaman penulis di Yogya. Orang-orang muda itu hanya perlu dipercaya, bisa dilibatkan, lalu daya kreatif mereka akan mengalir sendiri, membasahi bumi dan hati ini dengan cinta dan keasliannya.
Semarang, 21 Juli 2020

Source : https://www.sesawi.net/iman-katolik-paroki-bukan-tempat-tapi-kumpulan-umat-beriman-omk-jadi-anggota-dewan-paroki/

Monday, July 13, 2020

BEROSARIO YG BENAR

Doa Bapa Kami Ada Yang Salah ???




Doa Bapa Kami Ada Yang Salah ??? ... Rm. Aba MSC
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/doa-bapa-kami-ada-yang-salah.html]





KERJASAMA MANUSIA DAN SETAN DEMI BISNIS ... Rm. Aba MSC


YUDAS MASUK NERAKA ATAU SURGA


YUDAS MASUK NERAKA ATAU SURGA ... Rm. Aba MSC
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/yudas-masuk-neraka-atau-surga.html]

Dogma dan Spiritualitas...



NASEHAT UNTUK ORANG KATOLIK SEBELUM NONTON YOUTUBE ...



NASEHAT UNTUK ORANG  KATOLIK SEBELUM NONTON YOUTUBE ... Rm. Aba MSC
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/nasehat-untuk-orang-katolik-sebelum.html]

Membuat Iman Kita Tetap Tangguh


Bacaan: *Mazmur 52:10;*
"Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya."

_*Renungan:*_
  Umat beriman yang terkasih dalam Tuhan, bagi orang Israel, pohon zaitun merupakan pohon yang sangat berharga sebagaimana halnya dengan pohon anggur. Buahnya yang masih muda dapat dimakan mentah ataupun diawetkan sebagai penyegar, sedangkan buahnya yang sudah tua dapat diperas dan diambil minyaknya untuk dipergunakan dalam berbagai keperluan. Minyak zaitun juga sangat penting bagi orang Israel karena dapat dipakai untuk mengolah makanan, upacara keagamaan, kesehatan, kecantikan, lampu, mencampur rempah-rempah wangi, sebagai dasar pembuatan salep dan minyak urapan. Selain itu, daun zaitun sudah digunakan sejak zaman purba untuk mengobati luka atau berbagai infeksi.
  Orang benar dalam bacaan di atas dilambangkan sebagai pohon zaitun yang daunnya tetap menghijau. Ini merupakan nyanyian Daud ketika ia berada dalam kesesakan karena dikejar-kejar oleh Raja Saul dan nyawanya terancam. Dalam kondisi seperti itu Daud mampu berkata bahwa ia seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah.
  Sebagai orang Katolik, kita perlu menyadari bahwa meskipun keadaan di sekeliling kita tidak menjanjikan sesuatu yang baik, tetapi keyakinan dan iman kepada Allah akan membuat kita tetap kokoh berdiri, seperti pohon zaitun yang daunnya selalu menghijau sepanjang tahun, dan manfaat buah, daun serta kayunya selalu dapat dinikmati. Jangan biarkan seorang pun atau kejadian apa pun membuat daun kita layu, sehingga kita tidak lagi menjadi berkat. Tetap melekat pada Allah, itulah yang akan membuat daun kita selalu menghijau. Kekurangan,  kedukaan, penyakit dan berbagai kesulitan hidup tak akan mampu membuat daun kita menjadi layu jika kita tertanam dalam di dalam hati Tuhan. Tuhan Yesus Memberkarti  dan
Bunda Maria  mendampingi kita semua.

_*Marilah Berdoa:*_
Bapa di dalam surga,  bersama Santo  Yohanes Gualbertus yang kami peringati pada Hari Minggu Biasa ke XV  ini, kami mohon,  mampukan kami menjadi seperti pohon zaitun yang hidupnya bermanfaat bagi banyak orang. Jangan biarkan masalah dalam hidup kami  membuat kehidupan kami menjadi  layu tapi berikanlah kami kekuatan agar tetap hijau dan bermanfaat bagi  sesama kami.
Doa ini kami sampaikan ke hadiratMu melalui perantaraan Yesus Kristus Putera-Mu, Tuhan dan Juru Selamat kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus kini dan sepanjang segala abad,  Amin.

-----

Thursday, July 9, 2020

Requiescat In Pace


REQUIESCAT IN PACE.

Benedict XVI’s brother, Georg Ratzinger (96th), has died. Eternal rest grant to him, O Lord.

Mgr. Georg Ratzinger telah meninggal. Berita tersebut beredar di media Jerman dan diterbitkan oleh Vatikan News Italia, hari ini,  Rabu pagi, 1 Juli 2020.

Seperti kita ketahui, Joseph Aloisius Ratzinger (93 tahun), sang adik, yang dikenal sebagai Paus Emeritus Benediktus XVI masih sempat mengunjungi sang kakak yang sakit keras, Mgr. Georg Ratzinger, di Bavaria, Jerman. Beliau berangkat dari Vatikan pada 18 Juni 2020 pulang pada 22 Juni 2020..

Ya. Msgr. Georg Ratzinger meninggal di Bavaria pada usia 96 pada 1 Juli 2020. Indahnya, Paus emeritus dapat mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada kakak laki-lakinya pada 22 Juni di akhir perjalanan empat hari ke Jerman untuk menghabiskan waktu bersama saudaranya yang sakit.

"Orang hanya bisa berharap kasih sayang semua orang, kebersamaan persaudaraan, seperti yang disaksikan dalam hubungan saudara-saudara Ratzinger. Ia hidup dengan kesetiaan, kepercayaan, tanpa pamrih, dan landasan yang kuat: dalam hal saudara Ratzinger, ini adalah iman yang hidup dan bersama di dalam Kristus, Putra Allah, ”kata Uskup Rudolf Voderholzer dari Regensburg 22 Juni.

Voderholzer mengatakan bahwa Ekaristi dipersembahkan setiap hari di sisi ranjang Georg selama kunjungan Benedict. Uskup mengatakan bahwa ketika dia berpartisipasi dalam Misa bersama kedua saudara itu, dia merasa bahwa “ini adalah sumber tempat mereka hidup.”

Msgr. Ratzinger lahir di Bavaria pada 15 Januari 1924 sebagai putra pertama Yusuf dan Maria Ratzinger. Dia mengungkapkan bakat awal untuk musik, belajar bermain biola dan organ gereja sebagai seorang anak.

Dia kemudian melayani sebagai pemimpin paduan suara Regensburger Domspatzen, paduan suara katedral Regensburg, dari tahun 1964 hingga 1994.

Pada tanggal 29 Juni 2011, ia merayakan hari jadinya yang ke-60 sebagai seorang imam di Roma bersama dengan saudaranya. Kedua pria itu ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1951.

Syekhah Lulusan Vatikan


*SYEKHAH LULUSAN VATIKAN*
Jika ada syekhah lulusan Vatikan di Indonesia, saya bisa pastikan bahwa syekhah yang pertama adalah Raden Ajeng Gayatri Wedotami yang pada 23 April 2020 memperoleh nama Syekhah Hefzibah dari para mursyidnya.

Ya, orang itu adalah saya sendiri.

Saya berangkat pada akhir bulan Agustus 2011 tidak lama setelah saya menyelesaikan semua kuliah saya dalam program pascasarjana Filsafat Islam ICAS (Islamic College for Advance Studies) – Universitas Paramadina, dan saya sedang menyiapkan proposal tesis saya. Pada waktu itu, Anies Baswedan masih menjabat sebagai rektor.

Saya tidak mengajukan beasiswa atau permohonan apapun untuk kuliah di Roma. Saya memperoleh tawaran beasiswa dari Yayasan Nostra Aetate atas rekomendasi Sr. Gerardette Phillips, suster Katholik asal India dari Kongregasi Bunda Hati Kudus dan alumni generasi pertama ICAS.

Yayasan Nostra Aetate (YNA) berada di bawah Tahta Suci Vatikan (TSV), di bawah semacam Departemen Urusan Hubungan Antar Agama (PCID). Jadi, saya pergi ke Roma melalui jalur religius, sama seperti para biarawan dan biarawati yang bersekolah dan atau bermisi ke Italia.

Sebelum berangkat, saya telah memutuskan untuk menjadi darwis Daudiyah, setelah saya menjadi muhib dan ashik dalam tarekat yang pada waktu itu diasuh oleh Syekhul Akbar Ali Haidar.

Dalam program beasiswa YNA tersebut, saya boleh mengambil sejumlah studi di dua universitas kepausan (UK), yaitu universitas di bawah asuhan kementerian pendidikan TSV. Saya kemudian mengambil studi Alkitab dan Trinitas di fakultas teologi, di UK.St Thomas Aquinas (Angelicum), kampus yang dikelola kongregasi Dominikan – yang dikenal konservatif dan tradisional. Selain itu, saya juga mengambil studi Kristologi dalam Globalisasi dan studi privat dengan dekan saat itu di fakultas misiologi di UK Gregoriana, kampus yang dikelola kongregasi Yesuit – yang dikenal liberal dan progresif.

Dua kampus itu hanya berbeda jarak beberapa kilometer saja. Saya pernah kuliah dalam sehari di dua kampus tersebut hanya berbeda waktu sekitar 20 menit saja, sehingga saya harus berjalan cepat seperti orang Eropa untuk tiba tepat waktu di kelas. Maklum saja, sebagai orang Jawa keturunan putri Solo, saya biasa berjalan “klemak klemek seperti macan lapar” (begitu kata lagu Putri Solo).

Di samping itu, yang terpenting saya juga hidup di asrama The Lay Centre. Ini asrama untuk mahasiswa awam yang kuliah di UK. Ada tujuh UK di Roma. Mahasiswa awam berarti mahasiswa yang bukan dari seminari (pastor, calon pastor, bruder, dst), suster Katholik, kongregasi, atau semacam itu.

Asrama TLC ini terletak di dalam kompleks biara kongregasi Passionisti, tepatnya di lantai pertama, dan ketiga. Kompleks ini ada tepat di atas bukit Claudia, di samping Kolosseum, jadi jendela kamar saya menghadap sebagian Kolosseum. Setiap harus ke kampus, dan kembali, saya pasti harus melalui Kolosseum, kecuali jika naik bus: pulangnya saya akan lewati gereja purba dari abad ke-3 atau 4 M, Gereja St. Klemen favorit saya. Tepat di depan warung makanan halal dua pria Mesir sahabat saya asal Mesir, Saba Ali.

Pada waktu itu, kawan-kawan seasrama saya antara lain adalah:
- calon imam dari Bosnia, bermazhab Hanafi, yang kuliah studi Kekristenan di Gregoriana,
- arkeolog Yahudi agnostik asal Israel,
- Muslimah asal Mesir sesama penerima beasiswa YNA, Saba Ali, dia tidak berjilbab serta fasih berbahasa Italia,
- doktor-doktor Katholik dari berbagai negara Eropa, AS dan Amerika Latin yang kuliah lagi untuk paroki mereka,
- mahasiswa Ortodoks dari berbagai gereja Ortodoks, di antaranya  mahasiswa Ortodoks Serbia dan Georgia yang belajar Islamologi, dan seorang teman asal AS yang merupakan jemaat gereja Ortodoks Oriental (Gereja Malankara) yang kakek dan neneknya lahir di Hindia Belanda.

Di asrama ini kami punya kegiatan rutin yang harus diikuti semua penghuni asramanya yaitu makan malam bersama, dengan doa bersama bergantian dipimpin oleh salah satu dari kami, dan diskusi seminggu sekali setiap Rabu Malam setelah misa bersama (misa tidak wajib diikuti). Praktisnya, kami belajar hidup berdialog mengenai iman dan budaya kami masing-masing.

Diskusi Rabu malam itu biasanya menghadirkan pastor, pendeta, rabbi, dan pemimpin dari komunitas Islam setempat sebagai narsum.

Selain itu, asrama kami saat ultah ke-25 menyelenggarakan berbagai kegiatan internasional mengundang tokoh-tokoh keagamaan dari Eropa dan AS, termasuk dari Israel dan Palestina, dari bekas Yugoslavia, dsb. Puncaknya, adalah suatu perayaan di dalam katedral St John of the Cross, dimana kami memberikan doa dalam bahasa masing-masing. Saya membawakan doa untuk semua orang beriman dalam bahasa Indonesia, dan membuat para suster Katholik asal Indonesia yang hadir tidak menyangka dan menangis terharu.

Saya adalah mahasiswa ketiga dari Indonesia yang dikirim YNA. Mahasiswa pertama adalah Syekh Yusuf Daud, juga mahasiswa ICAS sebelum saya, yang kedua adalah Aan Rukmana (ketika berangkat kabarnya dia sedang memiliki hubungan dekat dengan penyanyi terkenal Sulis, tetapi kemudian mereka tidak berjodoh). Saya adalah mahasiswi Muslim pertama yang pergi, dan mahasiswa yang kedua tinggal di The Lay Centre setelah Aan Rukmana.

Saya datang tepat pada Oktober 2011 dilaksanakan World Peace Prayer Day di Assisi, dengan ribuan perwakilan pemimpin agama-agama dari berbagai negara datang berkumpul untuk berdoa bersama demi perdamaian dunia (menjelang pecah perang Suriah!)

Saya dan Syekh Yusuf Daud juga sama-sama aktif di Focolare. Itu sebabnya saya juga ke kota Loppiano, kotanya Focalare. Dalam Buyruk Alfurqan vol.4, Syekh Ali Haidar memuji Chiara Lubich pendiri Focolare untuk syarahan mengenai Injil Yohanes 17:21. Yaitu, mengenai tauhid sebagai satu kemanusiaan. Saya sudah mengunjungi pula makam Chiara Lubich di pinggir Roma.

Selain itu, kedekatan saya dengan kongregasi Xaverian, terutama Rm. Matteo Rebecchi membuat saya bisa ke beberapa kota di Italia termasuk memperkenalkan Islam Indonesia di paroki asalnya di Pizzigetthone. Saya juga dekat dengan kongregasi Scalabriani yang bergerak di bidang kelompok migran dan dunia maritim, karena banyak seminariannya berasal dari NTT, Indonesia.

Salah satu pejabat TSV dari Indonesia yang saya kenal baik adalah Rm Markus SVD. Di samping itu, saya beberapa kali berpapasan dengan Kardinal  Jean-Louis Pierre Tauran yang memimpin departemen PCID saat itu. Kardinal Tauran orang yang sangat ramah. Saya berpapasan di lift atau di koridor setiap mau mengambil uang beasiswa (duh, itu penting banget ya!).  Pada 2014 dia diangkat sebagai Camerlengo oleh Paus Fransiskus sampai wafatnya pada Juli 2018.

Jadi, selama di Roma saya juga mengunjungi semua kampus UK (kecuali Salesian), karena teman-teman seasrama saya bukan hanya dari Gregoriana dan Angelicum. Kafe di kampus Laterano menurut saya menyajikan kopi paling enak dan paling menarik, dengan barista paling ramah. Saya juga senang mengunjungi teman-teman WNI lain dan beranjangsana ke kongregasi-kongregasi dari teman-teman sekelas saya.

Saya memerlukan semua pengalaman itu karena: Pertama, sebagai darwis; Kedua, sebagai sastrawan.

Ini salah satu sebabnya, tidak lama kemudian setelah saya kembali ke Indonesia, saya diangkat sebagai mursyid dalam tarekat saya pada 2015. Saya dianggap cukup memiliki pengalaman dan pelatihan untuk meningkatkan diri saya lebih jauh lagi.

Sebulan menjelang saya pulang ke Indonesia, kami di The Lay Centre memiliki teman seasrama yang cukup keren. Dia adalah mantan presiden Irlandia yang menjabat selama dua periode (hampir 14 tahun). Dia kuliah lagi untuk pekerjaan barunya di bidang hukum perkawinan, karena dia menjadi aktivis di bidang tersebut di dunia internasional. Dia adalah Mary McAlesee. Kami biasa makan malam bareng, makan siang dan sarapan bareng juga. Saat tugas piket, dia juga ikut piket mencuci piring dan membereskan ruang makan. Begitu pun saat makan siang dan sarapan, dia akan mencuci piringnya sendiri. Ke kampus pun dia berjalan kaki dan bersama suaminya dia biasa makan di pinggir jalan juga. Ini foto saya dengannya.

Nah, buat saudara saudari Muslim, hanya ada tujuh UK saat ini dan saya lampirkan di bawah ini daftar UK tersebut. Pendeta-pendeta Katholik Roma yang disebut pastor itu tidak menikah. Pastor Katholik Roma yang terakhir kali menikah sekitar seribu tahun lalu. Jadi, kalau mendengar cerita Ignatius Yohanes lulusan IVS itu, mana mungkin ada Kardinal Katholik Roma yang menikah dan punya anak? Ini mungkin kardinal dari Katholik berbasis Amerika karena biasanya Evangelikal itu berpusat di AS atau mungkin Katholik Dunia Fantasi.

Memang Pastor Orthodoks (Kristen Timur) boleh memilih menikah sebelum ditahbiskan sebagai pendeta, tetapi gelar tertinggi mereka bukan Kardinal. Sementara itu, biasanya pendeta Protestan diekspektasi atau dianjurkan untuk menikah dan sedikit sekali gereja Protestan yang pendeta tertingginya bergelar Kardinal. Selain Katholik Roma, ada Anglikan, dan ada pula Katholik Non-Roma, yang juga mengklaim sebagai Katholik tetapi pusatnya antara lain di AS, Polandia dan Belanda. Selain itu ada pula gereja-gereja Ortodoks Oriental yang banyak orang Kristen sendiri tidak tahu sehingga ribut soal teks-teks Alquran yang menunjukkan keawaman mereka mengenai dunia Yudeo-Kristen Oriental di Nabatea.

Untuk para "muallaf" yang mau kaya dengan mengibul: Pelajarilah Kekristenan dengan lebih 40.000 gerejanya terlebih dahulu sebelum Anda mengibul. Biar mengibulnya tampak keren.

Untuk Muslim: Jangan mau dibohongi para partikelir muallaf seperti Ignatius Yohanes. Saya sudah melanglang buana masuk gereja Katholik Roma, tinggal di biaranya, dan bertemu kardinal-kadinalnya, tidak perlu mengaku-aku mantan pastor, mantan suster atau mantan Katholik. Di dunia internasional, sudah bertahun-tahun ada kerjasama antar-iman, ini malah di sini senang yang cari ribut antar-iman.

Billahifisabililhaq fastabiqul khairat,
Syekhah Hefzibah.

Tujuh Universitas Kepausan di Roma, Italia:
• Pontifical Gregorian University 'Gregoriana' (Society of Jesus; 'Jesuits')
• Pontifical Lateran University 'Lateranum' (Diocese of Rome)
• Pontifical Salesian University 'Salesianum' (Society of St. Francis de Sales; 'Salesians of Don Bosco')
• Pontifical University of the Holy Cross 'Santa Croce' (Personal Prelature of the Holy Cross; 'Opus Dei')
• Pontifical University of St. Anthony 'Antonianum' (Order of Friars Minor; 'Franciscans')
• Pontifical University of St. Thomas Aquinas 'Angelicum' (Order of Preachers; 'Dominicans')
• Pontifical Urban University 'Urbaniana' (Congregation for the Evangelization of Peoples; 'Propaganda Fide’)

Wednesday, July 8, 2020

Survei Fakultas Hukum Gereja Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, Italia


Subyek: Survei Fakultas Hukum Gereja Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, Italia
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/survei-fakultas-hukum-gereja.html]

Para Romo, Diakon, Frater, Bruder, Suster, Bapak / Ibu, Rekan Orang Muda, Saudara-Saudari ytk,

Pandemi Covid-19 yang menyebar hampir di semua negara sejak beberapa bulan lalu, membawa perubahan luar biasa di berbagai bidang kehidupan umat manusia, tak terkecuali dalam kehidupan menggereja.

Fakultas Hukum Gereja Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, ingin melakukan survei di Asia, Afrika dan Oseania, tentang bagaimana umat Katolik menghayati iman mereka dan bagaimana para pelayan kudus (para uskup, imam, diakon) menyediakan kebutuhan spiritual dan non-spiritual bagi orang-orang selama pandemi Covid-19.

Mohon kesediaan para Romo, Diakon, Frater, Bruder, Suster, Bapak / Ibu, Rekan Orang Muda, Saudara-Saudari, menyediakan waktu beberapa menit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam survei ini dan mengirimkan kembali ke alamat E-mail yang telah disediakan.

Mohon kesediaannya juga untuk meneruskan pesan dan link survei ini ke sebanyak mungkin orang-orang Katolik yang Anda kenal.

Atas bantuan dan kerjasamanya, kami mengucapkan banyak terima kasih.


P. Victor Bani, SVD
Roma – Italia

Nb. Link Survei >>  https://forms.gle/F96HHrAVB5UTBaxB8

Monday, July 6, 2020

Tanggung Jawab Memelihara Kesehatan


Tanggungjawab Setiap Orang Menjaga Kesehatan Tubuh

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"(1Kor 6:19-20)

*Aplikasi dlm kehidupan*
   Umat beriman yang terkasih dalam Tuhan, suatu ketika ada seorang ibu naik mobil angkutan umum setelah mengunjungi temannya yang suaminya baru saja meninggal. Tiba-tiba sebuah angkutan umum lain berjalan ngebut dan ugal-ugalan, kemudian mengerem dengan sangat kasar sehingga bannya terdengar berdecit-decit. Ibu tersebut berkomentar, "Wah orang itu tidak sayang sama mobilnya." Sopir pun berkata, "Begitulah bu, walaupun mobilnya masih baru, tetapi kalau tidak dipelihara dengan baik akan rusak. Sama dengan tubuh manusia kalau tidak diperlakukan dengan baik akan cepat rapuh."  Tiba-tiba ibu tersebut ingat akan temannya yang suaminya baru saja meninggal. Almarhum suami temannya itu rajin bekerja dan melayani Tuhan. Tetapi ia tidak sadar bahwa ia masih hidup dalam tubuh jasmani yang terbatas dan butuh perhatian yang cukup. Suaminya itu menderita penyakit paru-paru basah yang membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Tetapi ia tidak menjaga kondisi tubuhnya, sebaliknya ia memaksa tubuhnya untuk bekerja melebihi batas kemampuannya. Akhirnya hal itu mengantarkannya pada kematian. Beberapa situs kesehatan mengatakan bahwa kurangnya asupan makanan dan waktu istirahat akan memicu berkembangnya penyakit-penyakit berbahaya.

  Tubuh kita adalah Bait Suci yang harus tetap dijaga sebaik mungkin. Melalui para dokter, Tuhan memberitahu kita bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh. Tuhan memang berjanji untuk memelihara hidup kita, tetapi kita juga harus turut ambil bagian di dalam pemeliharaan Tuhan.
*1 Kor 10:31* berkata, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."
Itu artinya Tuhan memberikan waktu untuk bekerja, beristirahat, makan dan minum dengan sebaik mungkin. Dengan menjaga kondisi tubuh kita dan beristirahat yang cukup, berarti kita telah memuliakan Allah. Ingat, Tuhan Yesus sendiri pun membutuhkan istirahat setelah melakukan tugas dan pelayanannya.
Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendampingi kita semua.

*Komunikasikan ke Tuhan*
Bapa di dalam surga,  bersama Santa Maria Goreti yang kami peringati hari ini,  kami mohon,  berilah kami hikmat agar dapat menjalani dan menjaga hidup kami dengan  baik. Doa ini kami sampaikan ke hadirat-Mu melalui perantaraan  Yesus Kristus Putera-Mu, Tuhan dan Juru Selamat  kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus,  kini dan sepanjang  segala abad,  Amin,  Salam, 🙏😇✝️🌷
---------------

HIDUP BAGAIKAN PERTANDINGAN

Hidup ini seperti sebuah pertandingan.  Setiap orang mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan pertandingan secara terhormat. Di dalam pertandingan yang sportif tidak ada yang namanya kekalahan. Kekalahan adalah kemenangan tertunda. Barangsiapa tidak dapat menerima kekalahannya, ia tidak akan pernah dapat merayakan kemenangan. Karena itu, pemain yang paling hina dalam hidup ini adalah mereka yang menyerah di tengah pertandingan karena hanya tidak sanggup melewati tantangan. Pemain seperti itu bagaikan  orang yang mengakhiri hidupnya sendiri sebelum waktunya (bunuh diri)  karena tidak sanggup menanggung bebannya.

Karena pertandingan kehidupan adalah sebuah kewajiban, maka lebih terhormat kalah dalam pertandingan secara kesatria daripada menyerah di tengah pertandingan. Menyerah di tengah pertandingan adalah hal yang sangat memalukan bagi dirinya dan keluarganya sampai akhir hayatnya. Menyerah dalam pertandingan akan menjadi sejarah kelam kehidupan yang tidak pernah terlupakan. Orang-orang seperti ini telah membunuh sendiri masa depan generasinya. Sebaliknya kekalahan secara kesatria hanyalah merupakan kondisi sementara (tiarap) untuk menyusun kembali kekuatan dan  strategi yang lebih  baik agar dapat mencapai tujuan secara tepat. Kekalahan secara kesatria akan menjadi pembelajaran yang berharga untuk meraih kemenangan dalam kehidupan dengan mulia. Pemenang sejati bukan berarti tidak pernah kalah, tetapi yang berani  bangkit dari keterpurukannya.

Mari kita saling mendukung untuk menyelesaikan pertandingan yang telah dipercayakan Allah kepada kita sebaik-baiknya agar kita dapat mengakhiri hidup kita secara terhormat dan mulia. Itulah inspirasi  kehidupan yang akan menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu kita.

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya” (2 Timotius 4 : 7 - 8)

Salam Tangguh
Romo Felix Supranto, SS.CC

Sunday, July 5, 2020

Akhirnya terbongkar Siapa Ustadz Yohanes Ignatius Serjana Theologia.


Akhirnya terbongkar Siapa Ustadz Yohanes Ignatius Serjana Theologia.
[https://gerejark.blogspot.com/2020/07/akhirnya-terbongkar-siapa-ustadz.html]

Thursday, July 2, 2020

Rindu Akan Kematian


*Rindu akan Kematian*

Sudah lama dia menginginkan. Berulangkali dia mengatakannya. Dia semakin mengungkapkan itu setelah ibunya wafat di usia lanjut, sekitar 110 tahun, beberapa bulan lalu. Itulah kerinduannya: rindu akan kematian.

Ketika raganya semakin rapuh, tidak ada selera makan dan bicara lagi, kalau ditanya, jawabannya selalu senada: kerinduan akan kematian. Waktunya dianggapnya sudah dekat. Demikian juga saat Kamis pagi mau dibawa ke RS Elisabeth, Semarang, dia menyatakan yang sama. Di rumah sakit pun masih sempat mengutarakan yang sama, malahan ditambahi dengan perasaan sudah berjumpa dengan ibu dan kerabatnya yang sudah mendahului.

Mgr Julianus Sunarka, engkau sudah merasa waktunya tiba. Engkau merasa bahwa saatnya sudah selesai, sudah tuntas dengan apa yang engkau rasakan sebagai tugas panggilanmu. Cintamu akan pengembangan Gereja setempat dan bertumbuhnya para imam dioses, baik di Semarang dan terutama di Purwokerto menjadikanmu merasa sudah berbuah, sehingga engkau telah merasa siap meninggalkan itu dengan bangga. Engkau tidak ragu akan masa depan, dan karenanya mengaku bukan lagi pemilik masa depan itu.

Beberapa hari sebelum sungguh melemah, Mgr Narko masih sempat mencarikan sumber air untuk Girisonta. Itu peningalanmu untuk rumah yang ditempati, bahkan tempat istirahatmu. Engkau ingin memastikan kebutuhan dasar hidup rumah dan komunitas terjamin dan terjaga. Setelah memastikannya, engkau siap meningggalkannya.
Mgr Sunarka, saat istirahat sudah tiba. Engkau meninggalkan kami dengan wajah segar dan senyum cerah. Engkau pergi dengan lega dan damai, tak ada lagi kegelisahan dan kecemasan, bahkan pula tiada lagi rasa sakit.

Saat dipakaikan jubah, kasula dan lainnya oleh para suster di Elisabeth, engkau dengan tenang membiarkan digerakan, diangkat dan dipersiapkan. Semuanya berjalan dengan enak dan mudah. Engkau telah lega, telah damai. Istirahatmu begitu tenang, dalam senyum. Dia meninggalkan pertarungan hidup di dunia ini dengan tenang. Pergi sebagai pemenang.

Selamat jalan, Bapak Uskup, banyak yang sedih dan kehilangan. Namun engkau pergi dengan tenang dan menang. Engkau telah merindukannya, dan bahkan berharap segera terjadi. Engkau pergi tanpa duka, sebab engkau tahu kemana engkau pergi, dan kepada siapa engkau datang menghadap.

Mgr Julianus Sunarka, beristirahatlah pemenang, beristirahatlah dengan tenang!

Terimakasih atas segalanya. Jasamu tak akan lekang, walau engkau tahu waktumu berada dalam batas, namun engkau berada dalam deretan kaum pemenang kehidupan. Berkat Tuhan menyertaimu selalu. AMDG!

(Rm. T. Krispurwana Cahyadi)

Tags

Berita (144) Gereja Katolik (129) Iman Katolik (76) Apologetik (71) Paus (44) Tradisi (41) Kitab Suci (30) Politik (29) Yesus (28) Magisterium (24) Doa (22) Katolik Timur (20) Kesaksian (19) Katekese Liturgi (18) Renungan (18) Maria (15) Tanya Jawab (13) Roh Kudus (10) Kamis Putih (9) Film (8) Karismatik (8) Prodiakon (8) Lektor (7) Natal (7) Petrus (7) Sakramen Ekaristi (7) Sakramen Perkawinan (7) Adven (6) Katekese Katolik (6) Lintas Agama (6) Pantang dan Puasa (6) Perayaan Ekaristi (6) Seputar Liturgi (6) Anglikan (5) Gua Maria (5) Hari Perayaan Santa Maria (5) Hari Raya / Solemnity (5) Ibadat Harian (5) Madah dan Lagu Liturgi (5) Masa Prapaskah (5) Piranti Liturgi (5) Berita Terkini (4) Doa Novena (4) Doa Rosario (4) Ibadat Peringatan Arwah (4) Inkulturasi Liturgi (4) Jumat Agung (4) Komuni Kudus (4) Minggu Palma (4) Musik liturgi (4) Rabu Abu (4) Sakramen Mahakudus (4) Surat Gembala Paus (4) Tri Hari Suci (4) Dirigen Paduan Suara (3) Doa Litani (3) Ibadat Rosario (3) Jalan Salib (3) K Evangelisasi Pribadi (3) Kisah Nyata (3) Lamentasi (3) Liturgi Anak (3) Malam Paskah (3) Mgr Antonius Subianto OSC (3) Misa Jumat Pertama (3) Misa Krisma (3) Misdinar (3) Ordo (3) Paduan Suara Gereja (3) Paus Fransiskus (3) Persatuan Gereja (3) Tahun Liturgi (3) Tata Gerak dalam Liturgi (3) Virus Covid-19 (3) Yohanes Paulus II (3) Analisis Tafsiran (2) Beato dan Santo (2) Berita Luar Negeri (2) Busana Liturgi (2) Doa Angelus (2) Doa Bapa Kami (2) Doa Dasar (2) Doa Persatuan (2) Doa Suami-Istri (2) Doa Utk Jemaat (2) Doa Utk Warga (2) Doa dan Ibadat (2) Dupa dalam Liturgi (2) Eksorsisme (2) Evangeliarium (2) Hati Kudus Yesus (2) Homili Ibadat Arwah (2) Ibadat Completorium (2) Ibadat Mitoni (2) Ibadat Syukur Midodareni (2) Mgr.Antonius Subianto OSC (2) Mujizat (2) Orang Kudus (2) Pekan Suci (2) Perarakan dalam Liturgi (2) Reformasi Gereja (2) Risalah Temu Prodiakon (2) Sharing Kitab Suci (2) Surat Gembala KWI (2) Surat Gembala Uskup (2) Tuguran Kamis Putih (2) Ada Harapan (1) Allah Pengharapan (1) Api Karunia Tuhan (1) Artikel Rohani (1) Baptis Darah (1) Baptis Rindu (1) Batak Toba (1) Berdoa Rosario (1) Bersaksi Palsu (1) Bhs Indonesia (1) Bhs Karo (1) Bulan Rosario (1) Bunda Maria (1) Carlo Acutis (1) Debat CP (1) Dei Verbum (1) Desa Velankanni (1) Diakon (1) Doa Bersalin (1) Doa Dlm Keberhasilan (1) Doa Dlm Kegembiraan (1) Doa Dlm Kesepian (1) Doa Katekumen (1) Doa Kebijaksanaan (1) Doa Kehendak Kuat (1) Doa Kekasih (1) Doa Kekudusan (1) Doa Kel Sdh Meninggal (1) Doa Keluarga Sakit (1) Doa Kerendahan Hati (1) Doa Kesabaran (1) Doa Keselamatan (1) Doa Ketaatan (1) Doa Ketabahan (1) Doa Orang Menderita (1) Doa Orang Sakit (1) Doa Pemb Pertemuan (1) Doa Penerangan RK (1) Doa Pengenalan (1) Doa Penutup Pertemuan (1) Doa Perjalanan (1) Doa Pertunangan (1) Doa Ratu Surga (1) Doa SeSdh Kelahiran (1) Doa Seblm Kelahiran (1) Doa Seblm Makan (1) Doa Semakin Dikenal (1) Doa Siap Mati (1) Doa Tanggung Jawab (1) Doa Ulang Tahun (1) Doa Untuk Anak (1) Doa Untuk Keluarga (1) Doa Utk Gereja (1) Doa Utk Masyarakat (1) Doa Utk Mempelai (1) Doa Utk Negara (1) Doa Utk Ortu (1) Doa Utk Pemuka (1) Doa Utk Penderita (1) Doa Utk Petugas (1) Doa Utk Rakyat (1) Doa Utk Tanah Air (1) Doa Utk Yg Membenci (1) Dogma (1) Doktrin (1) Dokumen Gereja (1) Dokumen Pernikahan (1) Dominicans (1) Dosa (1) Ekaristi Kudus (1) Enggan Beribadat (1) Epiphania (1) Film Terbesar (1) Firman Tuhan (1) Foto Kenangan (1) Generasi Muda (1) Gubernur Wasington (1) Haposan P Batubara (1) Hari Pesta / Feastum (1) Harus Bergerak (1) Hidup Kudus (1) Hidup Membiara (1) Homili Ibadat Syukur (1) Hukum Kanonik (1) Ibadat Jalan Salib (1) Ibadat Pelepasan Jenazah (1) Ibadat Pemakaman (1) Imam Jesuit (1) Investasi Surgawi (1) Jangan diam (1) Joko Widodo (1) Kalender Prapaska (1) Kebenaran KS (1) Keberadaan Allah (1) Kebohongan Pemimpin (1) Kejujuran (1) Kekuasaan Pelayanan (1) Kekudusan Degital (1) Kesehatan Tubuh (1) Komentar (1) Konsili Vat II (1) Konstantinovel (1) Kopi Asyik (1) Kristus Allah (1) Kualitas Hidup (1) Kumpulan cerita (1) Lawan Covid-9 (1) Lawan Terorisme (1) Lingkuangan Keluarga (1) Lingkup Jemaat (1) Lingkup Masyarakat (1) Liturgi Gereja (1) Luar Biasa (1) Lucu (1) Madu Asli (1) Mari Berbagi (1) Mateus 6 (1) Mayoritas Katolik (1) Menara Babel (1) Menghadapi Kematian (1) Menunggu Penyelamat (1) Mesin Waktu (1) Mgr A Subianto OSC (1) Misa Imlex (1) Misa Latin (1) Misa Online (1) Misionaris SCY (1) Mohon Bantuan (1) NKRI (1) Naskah WH (1) Oikoumene (1) Organis Gereja (1) PGI (1) Passion Of Christ (1) Pastoran (1) Penampakan Maria (1) Pendidikann Imam (1) Pengakuan Iman (1) Penghormatan Patung (1) Pentahbisan (1) Perbaikan (1) Perjamuan Kudus (1) Perkawinan Campur (1) Perkawinan Sesama Jenis (1) Persiapan Perkawinan (1) Pertemuan II App (1) Pertobatan (1) Pesan Natal (1) Pesan Romo (1) Pohon Cemara (1) R I P (1) Rasa Bersyukur (1) Rasul Degital (1) Rasul Medsos (1) Renungan Musim Natal (1) S3 Vatikan (1) SSCC Indonesia (1) Saksi Bohong (1) Salam Yosef (1) Saran Dibutuhkan (1) Sejarah (1) Selamat Paskah (1) Selingan (1) Sepuluh Perintah Allah (1) Sosialisasi APP (1) Spiritualitas (1) Sukarela (1) Surat bersama KWI-PGI (1) Surga (1) Survey (1) Survey KAJ (1) Tahun St Yosef (1) Teologi (1) Thema APP (1) Tim Liturgi (1) Tokoh Iman (1) Tokoh Internasional (1) Tokoh Masyarakat (1) Toleransi Agama (1) Tuhan Allah (1) Tujuan Hidup (1) Turut Berlangsungkawa (1) Usir Koruptor (1) Ust Pembohong (1) Video (1) Wejangan Paus (1) Yudas Iskariot (1) Ziarah (1)