Latest News

Showing posts with label Jalan Salib. Show all posts
Showing posts with label Jalan Salib. Show all posts

Sunday, February 10, 2013

Sejarah Jalan Salib

Ibadat Jalan Salib pada awal mulanya merupakan tradisi rohani yang hanya ada di Yerusalem dan daerah sekitarnya. Baru pada abad ke-12 mulai masuk ke dunia barat, dibawa oleh ksatria Perang Salib. Mereka menjelajah dan mengenal kota-kota suci yang telah dikuduskan oleh penderitaan dan kematian Yesus, lalu membawa tradisi ini kembali ke tanah air mereka.

Hampir semua Gereja didunia Barat, teristimewa pada masa Prapaskah, penderitaan dan wafat Yesus Kristus diperingati secara khusus. Orang kristen mengenang dan merenungkan kembali waktu itu dimana terpentas peritiwa sejarah yang paling berarti, yang membawa pembebasan kepada umat manusia sekaligus memberi suatu arah baru kepada kehidupan.

Para Paus mendorong perkembangan ibadat jalan salib ini dengan memberikan indulgensi. Dalam waktu singkat, ibadat ini berkembang pesat ke seluruh pelosok dunia, dan dapat dikatakan bahwa devosi dan ibadat ini menjadi kebiasaan umat beriman dan sangat digemari di seluruh dunia.

Untuk memperoleh indulgensi, orang harus menjalani jalan salib dari stasi ke stasi dan bagi suatu ibadat bersama akan diberikan indulgensi istimewa. Bagi para pasien dan orang sakit berat, cukup kalau mereka dalam sikap penuh hormat diberkati oleh seorang imam yang mendapatkan mandat dengan menggunakan sebuah Salib yang diberkati (Salib jalan salib). Indulgensi dapat diperoleh bagi diri sendiri atau diberikan/dilanjutkan kepada orang lain.

Sumber :
http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2012/07/sejarah-jalan-salib.html

Monday, March 26, 2012

Sejarah dan Asal Mula Jalan Salib

Umat Kristen abad pertama sangat menghormati tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan, karya, dan kematian Yesus. Di tempat-tempat yang suci itu didirikan kapel/gereja ataupun diletakkan batu khusus. Berdasarkan sebuah tulisan kuno dari Siria (abad V), Bunda Maria sendiri mengunjungi tempat-tempat itu.

Umat Kristen tinggal di kota Yerusalem hingga kira-kira tahun 70M. Menjelang serangan tentara Romawi terhadap bangsa Yahudi, mereka melarikan diri. Akibat serangan Roma, hancurlah Yerusalem serta Bait Sucinya. Serangan kedua, yang lebih dahsyat dilancarkan oleh Roma pada tahun 135M. Di atas puing-puing Yerusalem lama, Roma mendirikan sebuah kota baru dan beberapa kuil untuk dewa-dewi mereka.

Sesudahnya, semua orang Yahudi diusir dari Yerusalem dan dilarang berdiam di sana lagi. Dengan sendirinya semua orang Yahudi yang beriman Kristen terpaksa meninggalkan kota itu. Mereka mengungsi ke berbagai negara tetangga.

Nasib semua orang Kristen menjadi lebih baik pada awal abad IV setelah Konstantinus menjadi Kaisar Roma. Ia penguasa Romawi pertama yang berani mendukung umat Kristen. Ia memerintahkan bawahannya untuk mendirikan gereja yang indah di tempat Yesus pernah disalibkan dan dimakamkan. Gereja itu dikonsekrasikan pada tahun 335M dan dipandang sebagai gereja terindah di bumi zaman itu.

Tidak lama sesudahnya, kota Yerusalem dan tempat-tempat yang dikuduskan oleh Yesus, Maria (Bunda Yesus), dan para rasul mulai diziarahi oleh umat Kristen. Pada hari Kamis Putih, para peziarah dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem berkumpul di Taman Zaitun. Kemudian, mereka secara bersama-sama mengenang sengsara Yesus dengan menyusuri jalan dari Taman Getsemani hingga Bukit Golgota. Inilah catatan pertama tentang awal devosi yang kini dikenal sebagai Jalan Salib.

Mula-mula tidak ada perhentian-perhentian Jalan Salib seperti sekarang. Rute yang ditempuh dalam rangka Jalan Salib berubah dari waktu ke waktu. Malahan, masing-masing kelompok umat menawarkan sejumlah perhentian berbeda dan menetapkannya pada lokasi yang berbeda pula.

Pada abad XI�XIII, demi merebut tempat-tempat suci dari tangan bangsa asing yang menduduki Tanah Suci, umat Kristen melancarkan serangkaian perang yang dikenal dengan nama Crusade atau Perang Salib. Sejak itulah mulai ditunjuk sejumlah tempat yang berhubungan dengan Jalan Salib, antara lain Pintu Gerbang yang dilalui Yesus pada saat Ia keluar dari Yerusalem menuju Golgota, istana Herodes, tempat Pilatus mengadili Yesus, tempat Yesus disalibkan, lubang tempat berdirinya salib Yesus, lokasi makam Yesus, tempat Yesus menyapa perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisi-Nya, tempat Yesus berjumpa dengan bunda-Nya, tempat Veronika mengusap wajah Yesus.

Sejak tahun 1320 Ordo Fransiskan (OFM) diangkat sebagai ordo yang secara resmi wajib melindungi semua tempat suci di Tanah Suci. Sejak itu OFM rajin mempopulerkan devosi Jalan Salib, lebih-lebih karena St. Fransiskus Asisi mengalami stigmata.

Para biarawan Fransiskan mulai menetapkan nama dan tempat perhentian pada Jalan Salib. Mereka biasa memulai kebaktian Jalan Salib di Bukit Golgota dan mengakhirinya di istana yang dulu ditempati oleh Pilatus. Jumlah perhentiannya agak banyak. Dulu ada perhentian di tempat Yesus dicambuk, Yesus dimahkotai duri, Yesus diperlihatkan kepada rakyat oleh Pilatus (Ecce Homo), dan lain-lain.

Sejak abad XVI rute Jalan Salib dibalik sehingga Gereja Makam Suci di Golgota menjadi perhentian yang terakhir. Pada abad XVIII (tahun 1731) Paus Klemens XII baru menetapkan jumlah dan lokasi perhentian Jalan Salib secara definitif.

Sampai sekarang devosi Jalan Salib menjadi salah satu kebaktian utama para peziarah di Tanah Suci. Kebaktian itu diadakan di jalan-jalan Yerusalem yang sangat ramai dari dulu hingga sekarang. Oleh karena itu, kebanyakan peziarah memilih untuk melakukan Jalan Salib ketika masih sangat pagi agar terhindar dari berbagai gangguan pada jam-jam ramai.

Ibadat Jalan Salib juga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat-tempat peziarahan katolik, misalnya Gua Maria atau Gereja. Jarak antar perhentian dimodifikasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat peziarahan. Tetapi yang terpenting dalam melakukan setiap ziarah dan/atau jalan salib adalah kesadaran bahwa hidup kita di dunia inipun adalah sebuah peziarahan, sebuah perjalanan menuju Tuhan, maka Tuhanlah seharusnya yang menjadi tujuan dari setiap kegiatan/karya dalam peziarahan ini, dalam kesadaran itu pula dibangun semangat untuk peduli pada sesama teman sepeziarahan di dunia ini.

Sumber : http://programkatekese.blogspot.com/2011/03/sejarah-dan-asal-mula-jalan-salib.html

Saturday, March 17, 2012

Mengenal Masa Prapaskah

Masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu di Gereja. Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. �Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.� (Kej 2:7).

Forma ini mengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: �Bertobatlah dan percayalah pada Injil.� Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.

Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Warna Liturgi secara Umum adalah Ungu: lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah.

Pada tahun 2011 ini, Hari Rabu Abu diperingati pada tanggal 9 Maret 2011, di setiap Gereja Katolik akan dilaksanakan Ekaristi Rabu Abu beberapa kali untuk menerimakan abu kepada Umat. Masa Prapaskah akan dilaksanakan selama 40 hari (di luar hari Minggu, yang dipandang sebagai Hari Tuhan) mulai tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Hari Sabtu Vigili tgl. 23 April 2011.

Angka 40 (hari) diperoleh dari beberapa referensi dari Alkitab, yaitu: hujan selama 40 hari pada jaman Nabi Nuh sebelum Tuhan membuat perjanjian pada keluarga Nuh dan keturunannya (Kej 7:4); selama 40 hari Musa berada di puncak gunung Sinai sebelum menerima kesepuluh perintah Allah yang menjadi tanda Perjanjian Lama dengan umat Israel (Kel 24:18); perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji selama 40 tahun (Bil 14:33). Kesemuanya menandai masa pertobatan menuju suatu �kelahiran� baru. Dalam Injil kitapun membaca bagaimana Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya memberitakan kabar keselamatan (Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2).

St. Leo (461) adalah Bapa Gereja yang menyatakan bahwa tradisi berpuasa selama 40 hari ini merupakan tradisi dari para rasul dan ahli sejarah Socrates (433) dan St. Hieronimus Agung (420) juga mengatakan hal serupa.

Dalam semangat pertobatan itulah ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama masa Prapaskah sebagai berikut :

1. MASA PRAPASKAH adalah MASA RETRET AGUNG UMAT

* Masa Prapaskah sering disebut sebagai Retret Agung Umat, maka dalam masa Prapaskah umat diharapkan mendalami iman, pribadi maupun dalam komunitas, serta membiasakan diri dengan doa/renungan serta ibadat yang lebih intens.

* Masa pembinaan pertobatan dan penerimaan kembali mereka yang telah berdosa berat. Mereka yang terkena ekskomunikasi dibina untuk dibimbing kembali ke pangkuan Gereja. Paroki perlu mempersiapkan seorang yang khusus yang bijaksana dan berpengalaman dalam mendampingi para petobat yang hendak kembali dan akan diterima kembali dalam Gereja Katolik.

* Penerimaan Sakramen Tobat bagi umat biasanya dilaksanakan sebelum Pekan Suci. Dianjurkan penerimaan Sakramen Tobat juga diadakan di lingkungan-lingkungan untuk melayani mereka yang sakit, lanjut usia atau yang cacat. Untuk hal ini perlu koordinasi antara Pastor Paroki setempat dan ketua lingkungan setempat untuk mempersiapkan tempat dengan memperhatikan situasi dan kondisi umat lingkungan.

* Cara-cara mendekatkan diri pada Tuhan selama Masa Retret Agung Umat ini dapat pula dilaksanakan dengan menyangkal diri dengan membiasakan diri melakukan hal-hal baik, misalnya: Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja). Menyangkal kemalasan bangun pagi dan mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk merenungkan Kitab Suci atau mempelajari Katekismus Gereja Katolik.

* Diadakan pertemuan-pertemuan untuk sharing iman / ibadat / pendalaman iman di lingkungan setepat sejalan dengan tema yang telah ditetapkan oleh masing-masing keuskupan. Untuk Keuskupan Agung Jakarta telah ditetapkan tema APP Tahun 2011: �Mari Berbagi�, yang dijabarkan dalam 4 sub tema :

* Aku Diberi maka Aku Memberi
* Berbagi dalam Kekurangan
* Ekaristi Sumber Berbagi
* Komunitas Kristiani: Komunitas yang berbagi

2. PUASA DAN PANTANG sebagai bentuk MATI RAGA

* Pertama-tama perlu diketahui alasan mengapa kita berpuasa dan berpantang. Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.

* Pantang dan Puasa bukanlah alasan untuk malas atau segan untuk melakukan karya amal dan kebaikan bagi sesama. Justru pantang dan puasa seharusnya mengobarkan semangat untuk mulai peduli pada sesama, bekerja lebih giat dan rajin tanpa pamrih, tidak mudah mengeluh, tidak mudah putus asa, lebih memperhatikan tetangga/ kerabat yang kesusahan, menghibur mereka yang sedang sakit/ terkena musibah, semua hal ini juga dapat dilakukan. Selalu ada yang dapat kita lakukan sebagai bentuk pertobatan, (dan tidak terbatas pada tidak makan daging dan ikan), dan inilah esensi dari Masa Prapaska.

* Makna berpuasa dan berpantang : Secara kejiwaan, berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa. Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya. Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau. Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.

* Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

* Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

* Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya satu sehari, penulis menganjurkan makan kenyang pada waktu pagi atau siang hari, agar makanan dapat diolah menjadi tenaga untuk memenuhi aktifitas harian kita. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok.

* Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang, sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun, umat beriman, baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok, dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Artinya setiap orang Katolik sangat dianjurkan untuk memilih wujud pantangnya yang lebih tepat dan bermanfaat untuk membangun sikap tobat yang berguna untuk pengembangan imannya. Dengan demikian kita dijauhkan dari semangat legalistis dan minimalistis, dan dengan kesadaran pribadi berusaha mewujudkan hidup pertobatan kita, serta mengarahkan diri menuju hidup seorang beriman yang lebih berkualitas.

* Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang �shopping�, pantang ke bioskop, pantang �gossip�, pantang main �game� dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

* Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

* Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana,�Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah �..� (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

3. PENYISIHAN DERMA dalam KOTAK APP (Aksi Puasa Pembangunan)

* Sejalan dengan semangat makna Masa Prapaskah ialah bermatiraga dalam rangak pertobatan yang diwujudnyatakan dalam semangat doa dan kepedulian pada sesama, maka dalam Masa Prapaskah dibagikan kotak APP untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Kotak APP akan didistribusikan melalui ketua lingkungan masing-masing, atau melalui kelompok-kelompok kategorial atau komunitas-komunitas yang lain, misalnya sekolah, bina iman, kelompok katekumen dan lain-lain.

* Kotak APP dapat diperoleh untuk setiap keluarga (1 kotak untuk tiap keluarga) atau dapat juga perorangan (1 kotak APP untuk setiap orang), semuanya tergantung dari besarnya semangat berkorban, semangat berbagi dalam menjalankan APP dalam keluarga atau pribadi masing-masing. Bila kotak APP sudah penuh sementara masa Prapaskah masih berjalan dan dibutuhkan kotak APP lagi, silahkan menghubungi ketua lingkungan setempat atau pemimpin komunitas/kelompok ketegorial yang bersangkutan. Para ketua lingkungan harus dengan bijaksana memenuhi kebutuhan umat akan Kotak APP.

* Cara pengisian Kotak APP yang benar adalah dengan menyisihkan uang hasil dari berpantang dan berpuasa. Misalnya: bagi yang berpantang rokok, pada hari berpantang uang yang sedianya dipergunaka untuk membeli rokok maka dalam hari berpantang uang tersebut dimasukkan ke dalam kotak APP, atau misalnya dalam keluarga memutuskan makan daging, karena hari berpantang, maka uang belanja pastinya ada kelebihan karena tidak membeli daging, kelebihan inilah yang dimasukkan ke dalam Kotak APP. Para orangtua, guru, ketua lingkungan dan ketua komunitas harus memberikan penjelasan yang baik kepada anak-anak sehubungan dengan pengumpulan dana APP dalam kotak APP. Saya pribadi yakin anak-anak memiliki ketulusan dan semangat berbagi yang lebih besar bila diberi pengertian untuk menyisihkan uang jajan atau uang saku selama masa Prapaskah ini.

* Kotak APP akan dikumpulkan di akhir Masa Prapaskah, atau di awal Masa Paskah, tergantung kebijaksanaan masing-masing Paroki, untuk nantinya Dana APP dari seluruh paroki dikumpulkan ke Keuskupan, untuk dipergunakan bagi pelayanan warga miskin dan/atau pengembangan umat basis.

4. AMAL DAN KARYA SOSIAL selama MASA PRAPASKAH

* Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama, dalam hal ini semangat berbagi kepada yang miskin sangat dianjurkan untuk menjadi kegiatan prbadi atau kelompok. Pertama-tama memang harus mengevaluasi sikap pribadi kita kepada yang paling dekat misalnya pembantu rumah tangga dan supir. Kepedulian kepada sesama dapat pula diwujudkan dengan membagikan rejeki kita kepada orang miskin secara pribadi. Kegiatan amal pribadi ini sangat baik bila dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Sabda Yesus dapat menjadi pedoman di sini: �Apa yang diperbuat oleh tangan kananmu janganlah diketahui oleh tangan kirimu.� Juga kutipan dari Nabi Yesaya tentang Kesalehan yang sejati dapat menjadi pedoman : �

* Secara komunitas, kegiatan amal dan karya sosial kepada orang miskin sangat dianjurkan pada masa Prapaskah. Misalnya sebuah komunitas atau lingkungan melakukan karya sosial kepada yang miskin dalam Masa Prapaskah ini.

* Banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, �Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.�

5. IBADAT JALAN SALIB selama MASA PRAPASKAH

* Jalan Salib disusun berdasarkan meditasi St. Bernard, St. Fransiskus Asisi dan St. Bonaventura di abad pertengahan, yang kemudian dituangkan dalam 14 pemberhentian seperti yang kita kenal sekarang dari komunitas Fransiskan di abad ke 17. Tujuan renungan/ meditasi ini adalah supaya umat dapat merenungkan kisah sengsara Yesus dari saat sebelum wafat-Nya sampai Ia dikuburkan.

* Ibadat Jalan Salib diadakan setiap Hari Jumat selama Masa Prapaskah, Ibadat ini dapat dilaksanakan di Gereja atau dapat juga dilaksanakan di di setiap lingkungan di tempat yang sesuai. Doa jalan Salib pribadi atau bersama keluarga juga dianjurkan untuk dilaksanakan selama Masa Prapaskah.

* Doa Jalan Salib biasanya disesuaikan dengan tema APP di setiap Keuskupan.

* Jalan Salib juga dapat diadakan dengan sedikit improvisasi dan modifikasi agar lebih menghasilkan buah-buah kebaikan selama Masa Prapaskah atau lebih menguatkan tujuan tentang makna sebenarnya dari Masa Prapaskah. Satu hal yang pernah kami laksanakan ialah Jalan Salib dengan perhentian rumah-rumah orang sakit dan lansia. Dlam setiap rumah yang kami �pandang� sebagai sebuah perhentian Jalan Salib, kami bertemu Yesus yang sengsara dalam diri mereka yang sakit dan jompo, disitulah kami �membalut luka-luka Tuhan� dengan menghibur dan mendoakan orang-orang sakit dan jompo tersebut.

6. LITURGI YANG BERBEDA selama MASA PRAPASKAH

* Kemuliaan dan Alleluia tidak dinyanyikan selama masa Prapaskah, kecuali pada hari raya wajib selama masa Prapaskah, yaitu HR St. Yusuf (tgl. 19 Maret) dan HR Kabar Sukacita (tgl. 25 Maret)

* Ikon-ikon kudus ditutupi, menandakan masa �umat di padang gurun�, hiasan-hiasan sebaiknya tidak dibuat mewah, hiasan bunga ditiadakan selama masa Prapaskah. Alat-alat musik hanya boleh dimainkan secara sederhana untuk mengiringi nyanyian dan yang menggarisbawahi ciri tobat.

* Sejalan dengan itu, maka Perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan resepsi tidak dianjurkan selama masa Prapaskah. Demikian biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Tetapi pemberesan perkawinan bagi mereka yang terkena ekskomunikasi sangat dianjurkan selama Masa Prapaskah (lihat poin di atas). Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.

* Hari Minggu Palma : Mengenangkan Sengsara Tuhan. Liturgi dimulai dengan upacara di luar Gereja, dilanjutkan perarakan menuju Gereja sambil membawa daun-daun palma yang telah diberkati. Dalam Bacaan terdapat Kisah Sengsara Yesus, untuk tahun 2011 (Tahun Liturgi A), dibacakan Kisah Sengsara menurut St. Matius

Liturgi Tri Hari Suci.

* Kamis Putih: Penetapan Perjamuan Suci / Peringatan Perjamuan Malam Terakhir.
Pagi hari di Katedral: Misa Krisma
warna liturgi : Putih, ada pembasuhan kaki, perarakan dan pentahtaan Sakramen Mahakudus, hiasan altar �dilucuti� setelah Ekaristi (terakhir).
ibadat tuguran: satu jam bersama Yesus, ibadat ini dapat dilaksanakan secara umum setiap jam atau bergiliran tiap lingkungan.

* Jumat Agung : Peringatan Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.
Altar polos dan bersih dari segala hiasan, tabernakel kosong dan terbuka.
Warna liturgi: Merah, tidak ada Ekaristi, tidak ada Tanda Salib, tidak ada nyanyian, kecuali Bait Pengantar Injil, langsung pembacaan KS, Pasio (Kisah Sengsara Tuhan) dari Injil Yohanes, Penghormatan Salib, Doa Umat meriah, Berkat meriah.
Dapat diterimakan komuni setelah penghormatan Salib.

* Sabtu Vigili: Malam Tirakatan Kebangkitan Tuhan: Merenungkan Tuhan yang Bangkit dan mengalahkan maut, membawa Terang dan memperbaharui hidup umat manusia.
Liturgi Cahaya: Upacara Lilin Paskah dan Pujian Paskah
Liturgi Bacaan: Dibacakan 9 Bacaan Kitab Suci : 7 dari PL dan 1 Surat St Paulus dan Kutipan Injil Matius (Tahun A)
Liturgi Baptis: Pemberkatan Air dan Pembaharuan Janji Baptis, Pemercikan Air Baptis kepada seluruh umat, malam paling tepat bila mau mengadakan pembaptisan.
Liturgi Ekaristi dan Berkat Paskah meriah dengan Alleluia.

* HR Paskah Kebangkitan Tuhan: Bersukacita karena Tuhan telah bangkit,
Ekaristi Pagi : Resurrexit, Kabar Sukacita karena Tuhan telah bangkit (Yoh 20:1-9)
Ekaristi Sore : Kebangkitan Tuhan Mengobarkan Semangat bagi yang Putus Asa (Luk 24:13-35)

Sumber : http://parokiyakobus.wordpress.com/2011/03/11/3774/

Tags

Berita (144) Gereja Katolik (129) Iman Katolik (76) Apologetik (71) Paus (44) Tradisi (41) Kitab Suci (30) Politik (29) Yesus (28) Magisterium (24) Doa (22) Katolik Timur (20) Kesaksian (19) Katekese Liturgi (18) Renungan (18) Maria (15) Tanya Jawab (13) Roh Kudus (10) Kamis Putih (9) Film (8) Karismatik (8) Prodiakon (8) Lektor (7) Natal (7) Petrus (7) Sakramen Ekaristi (7) Sakramen Perkawinan (7) Adven (6) Katekese Katolik (6) Lintas Agama (6) Pantang dan Puasa (6) Perayaan Ekaristi (6) Seputar Liturgi (6) Anglikan (5) Gua Maria (5) Hari Perayaan Santa Maria (5) Hari Raya / Solemnity (5) Ibadat Harian (5) Madah dan Lagu Liturgi (5) Masa Prapaskah (5) Piranti Liturgi (5) Berita Terkini (4) Doa Novena (4) Doa Rosario (4) Ibadat Peringatan Arwah (4) Inkulturasi Liturgi (4) Jumat Agung (4) Komuni Kudus (4) Minggu Palma (4) Musik liturgi (4) Rabu Abu (4) Sakramen Mahakudus (4) Surat Gembala Paus (4) Tri Hari Suci (4) Dirigen Paduan Suara (3) Doa Litani (3) Ibadat Rosario (3) Jalan Salib (3) K Evangelisasi Pribadi (3) Kisah Nyata (3) Lamentasi (3) Liturgi Anak (3) Malam Paskah (3) Mgr Antonius Subianto OSC (3) Misa Jumat Pertama (3) Misa Krisma (3) Misdinar (3) Ordo (3) Paduan Suara Gereja (3) Paus Fransiskus (3) Persatuan Gereja (3) Tahun Liturgi (3) Tata Gerak dalam Liturgi (3) Virus Covid-19 (3) Yohanes Paulus II (3) Analisis Tafsiran (2) Beato dan Santo (2) Berita Luar Negeri (2) Busana Liturgi (2) Doa Angelus (2) Doa Bapa Kami (2) Doa Dasar (2) Doa Persatuan (2) Doa Suami-Istri (2) Doa Utk Jemaat (2) Doa Utk Warga (2) Doa dan Ibadat (2) Dupa dalam Liturgi (2) Eksorsisme (2) Evangeliarium (2) Hati Kudus Yesus (2) Homili Ibadat Arwah (2) Ibadat Completorium (2) Ibadat Mitoni (2) Ibadat Syukur Midodareni (2) Mgr.Antonius Subianto OSC (2) Mujizat (2) Orang Kudus (2) Pekan Suci (2) Perarakan dalam Liturgi (2) Reformasi Gereja (2) Risalah Temu Prodiakon (2) Sharing Kitab Suci (2) Surat Gembala KWI (2) Surat Gembala Uskup (2) Tuguran Kamis Putih (2) Ada Harapan (1) Allah Pengharapan (1) Api Karunia Tuhan (1) Artikel Rohani (1) Baptis Darah (1) Baptis Rindu (1) Batak Toba (1) Berdoa Rosario (1) Bersaksi Palsu (1) Bhs Indonesia (1) Bhs Karo (1) Bulan Rosario (1) Bunda Maria (1) Carlo Acutis (1) Debat CP (1) Dei Verbum (1) Desa Velankanni (1) Diakon (1) Doa Bersalin (1) Doa Dlm Keberhasilan (1) Doa Dlm Kegembiraan (1) Doa Dlm Kesepian (1) Doa Katekumen (1) Doa Kebijaksanaan (1) Doa Kehendak Kuat (1) Doa Kekasih (1) Doa Kekudusan (1) Doa Kel Sdh Meninggal (1) Doa Keluarga Sakit (1) Doa Kerendahan Hati (1) Doa Kesabaran (1) Doa Keselamatan (1) Doa Ketaatan (1) Doa Ketabahan (1) Doa Orang Menderita (1) Doa Orang Sakit (1) Doa Pemb Pertemuan (1) Doa Penerangan RK (1) Doa Pengenalan (1) Doa Penutup Pertemuan (1) Doa Perjalanan (1) Doa Pertunangan (1) Doa Ratu Surga (1) Doa SeSdh Kelahiran (1) Doa Seblm Kelahiran (1) Doa Seblm Makan (1) Doa Semakin Dikenal (1) Doa Siap Mati (1) Doa Tanggung Jawab (1) Doa Ulang Tahun (1) Doa Untuk Anak (1) Doa Untuk Keluarga (1) Doa Utk Gereja (1) Doa Utk Masyarakat (1) Doa Utk Mempelai (1) Doa Utk Negara (1) Doa Utk Ortu (1) Doa Utk Pemuka (1) Doa Utk Penderita (1) Doa Utk Petugas (1) Doa Utk Rakyat (1) Doa Utk Tanah Air (1) Doa Utk Yg Membenci (1) Dogma (1) Doktrin (1) Dokumen Gereja (1) Dokumen Pernikahan (1) Dominicans (1) Dosa (1) Ekaristi Kudus (1) Enggan Beribadat (1) Epiphania (1) Film Terbesar (1) Firman Tuhan (1) Foto Kenangan (1) Generasi Muda (1) Gubernur Wasington (1) Haposan P Batubara (1) Hari Pesta / Feastum (1) Harus Bergerak (1) Hidup Kudus (1) Hidup Membiara (1) Homili Ibadat Syukur (1) Hukum Kanonik (1) Ibadat Jalan Salib (1) Ibadat Pelepasan Jenazah (1) Ibadat Pemakaman (1) Imam Jesuit (1) Investasi Surgawi (1) Jangan diam (1) Joko Widodo (1) Kalender Prapaska (1) Kebenaran KS (1) Keberadaan Allah (1) Kebohongan Pemimpin (1) Kejujuran (1) Kekuasaan Pelayanan (1) Kekudusan Degital (1) Kesehatan Tubuh (1) Komentar (1) Konsili Vat II (1) Konstantinovel (1) Kopi Asyik (1) Kristus Allah (1) Kualitas Hidup (1) Kumpulan cerita (1) Lawan Covid-9 (1) Lawan Terorisme (1) Lingkuangan Keluarga (1) Lingkup Jemaat (1) Lingkup Masyarakat (1) Liturgi Gereja (1) Luar Biasa (1) Lucu (1) Madu Asli (1) Mari Berbagi (1) Mateus 6 (1) Mayoritas Katolik (1) Menara Babel (1) Menghadapi Kematian (1) Menunggu Penyelamat (1) Mesin Waktu (1) Mgr A Subianto OSC (1) Misa Imlex (1) Misa Latin (1) Misa Online (1) Misionaris SCY (1) Mohon Bantuan (1) NKRI (1) Naskah WH (1) Oikoumene (1) Organis Gereja (1) PGI (1) Passion Of Christ (1) Pastoran (1) Penampakan Maria (1) Pendidikann Imam (1) Pengakuan Iman (1) Penghormatan Patung (1) Pentahbisan (1) Perbaikan (1) Perjamuan Kudus (1) Perkawinan Campur (1) Perkawinan Sesama Jenis (1) Persiapan Perkawinan (1) Pertemuan II App (1) Pertobatan (1) Pesan Natal (1) Pesan Romo (1) Pohon Cemara (1) R I P (1) Rasa Bersyukur (1) Rasul Degital (1) Rasul Medsos (1) Renungan Musim Natal (1) S3 Vatikan (1) SSCC Indonesia (1) Saksi Bohong (1) Salam Yosef (1) Saran Dibutuhkan (1) Sejarah (1) Selamat Paskah (1) Selingan (1) Sepuluh Perintah Allah (1) Sosialisasi APP (1) Spiritualitas (1) Sukarela (1) Surat bersama KWI-PGI (1) Surga (1) Survey (1) Survey KAJ (1) Tahun St Yosef (1) Teologi (1) Thema APP (1) Tim Liturgi (1) Tokoh Iman (1) Tokoh Internasional (1) Tokoh Masyarakat (1) Toleransi Agama (1) Tuhan Allah (1) Tujuan Hidup (1) Turut Berlangsungkawa (1) Usir Koruptor (1) Ust Pembohong (1) Video (1) Wejangan Paus (1) Yudas Iskariot (1) Ziarah (1)