Latest News

Showing posts with label Kitab Suci. Show all posts
Showing posts with label Kitab Suci. Show all posts

Monday, March 4, 2013

Kitab Deuterokanonika dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks

Kitab-kitab Deuterokanonika dalam Alkitab adalah kitab-kitab yang dipandang sebagai bagian yang kanonik dari Perjanjian Lama Kristiani oleh Gereja Katolik Roma dan Kekristenan Timur akan tetapi tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani, yang kerap dipandang protokanonik. Perbedaan ini telah menimbulkan perdebatan dalam Gereja awal mengenai apakah kitab-kitab tersebut dapat dibacakan dalam gedung-gedung Gereja dan karena itu dapat diklasifikasikan sebagai naskah-naskah yang kanonik.

Kata deuterokanonika berasal dari Bahasa Yunani yang artinya 'termasuk kanon kedua'. Etimologi kata ini membingungkan, namun mengindikasikan keragu-raguan dalam penerimaan kitab-kitab tersebut ke dalam kanon oleh beberapa pihak. Perlu dicermati bahwa istilah tersebut tidak berarti non-kanonik; sekalipun istilah tersebut kadang-kadang digunakan sebagai eufemisme untuk menyebut kitab-kitab Apokrif.

Umat Kristiani Protestan biasanya tidak menggolongkan kitab apapun sebagai kitab "deuterokanonika"; kitab-kitab itu mereka keluarkan dari Alkitab, atau mengelompokkannya dalam bagian tersendiri yang disebut Apokrif. Kemiripan makna antara istilah-istilah yang berbeda ini menimbulkan kebingungan antara deuterokanonika Katolik Roma dan Ortodoks dengan naskah-naskah yang dianggap non-kanonik oleh satu atau kedua kelompok umat Kristiani tersebut.


Gereja Katolik

Istilah Deuterokanonika pertama kali digunakan pada tahun 1566 oleh orang-orang Kristen yang sebelumnya beragama Yahudi dan teolog Katolik Sixtus dari Siena untuk menyebut naskah-naskah Kitab Suci Perjanjian Lama yang kanonisitasnya ditetapkan bagi umat Katolik oleh Konsili Trente, namun telah dikeluarkan dari beberapa kanon terdahulu, teristimewa di Timur. Penerimaan akan kitab-kitab tersebut di antara umat Kristiani awal tidaklah universal, namun konsili-konsili regional di Barat menerbitkan kanon-kanon resmi yang memasukkan kitab-kitab tersebut sejak abad ke-4 dan ke-5.

Naskah-naskah Kitab Suci deuterokanonika adalah:



    Pengaruh Septuaginta

    Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru diambil dari Septuaginta Yunani�yang mencakup kitab-kitab deuterokanonika maupun apokrifa�baik deterokanonika maupun apokrifa secara kolektif disebut anagignoskomena. Beberapa kitab tampaknya telah ditulis naskah aslinya dalam Bahasa Ibrani, namun naskah asli tersebut sudah lama hilang. Namun temuan-temuan arkelogis pada abad terakhir telah menemukan sebuah naskah yang berisi hampir ? dari kitab Sirakh, dan fragmen-fragmen dari kitab-kitab lainnya telah ditemukan pula. Septuaginta secara luas diterima dan digunakan oleh orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi, bahkan di wilayah Romawi Provinsi Iudaea, dan oleh karena itu secara alami menjadi naskah yang paling luas digunakan oleh umat Kristiani purba.

    Dalam Perjanjian Baru, Ibrani 11:35 menyebutkan suatu kejadian yang hanya secara eksplisit tercatat dalam salah satu dari kitab-kitab deuterokanonika (2 Makabe 7). bahkan dapat dikatakan bahwa, 1 Korintus 15:29 diambil dari 2 Makabe 12: 44, "karena jika dia tidak mengharapkan orang-orang mati bangkit kembali, maka merupakan kesia-siaan dan kebodohan untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah mati". 1 Korintus 15:29 tentunya menunjukkan adanya jerih-payah untuk membantu orang-orang mati agar terbebas dari dosa-dosa mereka. (Pembaptisan juga bermakna jerih payah penyelamatan bagi orang lain dalam Perjanjian Baru, bdk. Matius 20:22-23, Markus 10:38-39 dan Lukas 12:50)

    Kendati demikian, Yosefus (sejarawan Yahudi) sepenuhnya menolak kitab-kitab deuterokanonika, sementara Athanasius yakin bahwa kitab-kitab tersebut berfaedah untuk dibacakan, namun kecuali Kitab Barukh dan Surat Yeremia, kitab-kitab tersebut tidak terdapat di dalam kanon.

    Pengaruh Vulgata

    Hieronimus dalam prolognya menyebutkan sebuah kanon yang tanpa kitab-kitab deuterokanonika, kecuali kitab Barukh. Sekalipun demikian, Vulgata Hieronimus memasukkan kitab-kitab deuterokanonika serta apokrif. Dia mengaanggap kitab-kitab tersebut sebagai Kitab Suci dan mengutip kalimat-kalimat dari kitab-kitab itu sekalipun dia menyebutkan bahwa kitab-kitab itu "tidak terdapat dalam kanon". Dalam prolognya untuk kitab Yudit, tanpa menggunakan kata kanon, dia menyebutkan bahwa Yudit dianggap sebagai Kitab Suci oleh Konsili Nicea Pertama. Dalam balasannya kepada Rufinus, dengan gigih dia membela bagian-bagian deuterokanonika dari kitab Daniel sekalipun orang-orang Yahudi pada zaman itu tidak melakukan hal itu:
    Dosa apakah yang telah kuperbuat jikalau aku mengikuti penilaian gereja-gereja? Namun barang siapa yang menuduh aku mengikuti keberatan-keberatan bahwa orang-orang Ibrani lazimnya menolak Riwayat Susana, Nyanyian Tiga Anak Suci, dan riwayat Baal dan Naga, yang tidak terdapat dalam gulungan kitab Ibrani, membuktikan bahwa dia hanyalah seorang penjilat yang dungu. Karena aku tidak mengikuti pandangan-pandangan pribadiku sendiri, melainkan keterangan-keterangan bahwa mereka [orang-orang Yahudi] lazimnya menentang kita. (Terhadap Rufinus, 11:33 402 Masehi]).
    Dengan demikian Hieronimus mengakui prinsip yang digunakan untuk menerapkan kanon �penilaian Gereja, bukannya penilaiannya sendiri atau pun penilaian orang-orang Yahudi.
    Vulgata juga penting sebagai tolok ukur kanon dalam hal kitab-kitab manakah yang kanonik. ketika Konsili Trente menyusun daftar kitab-kitab yang termasuk dalam kanon, konsili ini mengkualifikasikan kitab-kitab "seluruhnya beserta semua bagiannya, sebagaimana yang biasa dibacakan dalam Gereja Katolik, dan sebagaimana yang terdapat dalam edisi Vulgata Latin Kuno".



    Ortodoks Timur

     Gereja Ortodoks Timur secara tradisional memasukkan semua kitab dari Septuaginta ke dalam Perjanjian Lamanya. Perbedaan-perbedaan regional timbul karena adanya variasi-variasi yang berbeda dari Septuaginta, sehingga ada yang jumlah kitabnya lebih banyak dari pada yang lain.

    Orang Yunani menggunakan kata Anagignoskomena untuk menamakan kitab-kitab dari Septuaginta Yunani yang tidak terdapat dalam Tanakh Ibrani. Kitab-kitab tersebut mencakup seluruh kitab deuterokanonika Katolik Romawi di atas, plus naskah-naskah berikut ini:
    Seperti halnya kitab-kitab deuterokanonika Katolik, naskah-naskah tersebut diintegrasikan dengan keseluruhan Perjanjian lama, bukannya dicetak dalam bagian terpisah. Sebagian besar versi Alkitab Protestan meniadakan kitab-kitab tersebut. Umumnya diyakini bahwa Yudaisme secara resmi mengeluarkan kitab-kitab deuterokanonika dan naskah-naskah tambahan berbahasa Yunani yang ada dalam daftar di atas dari Kitab Suci mereka dalam Konsili Jamnia kira-kira tahun 100 Masehi, namun pernyataan ini juga masih dierdebatkan.

    Berbagai Gereja Ortodoks umumnya memasukkan naskah-naskah (yang aslinya terdapat dalam Bahasa Yunani) tersebut, dan beberapa di antaranya memasukkan Mazmur Salomo ke dalam Alkitabnya. Dalam Gereja-Gereja ini, kitab 4 Makabe kerap dimasukkan ke dalam suatu appendix, karena di dalamnya terkandung semacam tendensi ke arah faham pagan.

    Dalam Gereja Ortodoks Ethiopia, salah satu denominasi dalam Ortodoksi Oriental, terdapat pula tradisi yang kuat untuk mempelajari Kitab Henokh dan Kitab Yobel. Kitab Henokh disebut-sebut di Surat Yudas dalam Perjanjian Baru (Yudas 1:14-15).


    Perjanjian Baru

    Istilah deuterokanonika kadang-kadang digunakan untuk menyebut antilegomena yang kanonik, yakni kitab-kitab Perjanjian Baru yang, seperti kitab-kitab deuterokanonika Perjanjian lama, tidak diterima secara universal oleh Gereja purba, namun yang kini tercakup dalam ke-27 kitab Perjanjian Baru yang diakui oleh hampir semua umat Kristiani. Kitab-kitab deuterokanonika Perjanjian Baru adalah sebagai berikut:
    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Deuterokanonika

    Penjelasan lain dari : katolisitas.org sbb:

    Apakah Deuterokanonika tidak termasuk dalam Alkitab?

    Umat Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa kitab-kitab deuterokanonika disebut kitab-kitab Apokrif dan seharusnya tidak menjadi bagian dari Kitab Suci. Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dapat kita pegang:

    1. Sebaiknya tidak menggunakan istilah “Apokrif”
    Sebenarnya menurut St. Agustinus perkataan “Apokrif” atau apocrypha artinya adalah ‘tidak jelas asal usulnya’ yang berkonotasi dengan buku yang tidak diketahui pengarangnya atau buku yang keasliannya dipertanyakan. Namun secara umum, perkataan “apokrif” tadi diartikan sebagai sesuatu yang ‘tersembunyi, salah, buruk atau sesat’, sehingga sebaiknya kita tidak menggunakan kata “apokrif” karena artinya sama sekali bukan penghalusan kata “deuterokanonika”, tetapi malahan sebaliknya, sebab menganggap bahwa kitab- kitab ini tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus.
    Maka sebaiknya kita menggunakan saja kata “Deuterokanonika” yang terjemahan bebasnya adalah, “kanon yang kedua/ secondary”. Istilah ini dikenal pada abad ke-16, yaitu setelah Martin Luther dan para pengikutnya mulai membedakan antara ketujuh kitab dalam PL dengan kitab- kitab PL lainnya (yang mereka sebut sebagai proto-canon). Padahal, sudah sejak awal kitab- kitab Deuterokanonika termasuk dalam Septuagint, yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama yang ditulis di dalam bahasa Yunani, yang adalah Kitab Suci yang dipegang oleh Kristus dan para rasul.

    2. Tidak seharusnya kita mengikuti hasil Konsili Javneh/ Jamnia
    Setelah kehancuran Yerusalem di tahun 70, yaitu tepatnya tahun 90- an  para ahli kitab Yahudi mengadakan konsili Jamnia (Javneh) untuk meninjau kanon Kitab Suci mereka, sambil juga menolak keberadaan Injil yang tidak mereka pandang sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Allah, karena mereka menolak Kristus. Konsili ini akhirnya memutuskan untuk  tidak memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika di dalam Kitab agama Yahudi. Apa alasan persisnya kenapa disebut demikian memang tidak diketahui. Ada yang menyebutkan karena naskah asli dalam bahasa Ibraninya tidak diketemukan, namun yang ada hanya terjemahan bahasa Yunaninya, walaupun para Bapa Gereja pada jemaat Kristen awal tidak  meragukan keaslian kitab-kitab ini. Silakan membaca di link ini, silakan klik, untuk mengetahui bahwa para Bapa Gereja tidak pernah meragukan keotentikan kitab- kitab Deuterokanonika, dan bahkan mengutip ayat- ayat dalam Kitab tersebut dalam pengajaran mereka. [Para Bapa Gereja yang mengutip kitab- kitab Deuterokanonika dalam ajaran mereka, dan dengan demikian tidak meragukan keotentikan kitab tersebut, adalah: Para rasul dalam ajaran mereka Didache, Klemens, Polycarpus, Irenaeus, Hippolytus, Cyprian, Agustinus dan Jerome].

    Walaupun sekarang umat Yahudi umumnya menerima hasil konsili Jamnia (Javneh) namun harus diakui bahwa tidak semua komunitas Yahudi menerima otoritas konsili Jamnia ini. Umat Yahudi di Ethiopia, misalnya, memilih kanon yang sama dengan kanon PL yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, yang memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika (cf. Encyclopedia Judaica, vol. 6, p. 1147). Demikian pula sebenarnya, Gereja tidak perlu menerima otoritas konsili Jamnia, sebab: 1) Konsili agama Yahudi yang dilakukan setelah Kristus bangkit,  tidak mengikat umat Kristiani, sebab kuasa mengajar telah diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, dan bukan kepada pemimpin agama yahudi; 2) Konsili Jamnia menolak semua dokumen yang malah menjadi dasar sumber iman Kristiani, yaitu Injil dan kitab- kitab Perjanjian Baru. 3) Dengan menolak kitab- kitab Deuterokanonika ini, konsili Jamnia menolak kitab- kitab yang dipegang oleh Yesus dan para rasul, yang telah termasuk di dalam Kitab Suci mereka yaitu Septuaginta. Adalah fakta bahwa 2/3  kutipan  dalam kitab Perjanjian Baru sendiri diambil dari Septuagint dan bukan dari kitab berbahasa Ibrani.

    3.Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika
    Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika ini adalah:

    Tobit
    Yudit
    Tambahan kitab Ester
    Kebijaksanaan
    Sirakh
    Barukh, termasuk tambahan surat Yeremia
    Tambahan kitab Daniel
    1 Makabe
    2 Makabe
    Kitab-kitab tersebut sudah termasuk di dalam kanon Kitab Suci sesuai dengan yang ditetapkan oleh Paus Damasus I dalam sinode di Roma tahun 382 dan kemudian ditetapkan kembali pada Konsili Hippo (393) dan di Konsili Carthage (397). Jika kita membaca isi kitab Deuterokanonika tersebut tidak ada yang bertentangan dengan isi Alkitab yang lain, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita-kitab tersebut ‘buruk’. Kitab tersebut malah memperjelas apa yang disampaikan dalam kitab Perjanjian Lama yang lain. Contohnya saja, di tambahan kitab Esther, ada uraian tentang mimpi Mordekai, surat penetapan Haman, doa Mordekai dan doa Esther, yang jika dibaca dalam kesatuan dengan Kitab Esther dalam kanon terdahulu dapat menjelaskan isi Kitab Esther secara lebih lengkap dan membuat ceritanya ‘make sense’. (Misalnya, di kitab terdahulu hanya disebut ada surat Haman, tetapi isi persisnya tidak dijabarkan, sedangkan di kitab tambahan Esther isi surat itu dijabarkan).

    4. Mengapa Luther dan Calvin menolak Kitab- kitab Deuterokanonika
    Kemungkinan Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman (Sola Fide). Martin Luther juga menganggap beberapa kitab dalam Perjanjian Baru sebagai “kitab deuterokanonika”, seperti halnya surat rasul Yakobus – yang disebutnya sebagai “Epistle of straw/ surat jerami”,  kitab Wahyu, dan surat Ibrani, karena kitab itu secara implisit mengutip kitab 2 Makabe 7, yaitu Ibr 11:35. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa gereja Protestan mencoret Kitab Deuterokanonika karena ingin mengikuti hasil konsili Jamnia, agar lebih sesuai dengan kitab asli dalam bahasa Ibrani yang diterima oleh umat Yahudi. Namun seperti telah dijabarkan di atas, sesungguhnya umat Kristen tidak perlu mengikuti hasil Konsili Jamnia. Karena konsili itu menolak Kristus, menolak Injil dan Perjanjian Baru, bagaimana mungkin kita bisa mempercayai bahwa mereka mempunyai otoritas dari Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci?

    Walaupun Luther menolak kitab- kitab Deuterokanonika, namun setelah bertentangan sendiri dengan para tokoh Protestan lainnya, akhirnya Luther tetap memasukkan kitab- kitab tersebut dalam Kitab Perjanjian Baru. Luther dan para pengikutnya kemudian menyebut kitab- kitab Deuterokanonika sebagai kitab- kitab Apokrif (tidak diilhami Roh Kudus). Namun demikian, Luther tetap memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika tersebut di dalam terjamahan Kitab Suci yang disusunnya, sebagai tambahan/ appendix antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hal ini berlangsung terus sampai tahun 1827, saat  the British and Foreign Bible Society mencoret atau membuang kitab- kitab Deuterokanonika dari kitab suci mereka.

    Maka Kitab Suci versi Protestan yang ada sekarang, bukan saja tidak lengkap, jika dibandingkan dengan Kitab Suci dari Gereja Katolik, tetapi juga tidak lengkap jika dibandingkan dengan Kitab Suci yang umum  mereka pakai selama sekitar 300 tahun (dari abad ke 16 sampai ke 19). Dan bahwa kitab suci Protestan sekarang ini usianya baru sekitar 150 tahun, dan ditetapkan oleh manusia, dan bukan oleh Tradisi turun temurun dari para rasul dan para Bapa Gereja. Tak dapat dipungkiri bahwa Luther menentukan sendiri kitab- kitab yang dianggapnya ‘lebih penting’ dari kitab- kitab yang lain berdasarkan pemahaman pribadinya; dan inilah yang kemudian mempengaruhi pandangan para pengikutnya. Sedangkan Gereja Katolik dalam menentukan kanon, tidak berdasarkan pemahaman pribadi melainkan dari bukti tertulis dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang telah memasukkan kitab- kitab tersebut dalam tulisan mereka.

    Jadi yang benar adalah Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang dari sejak awal ditetapkan sudah demikian. Yang terjadi adalah pengurangan oleh pihak pendiri gereja Protestan, yang akhirnya diturunkan kepada generasi-generasi berikut dalam bermacam denominasi.

    Saturday, February 23, 2013

    Klarifikasi Berita-Berita HOAX Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI


    Di Facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya, bahkan lewat BBM dan SMS beredar berita bahwa Bapa Suci Benediktus mengundurkan diri karena telah meninggalkan Gereja Katolik dan keyakinannya sebagai penerus Kristus dan para rasul..

    Ini berita yang sangat lucu dan penuh kebohongan.. Hanya karena sebuah foto kunjungan Bapa Suci pada tahun 2006 yang melakukan kunjungan ke sebuah Mesjid di Turki, dikatakan bahwa Bapa Suci sedang melakukan ritual keagamaan lain.. Jelas terlihat bahwa di foto ini Bapa Suci hanya menundukkan kepala sedangkan orang-orang di belakangnya tidak melakukan hal serupa..

    Prihatinnya adalah banyak umat Katolik terprovokasi dan menjadi goncang imannya karena berita bohong ini..

    Bapa Suci Benediktus mengundurkan diri karena ALASAN KESEHATAN dan Beliau bukan Paus pertama yg mengundurkan diri.. Apakah hal ini aneh? TIDAK..

    For your info, Bapa Suci Beato Yohanes Paulus II juga digosipkan meninggalkan Gereja Katolik..

    Dimana-mana entah di Indonesia dan mancanegara, Gereja Katolik selalu menjadi pusat perhatian karena Gereja adalah institusi tertua di muka bumi ini yang telah bertahan selama 2000 tahun.. Gereja telah melewati banyak tantangan dan tetap bertahan karena apa?

    Janji Yesus sendiri "Di atas Batu Karang ini, Aku akan mendirikan jemaatKu dan ALAM MAUT TAKKAN MENGUASAINYA"

    Apakah Iblis menyukai kebenaran? Tidak! Sampai kapanpun ia akan terus menyerang kebenaran itu, dan mereka yg menyerang Gereja dengan berita-berita HOAX adalah rekan sekerja Iblis..

    Apakah anda mau setia pada Kristus dan GerejaNya?
    Tak pernah ada alasan utk meninggalkan Kristus dan Gereja Katolik..

    Saturday, February 16, 2013

    Mohon Doa! Krisis Iman di Eropa


    Krisis Iman Kristen di Eropa yang sejatinya adalah mayoritas negara-negara Kristen (historically) sudah semakin tampak. Identitas ke-Kristen-an mereka semakin pupus. Keterbukaan dan sikap toleransi orang-orang Eropa membuat mereka sedikit terlena, karena budaya dari luar yang masuk seiring bertambahnya imigran dari negara-negara Timur Tengah lebih dominan tampak di permukaan, sehingga budaya asli orang Eropa semakin tenggelam.

    Demikian juga dengan iman kristiani mereka juga mulai tergerus pupus dan bahkan mulai sirna. Banyak orang-orang Eropa sekarang tidak mengenal identitas asli mereka, gereja kosong melompong, mereka cenderung berduyun duyun murtad ke iman yang lain, dan meninggalkan iman Kristen mereka. Gereja-gereja banyak dijual, dijadikan kafe, hotel, supermarket, diskotik dan bahkan sekarang menjadi tempat ibadah imigran (masjid).

    Kejadian ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Dimana di wilayah itu, gereja dan iman kristiani berkembang cukup pesat. Lalu mengapa di Eropa sendiri yang mayoritas Kristen justru mengalami kemrosotan iman? 

    Satu penyebabnya adalah persentasi orang Eropa yang beragama Kristen turun drastis, dari 95 persen tahun 1910 menjadi 76 persen tahun 2010. Namun, di tempat lain persentasi ini menunjukkan kenaikan yang tajam. Selama abad ini, jumlah umat Kristiani di kawasan Asia-Pasifik tumbuh dari tiga persen menjadi tujuh persen. Peningkatan jumlah umat Kristiani malah lebih dramatis lagi di Benua Afrika. Satu abad lalu, sembilan persen orang di wilayah itu adalah umat Kristiani, saat ini jumlah tersebut meningkat menjadi 63 persen.

    Fenomena penurunan dan pertumbuhan tersebut terjadi di semua gereja, termasuk Katolik. Selama ini Gereja Katolik yang merupakan komunitas kristiani terbesar mengalami penurunan di Eropa, sedangkan di Afrika, Amerika dan Asia-Pasifik mengalami kenaikan drastis.

    Paus Benediktus telah menetapkan sinode para uskup pada Oktober mendatang tentang Evangelisasi Baru bagi Penyebaran Iman Kristiani.�  Asumsi penetapan sinode dan �Tahun Iman� adalah bahwa misi Gereja sedang goyah, dan memang sedang goyah jika titik acuannya adalah Eropa. Akan tetapi, Gereja bertumbuh dan berkembang pesat di luar benua itu. Kemungkinan suatu saat nanti bisa saja terjadi negara di Asia-Pasifik atau Afrika akan mengirimkan misionaris-misionaris mereka untuk menginjili Tanah Eropa.

    Sampai sedemikian ludeskah merosotnya budaya dan iman kristiani di Eropa? Kita harus ingat bahwa Tahta Suci Vatikan juga berada di Eropa. Apakah mungkin juga nasib Vatikan akan sama terjadi seperti itu? Kita yang masih punya iman kristiani sangat prihatin dan bimbang dengan hal ini. Kalau sampai hal ini terjadi dengan Tahta Suci Vatikan, apakah masih relevan kata kata Yesus : "Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Matius 16:18)

    Gagal melakukan itu, pada akhirnya Vatikan dan Katolik Eropa akan menjadi seperti kebanyakan gereja tua di Eropa, menjadi tempat tujuan bagi wisatawan Asia dan lainnya yang hidup kekristenannya tidak banyak bergantung pada Vatikan.

    Mari Kita renungkan dan doakan Vatikan agar tetap menjadi Tahta Suci, pusat pemerintahan dan kontrol kedamaian dunia. Mari kita berdoa untuk Eropa yang sedang mengalami krisis iman agar segera dipulihkan dan kembali mengirimkan misionaris-misionaris untuk negara lain. 

    "Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Matius 20:16)

    Pray and save for Vatican

    Thursday, February 14, 2013

    Apakah Paus adalah Antikris? Paus Melegalkan Homoseksual?

    Saya mendapat pesan yang isinya berbunyi seperti ini :

    Selamat sore, sy hanya ingin mengabarkan bahwa Solo ada gereja protestan GBI yg dalam kotbahnya menjelek2kan vatikan saya baca disms hp seorang teman, katanya dlm kotbah di GBI keluarga Allah menyatakan bahwa vatikan itu merupakan salah satu antikris, termasuk pausnya yg ktnya melegalkan homosexual. Apakah itu benar? Trm ksh atas pencerahannya.

    ======

    Berikut screenshot dari isi pesan tersebut (nama pengirim dihilangkan) :

     GBI Keluarga Allah Solo
    GBI Keluarga Allah Solo (Eksterior)
    GBI Keluarga Allah Solo (Interior)

    Terlepas dari isi pesan tersebut benar atau tidak, saya belum melakukan konfirmasi secara langsung pada GBI Keluarga Allah, tetapi saya berharap jika pesan tersebut tidaklah benar. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan supaya tidak ada salah pengertian.


    1. GBI keluarga Allah menyatakan bahwa vatikan itu merupakan salah satu antikris

    Ini adalah tuduhan yang tidak berdasar, karena definisi antikristus menurut Kitab Suci adalah mereka yang menentang Kristus/ Mesias:
    • �Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. �.. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.� (1 Yoh 2:18, 22)
    • ��dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.� (1 Yoh 4:3)
    • �Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.� (2 Yoh 1:7)
    Jika seseorang dengan jujur membaca teks ini, maka ia akan mengetahui bahwa Paus bukanlah antikristus, karena justru Paus tidak pernah menyangkal Kristus, tidak pernah tidak mengakui Kristus, tidak pernah tidak mengakui bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Malahan ajaran Paus sungguh berpusat pada Kristus dan bahwa Kristus telah menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria yang dipilih Allah untuk melahirkan Dia.

    Jadi tuduhan bahwa paus adalah antikristus sangatlah tidak Alkitabiah. Sebab Kitab Suci juga tidak pernah menuliskan demikian, ini hanya interpretasi pribadi orang yang menuduh.


    2. termasuk pausnya yg ktnya melegalkan homosexual

    Gereja Katolik sangat menentang perkawinan homoseksual. Tidak pernah sekalipun paus melegalkan perkawinan homoseksual apapun alasannya. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut:
    • KGK 2357    Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besarBdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa �perbuatan homoseksual itu tidak baik� (CDF, Perny. �Persona humana� 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.
    Gereja Katolik tidak menolak para gay dan lesbian, namun tidak membenarkan perbuatan mereka; melainkan mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan untuk menerapkan kemurnian/ chastity. Maka di sini perlu dibedakan akan perbuatan/ dosa homoseksual dan orangnya. Dosa/ praktek homoseksual perlu kita tolak karena merupakan dosa berat yang melanggar kemurnian, namun manusianya tetap harus dihormati dan dikasihi. Walaupun demikian, Gereja tetap memegang bahwa kecenderungan homoseksual adalah menyimpang.(berdasarkan Congregation for the Doctrine of Faith yang dikeluarkan tgl 3 Juni 2003 mengenai, Considerations regarding Proposals to give legal recognition to unions between Homosexual Persons, 4).

    In Spiritu Domini

    Monday, January 28, 2013

    Patutkah Perempuan Berdoa Kepada Allah dengan Kepala yang Tidak Bertudung?



    *Keterangan Gambar:
    Atlet ice skating dunia Korsel dan pemenang medali emas Olimpiade 2010, seorang puteri Gereja Katolik, Yuna Kim, sesaat setelah menerima Sakramen Pembaptisannya.

    Merupakan tradisi yang amat mulia, perempuan mengenakan penutup rambut seperti yang dilakukan Yuna Kim, pada saat perayaan misa Ekaristi walaupun kini tidak menjadi suatu kewajiban.

    Di Korea Selatan dan di beberapa negara dengan tradisi Katolik yang tua sampai pada masa kini, sebagian besar perempuan masih mengenakan mantila (kerudung, penutup kepala) saat menghadiri misa.
    =========

    Bersama mari kita baca ayat 1 Kor 11:13 dari rasul St Paulus kepada umat di Korintus dan kepada kita di bawah ini:

    "Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?" (1 Kor 11:13)
    =========

    Soal kerudung (veil) itu, aturan di Kitab Suci tidak semuanya berlaku untuk selamanya.

    Apa dasarnya umat Kristen tidak mematuhi petuah rasul agar wanita berkerudung saat berdoa di Gereja (1 Kor 11:4-16)?
    a. Gereja, punya kuasa mengikat dan melepas (Mat 16:19; 18:18).
    b. Gereja punya otoritas untuk membuat aturan yang tidak dibuat Yesus. Termasuk di dalamnya membuat dan menghapus larangan.

    Tentunya larangan yg tidak berkenaan dengan wahyu yang infallible (dogma, yang dijamin kebal-salah), Misalnya waktu puasa, jenis makanan yang dipantang, kalender liturgis, tata cara pemilihan Paus/Uskup etc.

    Termasuk di dalamnya adalah aturan oleh Roh Kudus sekalipun
    1. Dalam Kis 15:28-29 Roh Kudus memerintahkan agar umat Kristen tidak makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, tidak makan darah dan tidak makan makanan dari binatang yang mati dicekik.

    Tapi toh tidak ada umat Kristen sekarang yang mematuhi apalagi diajarkan larangan tersebut [kecuali sekte tertentu].

    Ini karena aturan yang dibuat Roh Kudus tersebut telah diubah oleh Gereja yang memang punya kuasa untuk mengubah aturan disiplin. Karena Gereja dalam kepemimpinannya juga disertai Roh yang sama. Gereja sendiri telah membuat banyak aturan demi kebaikan umat yang tidak dibuat Yesus.

    2. Misalnya membukukan Kitab Suci (Yesus tidak pernah memerintahkan untuk membuat Kitab Suci),

    3. Menghapus sunat (Yesus sendiri bersunat) dengan baptisan.

    4. Mengganti hari beribadah dari Sabtu menjadi Minggu (Yesus sendiri beribadah pada hari Sabbath alias Sabtu) dll.



    Thursday, December 6, 2012

    Darimanakah asalnya perayaan hari Natal?


    Memang ada beberapa teori tentang asal mula Natal dan Tahun Baru. Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam �Depositio Martyrum� dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Martyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. Menurut St. Yohanes Krisostomus, Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis, adalah imam agung yang memimpin ibadah pada hari Atonement yang jatuh pada tanggal 24 September (pada saat ia menerima kabar dari malaikat bahwa istrinya Elisabet akan mengandung). Yohanes Pembaptis lahir 9 bulan sesudahnya, yaitu tanggal 24 Juni; dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656).

    Dan banyak orang yang mempercayai bahwa kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian), karena pada tanggal tersebut, matahari mulai kembali ke utara. Dan pada tanggal yang sama kaum kafir /pagan berpesta �dies natalis Solis Invicti� (perayaan dewa Matahari). Pada tahun 274, kaisar Aurelian menyatakan bahwa dewa matahari sebagai pelindung kerajaan Roma, yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Hal ini juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Dan semua itu adalah masih merupakan spekulasi.

    Pertanyaannya, anggaplah bahwa data histori tersebut di atas adalah benar, dan pesta Natal diambil dari kebiasaan kaum kafir, apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan:
    1. Dari alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Essensi dari perayaan Natal ini adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi. Dan karena Yesus adalah terang dunia (Lih Yoh 8:12; Yoh 9:5), adalah sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, Yesus, Sang Terang Dunia. Dan karena Yesus adalah �awal dan akhir� dan datang �untuk membuat semuanya baru� (Wah 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun 1. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan dan sebaliknya Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.
      Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati sebagai hari Minggu. Di sini Gereja mengetahui secara persis,  bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib jatuh pada hari Jumat dan kebangkitannya adalah hari Minggu. Pada masa gereja awal, ada yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan harus hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja berkeras untuk mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam kasus perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus.
    2. Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya, mempunyai keinginan untuk menemukan penciptanya. Penyembahan kepada dewa matahari adalah merupakan perwujudan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia, dalam hal itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip �grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah� (lihat St. Thomas Aquinas, ST, I, Q.1, A.8.), maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini penyembahan terhadap dewa terang/matahari dialihkan penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang. Kalau kita perhatikan, tanggal 1 Mei adalah hari buruh sedunia (Labour day) yang disponsori kaum komunis, namun Gereja memperingatinya sebagai hari St. Yosep pekerja (ditetapkan oleh Paus Pius XII, tahun 1955). Gereja ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa St. Yosep seharusnya menjadi figur bagi para buruh, di mana dengan mencontoh figur St. Yosep, maka dunia dapat dibangun dengan lebih adil. Juga permulaan tahun baru, Gereja menjadikan hari tersebut perayaan �Maria, bunda Allah�.
    3. Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan angket di seluruh dunia, dengan pertanyaan �Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?� saya yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan �Natal, atau kelahiran Kristus� dan bukan merayakan dewa matahari.
    4. Untuk umat Katolik, dengan masa adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja justru menyuruh umat-Nya untuk berpartisipasi dalam persiapan Natal, yang jatuh tanggal 25 Desember.

    Sambutlah Allah yang telah menjelma menjadi manusia,
    Hosanna in Excelsis!

    Wednesday, December 5, 2012

    Bolehkah Umat Katolik Merayakan Natal pada Masa Adven?

    Siapkan jalan untuk kedatangan Tuhan
    Hari ini kita memasuki Masa Adven. Pada masa-masa Adven ini, banyak Gereja Kristen Protestan akan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Bagaimana sikap kita, orang Katolik, terhadap undangan dan ajakan untuk merayakan Pesta Natal pada masa Adven? Kita hendaknya mempunyai sikap tegas terhadap pesta Natal sebelum tanggal 25 Desember dengan mengatakan �tidak�. Kita hendaknya menghindari sikap kompromi dengan alasan demi persahabatan atau tidak ada kesempatan lagi merayakannya setelah tanggal 25 Desember karena banyak orang akan mengadakan liburan.
     
    Gereja Katolik melarang pesta Natal pada Masa Adven karena Masa Adven merupakan masa pertobatan, sebagai persiapan menyambut kedatangan Tuhan. Bertobat berarti kita meratakan hati kita yang lekuk-lekuk oleh rupa-rupa dosa, seperti kebencian, irihati, dan dendam dengan cara menerima Sakramen Pengampunan Dosa di lingkungan-lingkungan atau di gereja. Dalam Sakramen Tobat itu, kita tidak hanya menyesali dosa-dosa kita, tetapi kita juga membuka diri terhadap pimpinan Roh Kudus sehingga kita mau diubah untuk menjadi manusia baru. Terus menerus berusaha menjadi manusia baru merupakan persiapan yang pantas untuk menyambut kedatangan Sang Raja ke dalam jiwa dan hati kita. Karena itu, perayaan Natal yang sangat meriah dan hebat, tetapi tanpa pertobatan adalah tidak berarti dan kosong. Dengan kata lain, kehilangan adven berarti kehilangan Natal, karena kita kehilangan sukacita Natal yang sesungguhnya, yaitu Lahir Baru di dalam Tuhan.

    Supaya Natal sungguh bermakna, marilah kita menggunakan Masa Adven ini sebagai sebuah kesempatan yang indah untuk meluruskan hidup kita sebagai jalan untuk menyambut kedatangan Raja dari segala Raja. Yohanes Pembaptis mengulangi seruan Nabi Yesaya untuk menyongsong kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias : �... ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya� (Markus 1:3). Tuhan memberkati!


    Sumber : http://renunganpagi.blogspot.com/2011/12/bolehkah-kita-merayakan-natal-pada-masa.html

    Sunday, November 25, 2012

    Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam

    Tahun liturgi B akan diakhiri dengan Hari Raya Yesus Kristus Raja semesta alam, tgl 25 November ini dan dilanjutkan dengan Tahun Liturgi C, mulai Minggu Advent I tanggal 2 Desember nanti.

    Bacaan Injil: Yohanes 18, 33b - 37
    Dialog dalam pertemuan antara Yesus dan Pilatus dapat disebut sebagai sebuah dialog yang macet. Pertanyaan terakhir Pilatus � Apakah kebenaran itu ? �, tidak memperoleh jawaban dari Yesus. Namun semua apa yang terjadi setelah Pilatus cuci tangan dan menyerahkan Yesus untuk dihukum salib, tentunya menjawab dengan lebih berlimpah pertanyaannya itu. Sebagai gambaran situasi, saat itu Yesus berhadap-hadapan dengan Pilatus untuk diinterogasi di dalam gedung pengadilan yang disebut litostrotos, sedang di luar ada kerumunan besar orang banyak, yang kali ini berada di pihak sebagai musuh dan pendakwa Yesus. Tentu ada pembesar-pembesar romawi dan pasukan tentaranya sedangkan Yesus, seorang diri. Mari kita meditasikan dan refleksikan Kisah Injil pada hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini.


    Dialog dalam tiga tahap :
    Tahap pertama (ayat 33-35), interogasi mengenai istilah Raja orang Yahudi. Pertanyaan Pilatus kepada Yesus tampaknya menjadi sesuatu yang obsesif, mewakili gejolak pada dirinya sendiri. Perwakilan Kaisar itu � takut � pada orang Galilea, yang disebut sebagai raja orang Yahudi ini. Suatu kuasa yang cemas pada kuasa-kontra, yang bisa mengancam sewaktu-waktu dominasi Romawi di Palestina. Yesus mencoba menguji Pilatus yang memberikan pertanyaan sindiran � Engkau inikah raja orang Yahudi ?� dengan balik mempertanyakan apakah itu pengetahuan dan motif Pilatus sendiri tentang sebutan Raja orang Yahudi itu. Pilatus sebetulnya mengakui ketidaktahuannya, karena sebetulnya maknanya bisa berbeda antara apa yg dimaksud oleh Yesus dan apa yang dituduhkan oleh orang Yahudi. Kemungkinan besar istilah raja orang Yahudi atau raja Israel itu diambil Pilatus dari teriakan orang banyak saat Yesus masuk ke Yerusalem, ketika mereka bersorak-sorai menyambut Yesus : � Hosana, terpujilah Dia yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah dia Raja Israel, Putra Raja Daud � ; walau sekarang orang banyak yang sama itu pulalah yang ikut mengajukan Yesus ke pengadilan Pilatus. Maka di tahap pertama ini, Pilatus tidak mendapatkan jawaban dari Yesus dan juga tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus. Dan untuk melanjutkan penyelidikan ia bertanya � Apa yang telah Engkau buat, sehingga bangsa-Mu sendiri dan orang-orang Yahudi menyerahkan Engkau untuk kuadili?

    Tahap kedua (ayat 36), Yesus lalu menjelaskan sifat dan kodrat kerajaan-Nya. Kerajaan yang tidak bertentara, yang tidak punya kekuatan militer,  tidak berwilayah dan tidak berpemerintahan dan tidak berasal dari dunia ini atau tidak bersifat seperti kerajaan duniawi.

    Tahap ketiga (ayat 37, 38), karena Yesus menyebut �kerajaan-Ku�, maka Pilatus menyimpulkan dengan pertanyaan �jadi Engkau adalah Raja?� namun tidak lagi mengatakan Raja orang Yahudi. Dan Yesus menjawab untuk menegaskan bahwa Pilatus sebetulnya telah mengatakan Yesus adalah Raja dari hatinya sendiri: �Engkau mengatakan bahwa Akulah Raja�. Di sini Pilatus mengasumsikan tanggungjawab dari pengadilannya, sebagai penguasa romawi di sana, namun Yesus menjelaskan duduk-perkara alasan dan tujuan atau misi-Nya, mengapa dan untuk apa Ia datang membawa kerajaan-Nya itu. Yakni untuk bersaksi akan kebenaran dan membawa setiap orang dengan kuasa otoritas-Nya kepada kebenaran, hal yang sama sekali tidak mengancam eksistensi romawi. Dan dialog berakhir dengan pertanyaan Pilatus tentang apakah kebenaran itu, yang tak memperoleh jawab dari Yesus.

    Kerajaan Politis dan Kerajaan Spiritual
    Monolog singkat Yesus di ayat 36 atau di tahap 2 dialog menegaskan transisi antara dua elemen dialog. Pertama, yang berkaitan dengan konsep kerajaan yang lebih bersifat politis (ayat 33-35), di mana Yesus diajukan oleh bangsa Yahudi ke pengadilan dengan tuduhan mau menggalang kekuatan politis melawan penguasa Romawi saat itu dengan ungkapan, �Siapa mengaku dirinya raja, melawan Kaisar (ayat 12) atau �Kami tidak punya raja, selain Kaisar (ayat 15). Hal mana, jika benar berarti menjadi ancaman bagi rezim romawi saat itu.

    Kedua, yang sudah diberi tafsiran teologis yang lebih luas, yakni bahwa Pilatus, figure dari dunia pagan ini mendapat penjelasan cukup dari Yesus dan siap untuk mengakui pada diri Yesus, suatu kerajaan yang bersifat spiritual, melalui pewahyuan mengenai kebenaran. Dalam Injil Yohanes, kebenaran ini tak lain adalah pewahyuan rencana keselamatan Allah dalam diri Yesus sendiri. Kerajaan-Nya ini tidak memiliki nasionalisme atau ambisi duniawi, karena Ia memang bukan dari dunia ini dan ketika Ia mengumpulkan orang, mereka dipanggil tidak untuk menjadi tentara yang siap berperang mempertahankan kekuasaan atau kedudukan, namun menjadi murid-murid yang penuh perhatian pada suara Gurunya dan yang musti mengaku diri sebagai saksi-saksi kebenaran dan yang nantinya tak kenal lelah bersaksi tentang Dia. Bila kisah diteruskan, kita tahu bahwa setelah itu Pilatus hendak membebaskan Yesus karena memang tidak menemukan kesalahan apapun pada-Nya, dan lebih dari itu Yesus tidak membahayakan dirinya atau kekuasaan romawi.


    Rancangan Allah, bukan rancangan manusia.
    Kisah Kerajaan ini menjadi makin ironis ketika Pilatus tak mampu menolak keinginan orang banyak. Sebuah rencana akan berdirinya kerajaan yang bersifat universal dan abadi sebagai perwujudan kasih Allah pada bangsa-manusia dengan memberikan Putera-Nya yang tunggal dan terkasih, sepertinya dengan mudah menjadi layu sebelum berkembang, ketika Pilatus akhirnya memilih cuci tangan, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Namun cara inilah yang dipilih Allah, karena memang Allahlah yang tahu jalan-jalan terbaik untuk mengasihi manusia. Lewat jalan-jalan yang sulit dimengerti manusia itulah Ia menghadirkan Kerajaan-Nya. Ia mempersiapkan kerajaannya hanya dengan 3 tahun masa bakti-Nya di dunia. Ia memilih dan menempatkan orang-orang di kerajaannya, bukan dari kaum cerdik-pandai, namun dari golongan marginal yang polos  dan sederhana. Mahkotanya adalah rangkaian duri dan tahta-Nya adalah kayu salib. Namun kerajaannya itu, yang nota bene berdurasi sejak inkarnasi-Nya sampai parousia, memang tidak dari dunia ini, atau lebih tepatnya mengatasi dunia ini. Ia sendiri, merubuhkan kerajaan maut musuh abadinya,melalui sengsara dan wafat-Nya, membangun Kerajaan Barunya hanya dalam 3 hari lewat misteri kebangkitan-Nya. Dan melihat Dia berani mengaku diri sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup, Akulah Alfa dan Omega, maka kita memahami bahwa kerajaan-Nya itu bersifat dahulu, sekarang dan yang akan datang alias tanpa batas dan tanpa akhir alias mengatasi segala ruang dan waktu alam semesta ini.



    Apa yang bisa kita petik dari pemahaman akan Kerajaan Allah seperti ini?
    Pertama, ketika Yesus diakui sebagai Raja dengan ciri-ciri tadi, berarti Ia meraja tidak untuk menonjolkan kuasa-Nya, melainkan untuk memberi pada kita kebebasan atau kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Yesus memberi kebebasan kepada setiap orang dengan menawarkan jalan keselamatan dengan memberikan hukum kasih: Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dan Kasih sebagai jalan keselamatan itu diteladankan Allah dengan menyerahkan anak-Nya yang tunggal. Oleh karena tak seorangpun mampu menjalankan hukum kasih dengan sempurna, maka Allah, si pembuat hukum sendiri, yang menjelma menjadi manusia yang melaksanakan hukum itu secara paripurna untuk memungkinkan penebusan dosa dalam rencana keselamatan itu. Ya, itu karena hanya Allah sajalah yang dapat mengasihi,  mengampuni, menghapus dan menebus dosa manusia, secara penuh. Jadi Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk menerima pemberian kasih-Nya itu atau sebaliknya menolaknya.

    Kedua, untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya ini, yang diperlukan adalah pertobatan. Karena soal keselamatan adalah soal terbebasnya manusia dari belenggu dosa dan maut. Ketika Yohanes Pembaptis mengawali karyanya, ia berseru-seru, bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus juga mengundang kepada pertobatan, kepercayaan kepada Injil dan pemberian diri untuk dibaptis karena kerajaan Allah sudah dekat. Jadi untuk menyambut dan masuk ke Kerajaan Allah ini, orang lebih dahulu harus menjadi pantas dan layak, bersih dari dosa.

    Ketiga, kita dalam kerajaan ini, tidak perlu mengandalkan apapun selain kasih Allah. Karena ini adalah Kerajaan Allah, maka memang cara Allah yang musti dipakai. Ya, walaupun cara  Allah, yang meraja tanpa kuasa seperti ini, dapat menjadi skandal: baik dahulu maupun sekarang. Bagi orang Yahudi ini batu sandungan: sebab mesias haruslah jaya dan pemenang, pengusir penjajah romawi. Jadi mesias yang tak berdaya di kayu salib, jelas-jelas skandal yang naif dan tidak bisa diterima. Lalu bagi orang Yunani ini kebodohan : kebodohan salib. Orang pandai tak mungkin melakukan kegilaan seperti ini. Kerajaan tanpa tentara, tanpa senjata tanpa kuasa-kuasa yang membuat orang bergetar ketakutan, dapat saja dan umumnya diragukan. Namun bagi kita, yang percaya, ini adalah kebijaksanaan dari kehendak Allah. Mulai dari kesederhanaan dalam saat kelahiran-Nya di Betlehem, hidup dalam kemiskinan di Nazareth yang jauh dari gambaran jaya garis keturunan Daud, Bapa leluhurnya ; Raja yang � blusukan � tanpa batas dengan mereka yang lepra, yang kumuh, yang dihindari masyarakat ; Raja yang bergabung dengan para pendosa, yang berkelana dari desa ke desa ; Raja yang dengan tangan kosong berhadapan dengan para penangkapnya di taman zaitun dan sendirian di hadapan penguasa dunia saat itu dan puncak skandal Raja ini adalah ketakberdayaan dalam penyiksaan dan hukuman di kayu salib, lalu mati. Tak ada kuasa, tak ada wibawa, hanyalah kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkannya pada mereka yang mencerca, menghina dan memusuhinya, tatapan teduh pada setiap pengikutnya, hati yang berbelaskasih pada mereka yang lapar, dan pengampunan bagi para pendosa yang bertobat dan pada para pembunuh-Nya. Ia yang mahatinggi telah mengambil tempat terendah, menjadi hamba dari para hamba, mengambil ras dari bumi, ras insani. Menjadi Anak domba kelu yang digiring ke tempat pembantaian. Lahir dalam kerendahan dan mati dalam kehinaan.


    Pembalikan Radikal : Inti Iman Kita
    Sekali lagi melihat itu semua mustinya tak ada alasan apapun yang bisa mendukung kerajaannya akan bisa tumbuh dan berkembang. Waktu terlalu singkat, sarana-prasarana tak memadai, dan infrastruktur tidak jelas dan berantakan. Namun akan menjadi salahlah kalau kita hanya berhenti di situ, karena akan ada pembalikan total yang mengubah segala skandal dan batu sandungan itu, yakni kebangkitan-Nya. Pembalikan sempurna ini untuk membentuk keseluruhan ekstrim yang serba gelap dan tanpa nilai positif itu menjadi ekstrim gemilang dan terang-benderang. Lewat cahaya Paska, kebangkitan-Nya, kita dapat melihat bahwa apa yang dilakukan-Nya adalah suatu bentuk konsekuensi dan konsistensi total dengan seluruh sabda-Nya sendiri, karena Ia adalah pelaksana sempurna hukum yang dibuat-Nya sendiri. �Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka, hendaklah ia menjadi pelayan bagi semua; yang meninggikan diri akan direndahkan, yang terdepan akan menjadi yang terbelakang, barangsiapa ingin menjadi sempurna, hendaklah ia melepaskan segala miliknya, barangsiapa ingin menjadi pembesar ia harus menjadi seperti anak kecil, barangsiapa kehilangan nyawanya, akan mendapatkannya kembali. �

    Raja Semesta Alam
    Pembalikan total inilah yang menjadi inti iman kita dan setelahnya kita tahu bahwa Ia yang telah mengasihi tanpa batas dengan kasih agung pergurbanan diri, menjadi sahaya dari para sahaya inilah yang kemudian memiliki Nama, yang melebihi segala nama. Pada Dia yang dahulu menerima segala hojat dan hinaan serta fitnah keji inilah, yang kelak segala lutut akan bertekuk dan bersujud, serta segala lidah akan mengaku bahwa Ia adalah Tuhan dan Juru selamat. Dia yang mengawali kerajaan-Nya tanpa wilayah dan zero-modal ini ternyata adalah pemilik semesta alam, Raja segala raja. Berkuasa penuh atas segala milik-Nya, sehingga bisa berkata dosamu sudah diampuni, bangkitlah dan berjalanlah!, Hai anak muda bangkitlah!, hari ini juga engkau akan bersama-Ku di firdaus.. ; sebab sebagai penguasa semesta alam Ia tahu di mana Dia dahulu berada, kini berada dan akan berada; Ia tahu isi hati setiap manusia.

    �Layaklah Anak domba yang disembelih itu, menerima kuasa, kemuliaan, kebijaksanaan, kekuatan dan hormat. Bagi-Nya, yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kekuasaan sampai selama-lamanya. Amin.� (Wahyu 5, 12 dan 1,6).

    Sumber : http://m.kompasiana.com/post/filsafat/2012/11/24/hari-raya-yesus-kristus-raja-semesta-alam/

    Tags

    Berita (144) Gereja Katolik (129) Iman Katolik (76) Apologetik (71) Paus (44) Tradisi (41) Kitab Suci (30) Politik (29) Yesus (28) Magisterium (24) Doa (22) Katolik Timur (20) Kesaksian (19) Katekese Liturgi (18) Renungan (18) Maria (15) Tanya Jawab (13) Roh Kudus (10) Kamis Putih (9) Film (8) Karismatik (8) Prodiakon (8) Lektor (7) Natal (7) Petrus (7) Sakramen Ekaristi (7) Sakramen Perkawinan (7) Adven (6) Katekese Katolik (6) Lintas Agama (6) Pantang dan Puasa (6) Perayaan Ekaristi (6) Seputar Liturgi (6) Anglikan (5) Gua Maria (5) Hari Perayaan Santa Maria (5) Hari Raya / Solemnity (5) Ibadat Harian (5) Madah dan Lagu Liturgi (5) Masa Prapaskah (5) Piranti Liturgi (5) Berita Terkini (4) Doa Novena (4) Doa Rosario (4) Ibadat Peringatan Arwah (4) Inkulturasi Liturgi (4) Jumat Agung (4) Komuni Kudus (4) Minggu Palma (4) Musik liturgi (4) Rabu Abu (4) Sakramen Mahakudus (4) Surat Gembala Paus (4) Tri Hari Suci (4) Dirigen Paduan Suara (3) Doa Litani (3) Ibadat Rosario (3) Jalan Salib (3) K Evangelisasi Pribadi (3) Kisah Nyata (3) Lamentasi (3) Liturgi Anak (3) Malam Paskah (3) Mgr Antonius Subianto OSC (3) Misa Jumat Pertama (3) Misa Krisma (3) Misdinar (3) Ordo (3) Paduan Suara Gereja (3) Paus Fransiskus (3) Persatuan Gereja (3) Tahun Liturgi (3) Tata Gerak dalam Liturgi (3) Virus Covid-19 (3) Yohanes Paulus II (3) Analisis Tafsiran (2) Beato dan Santo (2) Berita Luar Negeri (2) Busana Liturgi (2) Doa Angelus (2) Doa Bapa Kami (2) Doa Dasar (2) Doa Persatuan (2) Doa Suami-Istri (2) Doa Utk Jemaat (2) Doa Utk Warga (2) Doa dan Ibadat (2) Dupa dalam Liturgi (2) Eksorsisme (2) Evangeliarium (2) Hati Kudus Yesus (2) Homili Ibadat Arwah (2) Ibadat Completorium (2) Ibadat Mitoni (2) Ibadat Syukur Midodareni (2) Mgr.Antonius Subianto OSC (2) Mujizat (2) Orang Kudus (2) Pekan Suci (2) Perarakan dalam Liturgi (2) Reformasi Gereja (2) Risalah Temu Prodiakon (2) Sharing Kitab Suci (2) Surat Gembala KWI (2) Surat Gembala Uskup (2) Tuguran Kamis Putih (2) Ada Harapan (1) Allah Pengharapan (1) Api Karunia Tuhan (1) Artikel Rohani (1) Baptis Darah (1) Baptis Rindu (1) Batak Toba (1) Berdoa Rosario (1) Bersaksi Palsu (1) Bhs Indonesia (1) Bhs Karo (1) Bulan Rosario (1) Bunda Maria (1) Carlo Acutis (1) Debat CP (1) Dei Verbum (1) Desa Velankanni (1) Diakon (1) Doa Bersalin (1) Doa Dlm Keberhasilan (1) Doa Dlm Kegembiraan (1) Doa Dlm Kesepian (1) Doa Katekumen (1) Doa Kebijaksanaan (1) Doa Kehendak Kuat (1) Doa Kekasih (1) Doa Kekudusan (1) Doa Kel Sdh Meninggal (1) Doa Keluarga Sakit (1) Doa Kerendahan Hati (1) Doa Kesabaran (1) Doa Keselamatan (1) Doa Ketaatan (1) Doa Ketabahan (1) Doa Orang Menderita (1) Doa Orang Sakit (1) Doa Pemb Pertemuan (1) Doa Penerangan RK (1) Doa Pengenalan (1) Doa Penutup Pertemuan (1) Doa Perjalanan (1) Doa Pertunangan (1) Doa Ratu Surga (1) Doa SeSdh Kelahiran (1) Doa Seblm Kelahiran (1) Doa Seblm Makan (1) Doa Semakin Dikenal (1) Doa Siap Mati (1) Doa Tanggung Jawab (1) Doa Ulang Tahun (1) Doa Untuk Anak (1) Doa Untuk Keluarga (1) Doa Utk Gereja (1) Doa Utk Masyarakat (1) Doa Utk Mempelai (1) Doa Utk Negara (1) Doa Utk Ortu (1) Doa Utk Pemuka (1) Doa Utk Penderita (1) Doa Utk Petugas (1) Doa Utk Rakyat (1) Doa Utk Tanah Air (1) Doa Utk Yg Membenci (1) Dogma (1) Doktrin (1) Dokumen Gereja (1) Dokumen Pernikahan (1) Dominicans (1) Dosa (1) Ekaristi Kudus (1) Enggan Beribadat (1) Epiphania (1) Film Terbesar (1) Firman Tuhan (1) Foto Kenangan (1) Generasi Muda (1) Gubernur Wasington (1) Haposan P Batubara (1) Hari Pesta / Feastum (1) Harus Bergerak (1) Hidup Kudus (1) Hidup Membiara (1) Homili Ibadat Syukur (1) Hukum Kanonik (1) Ibadat Jalan Salib (1) Ibadat Pelepasan Jenazah (1) Ibadat Pemakaman (1) Imam Jesuit (1) Investasi Surgawi (1) Jangan diam (1) Joko Widodo (1) Kalender Prapaska (1) Kebenaran KS (1) Keberadaan Allah (1) Kebohongan Pemimpin (1) Kejujuran (1) Kekuasaan Pelayanan (1) Kekudusan Degital (1) Kesehatan Tubuh (1) Komentar (1) Konsili Vat II (1) Konstantinovel (1) Kopi Asyik (1) Kristus Allah (1) Kualitas Hidup (1) Kumpulan cerita (1) Lawan Covid-9 (1) Lawan Terorisme (1) Lingkuangan Keluarga (1) Lingkup Jemaat (1) Lingkup Masyarakat (1) Liturgi Gereja (1) Luar Biasa (1) Lucu (1) Madu Asli (1) Mari Berbagi (1) Mateus 6 (1) Mayoritas Katolik (1) Menara Babel (1) Menghadapi Kematian (1) Menunggu Penyelamat (1) Mesin Waktu (1) Mgr A Subianto OSC (1) Misa Imlex (1) Misa Latin (1) Misa Online (1) Misionaris SCY (1) Mohon Bantuan (1) NKRI (1) Naskah WH (1) Oikoumene (1) Organis Gereja (1) PGI (1) Passion Of Christ (1) Pastoran (1) Penampakan Maria (1) Pendidikann Imam (1) Pengakuan Iman (1) Penghormatan Patung (1) Pentahbisan (1) Perbaikan (1) Perjamuan Kudus (1) Perkawinan Campur (1) Perkawinan Sesama Jenis (1) Persiapan Perkawinan (1) Pertemuan II App (1) Pertobatan (1) Pesan Natal (1) Pesan Romo (1) Pohon Cemara (1) R I P (1) Rasa Bersyukur (1) Rasul Degital (1) Rasul Medsos (1) Renungan Musim Natal (1) S3 Vatikan (1) SSCC Indonesia (1) Saksi Bohong (1) Salam Yosef (1) Saran Dibutuhkan (1) Sejarah (1) Selamat Paskah (1) Selingan (1) Sepuluh Perintah Allah (1) Sosialisasi APP (1) Spiritualitas (1) Sukarela (1) Surat bersama KWI-PGI (1) Surga (1) Survey (1) Survey KAJ (1) Tahun St Yosef (1) Teologi (1) Thema APP (1) Tim Liturgi (1) Tokoh Iman (1) Tokoh Internasional (1) Tokoh Masyarakat (1) Toleransi Agama (1) Tuhan Allah (1) Tujuan Hidup (1) Turut Berlangsungkawa (1) Usir Koruptor (1) Ust Pembohong (1) Video (1) Wejangan Paus (1) Yudas Iskariot (1) Ziarah (1)